KAP Survey dan Pemetaan Ekowisata di Rimbang Baling

0
581

Bentang alam Rimbang Baling yang memiliki luas sekitar 500.000 Ha merupakan kawasan penting bagi kehidupan Harimau Sumatera, beragam satwa liar, dan termasuk kawasan kehidupan manusia. Bentang alam ini mencakup beberapa kawasan konservasi yaitu Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling, Cagar Alam Bukit Bungkuk, dan Hutan Lindung Bukit Batabuh. Kawasan-kawasan tersebut memiliki fungsi penting bagi ekologi dan ekonomi. Secara ekologi, fungsi kawasan penting bagi kehidupan satwa liar dan berbagai jenis tumbuhan. Sedangkan secara ekonomi, sumber daya alam kawasan menjadi bagian dari mata pencaharian masyarakat demi keberlangsungan kehidupan mereka.

Namun, kawasan tersebut tidak terlepas dari ancaman. Sampai saat ini, pembukaan lahan perkebunan, perburuan satwa yang dilindungi, pemukiman ilegal, pertambangan, serta aktivitas yang merugikan lainnya masih terjadi di sekitar kawasan. Aktivitas tersebut menimbulkan penurunan kualitas ekologi sehingga habitat harimau serta mata pencaharian masyarakat menurun. Untuk membentengi kawasan dari ancaman-ancaman tersebut, diperlukan penguatan pengelolaan sumber daya alam kawasan yang melibatkan masyarakat sekitar kawasan dengan baik. Melalui Integrated Tiger Habitat Conservation Program (ITHCP):Communities for tiger recovery in Rimbang Baling: the Beating Heart of the Central Sumatran Tiger Landscape WWF bekerjasama dengan YAPEKA dan INDECON, dengan dukungan dari IUCN dan KFW untuk mengembangkan kemitraan strategis dan mensinergikan program dengan pihak terkait, termasuk Pemerintah (Pusat dan Daerah), Perusahaan (Swasta dan Negara), Akademisi, LSM, Masyarakat, serta pihak terkait lainnya.

Untuk membangun program tersebut, telah dilakukan survey mengenai gambaran pengetahuan, sikap, dan praktek masyarakat terhadap pengelolaan sumber daya alam dengan landasan KAP (knowledge, attitude, and practice) di beberapa lokasi. Pembekalan terhadap tim enumerator untuk penggalian informasi KAP dan perencanaan pemetaan ekowisata dilaksanakan di Sekretariat Desa Tanjung Belit, Kec. Kampar Kiri Hulu, Kampar pada tanggal 15 Januari 2016.  Selanjutnya peserta enumerator yang terdiri dari Tim Yapeka, WWF, serta tim pemetaan ekowisata dari Indecon melakukan simulasi pengambilan data KAP di Desa Tanjung Belit pada tanggal 16 Januari 2016. Setelah mendapatkan pembekalan, enumerator melakukan survey KAP dan pemetaan ekowisata di lokasi sasaran di 10 desa yaitu Desa Pangkalan Indarung, Kota Lama, Pangkalan Serei, Ludai, Tanjung Belit, Terusan, Batu Sanggan, Aur Kuning, Tanjung Beringin, Gajah Betalut pada tanggal 17-25 Januari 2016.