Mendorong Program Ekowisata di Sulawesi Utara melalui “Workshop Penguatan Keanekaragaman Hayati Lautan melalui Dukungan Teknis dan Kebijakan untuk Ekowisata Berbasis Ekowisism Laut/Pesisir

0
237

we

 

 

 

 

 

Wilayah Sulawesi Utara memiliki ekosistem laut yang merupakan salah satu yang terkaya di wilayah Indonesia yang terdiri dari terumbu karang yang masih asli, yang didukung oleh lamun yang sehat dan ekosistem mangrove. Keanekaragaman hayati tersebut juga telah membuat daerah ini sebagai tujuan wisata dan rekreasi. Oleh karena itu penting untuk memastikan pengelolaan yang baik sumber daya laut. Namun demikian, keankeragaman hayati tersebut mendapat ancaman karena eksploitasi sumber daya kelautan yang berlebihan dan kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat dan pemangku kepentingan yang ada. Ancaman terhadap ekosistem laut tersebut perlu mendapat perhatian. Upaya untuk melestarikan keanekaragaman hayati laut telah dilaksanakan melalui pengembangan daerah perlindungan laut (DPL) di Sulawesi Utara, tetapi hanya sedikit DPL berlanjut dan dikelola oleh masyarakat setempat. Salah satu desa yang masih mempertahankan DPL adalah desa Bahoi di kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara.

Berbagai pihak, termasuk Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara atau Kabupaten Minahasa Utara memilki peran penting pada konservasi laut dan pengembangan pariwisata berkelanjutan. Hal ini penting dalam mengintegrasikan kebijakan di tingkat nasional dan daerah untuk mendukung pengelolaan keanekaragaman hayati laut di masa depan. Disisi lain, program tersebut dapat menunjukan manfaat langsung dari konservasi laut untuk masyarakat melalui ekowisata bahari. Pemerintah di tingkat provinsi atau kabupaten harus proaktif untuk membantu masyarakat setempat dalam rangka menerapkan manajemen yang lebih baik dari ekowisata. Untuk mendapatkan kesamaan cara pandang dan implementasi di lapangan dalam pengelolaan wilayah pesisir melalui kegiatan ekowisata telah dilakukan workshop dengan melibatkan pihak-pihak terkait. Workshop ini didukung oleh Environmental Technical Assitance and Information Exchange Facility (ENV-TAIEF)-Uni Eropa, Goodplanet, YAPEKA, PKSPL IPB, Mitra Bahari, DKP, Manengkel Solidaritas, Celebio.

Workshop dilakukan pada pertengahan Bulan Maret 2015 di Manado yang dihadiri oleh lebih dari 25 orang yang berasal dari Pemerintah, LSM, Masyarakat, Swasta, Universitas, serta Media. Workshop ini memiliki tujuan sebagai wahana untuk berbagi pengalaman Uni Eropa pada manajemen keanekaragaman hayati laut dengan fokus khusus pada dukungan kebijakan untuk ekowisata berbasis masyarakat; mengidentifikasi peluang untuk kolaborasi antara Pemerintah, LSM, Perguruan Tinggi, Sektor Swasta, dan Masyarakat; dan mendukung penentuan elemen kunci dari strategi untuk meningkatkan perlindungan keanekaragaman hayati laut sementara mendukung mata pencaharian lokal dan ekowisata.

Dalam worksop ini menghadirkan pakar ekowisata dan DPL dari Uni Eropa (Belanda dan Italia) untuk berbagi pengalaman mereka. Carlo Franzosini dari DPL Miramare berbagi pengalaman tentang pentingnya DPL dan bagaimana dukunngan pemerintah, masyarakat, serta penegakan hukumnya sehingga DPL dapat berkesinambungan ke depannya. Kemudian ahli dari peneliti Universitas Wageningen, Rene Henkens, memaparkan tentang pembelajaran ekowisata. Penting untuk dipahami terkait wisata bahwa wisata masal akan memberi pengaruh terhadap lingkungan. Oleh karena itu, ekowisata merupakan pilihan kegiatan wisata yang ramah terhadap lingkungan dan membawa dampak positif pada asyarakat sehingga pengelolaannya dapat berkelanjutan. Disisi lain, DKP Sulawsi Utara memaparkan tentang kegiatan yang salah satunya dilakukan untuk pengembangan wisata pesisir. Selanjutnya, YAPEKA & Mitra berbagi pengalaman tentang penguatan sumber daya kelautan di Sulawesi Utara melalui pengembangan dan perluasan DPL. Ekowisata terkait dengan DPL sehingga perlu dikoordinasikan oleh para pihak untuk pengembangan jangka panjang. Pada akhir kegiatan workshop tersebut dilakukan kunjungan lapangan dan berdiskusi dengan pemerintah desa serta pengelola ekowisata dan DPL di Bahoi. Pada kegiatan tersebut juga dihadiri oleh DKP Priovinsi yang memiliki program pengembangan pesisir juga di daerah tersebut sehingga dapat sejalan dengan perencanaan desa kedepannya. Selain itu, kedua pakar tersebut juga di undang di kampus Universitas Sam Ratulangi untuk berbagi pengalaman dengan civitas akademika Ilmu Kelautan dan Perikanan. Sambutan positif dalam acara tersebut serta adanya saling berbagi informasi dengan peserta dan narasumber.