Pendampingan Masyarakat Desa Penyangga Bentang Alam Taman Nasional Way Kambas

0
550

Taman Nasional sebagai kawasan perlindungan hutan dan habitat satwa liar bersinggungan langsung dengan masyarakat desa yang tinggal disekitarnya. Untuk itu, diperlukan sosialisasi mengenai kawasan lindung dengan pendekatan kemasyarakat mengenai program Desa Konservasi yang merupakan salah satu kebijakan prioritas Departemen Kehutanan berupa  program pembangunan desa model di sekitar kawasan konservasi, dengan mempertimbangkan aspek sosial ekonomi budaya,kearifan lokal serta keberlanjutan kehidupan masyarakat jangka panjang dalam rangka mendukung kelestarian alam,hutan dan Taman Nasional itu sendiri.

Melalui program Penyelamatan Bentang Alam TNWK bagi Perlindungan Badak Sumatera TFCA (Tropical Forest Conservation Action). YABI WCS dan Yapeka melakukan pendampingan di 3 desa dari 36 desa yang bersinggungan langsung dengan TNWK,desa yang menjadi lokasi dampingan adalah desa Labuan Ratu 7 dan Labuan Ratu 9 yang terletak di kecamatan Labuan Ratu dan desa Braja Yekti kecamatan Braja Selebah. Program pendampingan yang dijalankan berkaitan dengan pengembangan ekonomi kreatif yang bisa dikembangkan oleh masyarakat desa penyangga sesuai dengan potensi lingkungan di sekitar desa penyangga.

Perkembangan dan Capaian Kelompok Wisata di Desa Labuhan Ratu 9, Labuhan Ratu 7 dan Braja Yekti pada tahun pertama.

Desa Nama Kelompok Kegiatan Perkembangan
Braja Yekti Pesona Yekti, dikukuhkan melalui SK Dinas Pariwisata Lampung Timur sebagai Kelompok Sadar Wisata. wisata desa, budaya dan alam Anggota 15 orang. Homestay ada 10 rumah dengan 13 kamar dan 2 orang pemandu.
Labuan Ratu 9 Siwo Indah Lestari, dikukuhkan melalui SK Dinas Pariwisata Lampung Timur sebagai Kelompok Sadar Wisata. wisata desa, budaya dan alam Anggota 19 orang. Homestay yang tersedia 8 rumah dengan 8 kamar, dan 2 orang pemandu.
Labuan Ratu 7I Gerbang Way Kambas, dikukuhkan melalui SK Dinas Pariwisata Lampung Timur sebagai Kelompok Sadar Wisata. wisata desa, budaya dan alam Anggota 12 orang. Homestay 1 rumah dengan 3 kamar, dan pemandu 1 orang.

web2

Pada tahun ke dua pendekatan pendampingan mulai berubah. Hampir semua anggota kelompok yang pernah mengikuti pelatihan teknis seperti pembuatan digester biogas, pupuk alami, pembuatan kompos, pemijahan ikan, membuat kerajinan dan kegiatan wisata, sudah memiliki kemampuan dan praktek langsung. Dalam bidang pertanian, banyak orang percaya bahwa kompos dan pupuk alami yang sudah bisa dibuat sendiri memiliki kualitas bagus dan mampu mendorong kesuburan tanaman dengan biaya yang murah.

Perkembangan dan Capaian Kelompok Pertanian di Desa Labuhan Ratu 9, Labuhan Ratu 7 dan Braja Yekti pada tahun kedua.

