Menanam Mudah, Merawatnya Ogah

0
290

Jumat 28 November 2008, ditetapkan sebagai “Hari Menanam Pohon Indonesia”. Konon ditargetkan akan menanam seratus juta pohon ditanam secara serentak di seluruh Indonesia. Bukan main, kalau ini benar-benar dilaksanakan di seluruh penjuru negeri, Indonesia ini akan hijau kembali. Kalau dilihat dari luar angkasa, bagai jamrud khatulistiwa.

Bahkan tak tanggung-tanggung, Pak SBY pun ikut melakukan penanaman. Berbagai instansipun tak ketinggalan, semua mencangkul, buat lubang dan menanam. Melibatkan semua lapisan masyarakat, tak ketinggalan anak-anak sekolah. Dan semua itu diekspose di media.

Aku inget sekali, waktu memberikan penyuluhan di sebuah sekolah di Ragunan, Pasar Minggu Jakarta Selatan. Waktu itu aku putar film tentang hutanku hilang 10 kali lapangan bola per menit, sebuah film penyuluhan yang dibuat oleh Inform. Dalam film itu digambarkan berbagai kerusakan hutan akibat dari berbagai kegiatan manusia. Terus ada anak sekolah dasar kelas 4, menanyakan sebuah pertanyaan yang lugu dalam usianya. “Kak, mengapa hutan kita semakin habis, bukannya pemerintah setiap tahun melakukan penghijauan, tentunya sudah banyak pohon yang ditanam ya kak”. Terus ada lagi pertanyaan yang tak kalah uniknya “Kak, kenapa pohon-pohon di hutan dicuri, bukannya pohonnya besar dan kelihatan kalau dicuri:”.

Dua pertanyaan itu sangat menggelitik bagi saya. Betapa tidak, kabar tentang penghijauan selalu dilakukan setiap tahunnya, ditayangkan di media cetak dan elektronik. Mungkin sudah berapa ratus juta yang ditanam, maka pertanyaan anak itu tak salah. Hanya ada sesuatu yang mengganjal dalam benaknya yaitu “mengapa”? Satu lagi tentang pencurian kayu di hutan. Mungkin dalam benak mereka kata mencuri itu tidak terlihat, ambil barang dimasukkan ke dalam saku lantas dibawa kabur. Nah, pohon yang segede itu bisa dicuri dan nggak ketahuan. Pasti dalam benak anak-anak es-de ini merasa janggal.

Itulah fenomena dalam kehidupan seputar lingkungan yang ada, rajin menanam hanya lupa untuk merawat. Dana yang dianggarkan untuk “Indonesia Menanam” mungkin besar juga, tetapi apakah dianggarkan untuk merawat? Kalau seandainya orang Indonesia hari itu turun dan ikut menanam, dan seorang menanam 2 pohon saja, sudah berapa ratus juta yang tertanam.

Kadang-kadang kita hanya berpikir menaman dengan tumbuhan asal ada, namun tidak melihat apakah tumbuhan itu akan hidup, apakah pohon yang ditanam itu brmanfaat untuk masyarakat, apakah tumbuhan yang ditanam itu ada hasilnya untuk masyarakat? Kalau toh ada manfaat, ada hasil, saya pikir pasti tumbuhan itu akan dirawat oleh masyarakat yang ada di sekitarnya.

Suatu kali ada sebuah diskusi yang menarik tentang penghijauan. Ada perusahaan besar penjual air mengatakan “kami sudah membantu sebuah istransi untuk melakukan penghijauan sebanyak 10 ribu pohon”. Mereka bangga, dapat berbuat. Cuman ada cletukan yang menggelitik. “Apakah pohon yang bapak sumbangkan dan ditanam dimonitor, dirawat”, tanya peserta diskusi. “Tidak”, jawabnya singkat. Lantas penanya tadi menyampaikan temuan di lapangan, bahwa bantuan pohon yang ditanam saat ini hangus terbakar, habis dan musnah.

Ada sebuah pengalaman kecil yang pernah dilakukan oleh sebuah el-es-em kecil juga untuk melakukan penghijauan. Kegiatan ini dilakukan bekerja sama dengan masyarakat. Mulai dari tumbuhan yang diperlukan semua pilhan mereka, penyiapan lahan, penyiapan bibit dan pelaksanaan semua dilakukan oleh komunitas masyarakat.

Pohon yang diperlukan rata-rata tumbuhan yang bermanfaat seperti buah-buahan yang ada hasilnya, di samping tumbuhan peneduh atau untuk bahan bangunan. Penyedia bibit adalah kelompok masyarakat desa. Mereka memulai mengumpulkan biji, menyemai hingga siap untuk ditanam. Dan penanam adalah komunitas masyarakat. Hal ini dimaksudkan agar tumbuhan yang ditanam, mendapatkan perawatan bagi masyarakat. Apalagi bibit yang disiapkan adalah dari mereka sendiri, mereka terlibat dan ada hasilnya saat bibit yang mereka siapkan dapat menguntungkan. Tak hanya mereka sebagai penonton, melihat ribuan bibit dari luar kampung mereka. Konon kegiatan itu cukup sukses dalam arti pohon yang ditanam, telah dirawat.

Mudah-mudahan “Hari Menanam Pohon Indonesia”, tidak seperti yang anak-anak bayangkan, menanam dan menanam, tapi hutan gundul juga. Tak hanya rajin menanam tapi juga perlu dirawat agar kelak bermanfaat.

TINGGALKAN KOMENTAR