Desa Nama Kelompok Kegiatan Fasilitas yang berkembang
Braja Yekti Karya Mukti Pertanian sawah, pekarangan, hortikutura dan demplot biogas. Anggota 60 orang, membuat kompos, menanam kebun pekarangan menggunakan polibag dan memupuk sawah dan sayuran di kebun dengan menggunakan pupuk bio slurry.
Mentari Pertanian sawah, pekarangan, dan hortikutura. Anggota 25 orang, membuat kompos, menanam kebun pekarangan menggunakan polibag menggunakan pupuk bio slurry
Simpan pinjam
GAPOKTAN Mitra Tani II Gabungan kelompok tani yang dibentuk melalui SK Kepala Desa.
Simpan pinjam
Labuan Ratu 9 Sidomakmur 9 Menanam pekarangan tanaman holtikultur, dan demplot biogas Anggota 15 orang, membuat demplot sayuran dan menanam kebun pekarangan menggunakan polibag menggunakan pupuk bio slurry.
Sidomakmur 5 Menanam pekarangan tanaman holtikultur Anggota 24 orang, membuat demplot sayuran dan menanam kebun pekarangan menggunakan polibag menggunakan pupuk bio slurry.
Sidomakmur 1 Menanam pekarangan tanaman holtikultur Membuat demplot sayuran dan menanam kebun pekarangan menggunakan polibag menggunakan pupuk bio slurry.
KWT, (Kelompok Wanita Tani) Menanam pekarangan tanaman holtikultur, bersama kelompok Sidomakmur 9 Demplot sayuran dan menanam kebun pekarangan menggunakan polibag menggunakan pupuk bio slurry.
Gapoktan Sido Maju Gabungan kelompok tani yang dibentuk melalui SK Kepala Desa.
Labuan Ratu 7 Sinar Rahayu Lahan Pekarangan tanaman holtikutura Anggota 27 orang, membuat kompos, demplot biogas. Demplot sayuran dan menanam kebun pekarangan menggunakan polibag menggunakan pupuk bio slurry.
Plangkawati Petani sawah dan holtikultura. Anggota 10 orang, produksi kultur bio hayati

web

IMG_9652

Dalam kegiatan pendampingan pada kelompok khusus menggunakan pendekatan intervensi usaha kecil,tidak semua orang merasa nyaman dengan pendekatan usaha. karena kelompok yang mendapat pendampingan khusus ini masih cukup sensitif dalam menghimpun permodalan usaha, maka kelompok ini anggotanya tidak banyak. Ini hanya di desa Labuhan Ratu 7 dan Braja Yekti yang berhasil dibentuk untuk mengelola produksi pupuk hayati, kompos dan pemijahan ikan. Kelompok hingga saat ini telah memiliki aset, sarana produksi dan tata kelola produksi.

Perkembangan dan Capaian Kelompok Perikanan di Desa Labuhan Ratu 9, Labuhan Ratu 7 dan Braja Yekti

Desa Nama Kelompok Kegiatan Fasilitas yang berkembang
Braja Yekti Harapan Maju pembesaran lele, pembesaran gurame, pemijahan lele. Anggota 10 orang, membesarkan ikan lele dan gurame di kolam terpal dan kolam tanah. Memiliki kemampuan memijahkan lele tetapi tidak memiliki sarana pemijahan.
Labuan Ratu 9 Sumber Rejeki Pembesaran lele Anggota 10 orang, membesarkan lele di kolam terpal, kolam semen, dan kolam tanah.
Labuan Ratu 7 Sinar Tangkuban Perahu Pembesaran lele di kolam terpal dan kolam tanah Anggota 16 orang, telah berhasil beberapa kali panen.

Arah Pengembangan Masyarakat ke Depan

Dari pengalaman selama dua tahun pendampingan, saat ini sudah ada 4 kelompok yang sudah mulai berjalan dengan pola usaha. Kelompok yang ada di Labuhan Ratu 7 bukan berkembang dari kelompok yang sudah ada sebelumnya, tetapi kelompok baru yang anggotanya adalah petani sayuran yang selama ini sudah melakukan kegiatan secara sendiri-sendiri.

Harapan kedepan masyarakat dapat secara mandiri mengelola lahan yang ada dengan arif dan bijaksana tanpa harus menggantungkan kehidupan sehari-hari pada kawasan Taman Nasional. Masyarakat kawasan juga dituntut secara mandiri maupun kelompok untuk dapat mengembangkan hasil dampingan selama ini untuk diterapkan guna menunjang kehidupan sosial ekonomi mereka.