Pengumuman Penerima Hibah Siklus-3 TFCA

0
313

2 Pengumuman Siklus 3 TFCA-Sumatera

Melalui situs resmi TFCA-Sumatera di http://www.tfcasumatera.org/penerima_hibah/siklusketiga/ pada tanggal 8 Januari 2013 pihak TFCA-Sumatera telah mengumumkan 5 Konsorsium penerima hibah siklus ketiga TFCA (Tropical Forest Conservation Action)- Sumatera. Kelima konsorsium tersebut adalah : Konsorsium ALERT (Alert, UNILA, PKHS, Forum Desa Penyangga Way Kambas, BTNWK, Sajogyo Institute, SILVAGAMA, Saka Wana Bakti Way Kambas, SIES), Konsorsium YABI (YABI-YAPEKA-WCS), Konsorsium Kota Agung Utara (Pratala, Sangga Buana, KPHL Kota Agung Utara Tanggamus, Gapoktan), Konsorsium KoRoar Berbak (Gita Buana, ZSL, Walestra) dan Konsosrsium Ulayat (Ulayat, Yayasan Konservasi Sumatera.

Pengumuman dari pihak TFCA-Sumatera melalui situs resminya merupakan pertanda bahwa kelima konsorsium tersebut layak untuk menerima pendanaan kegiatan proposalnya dari TFCA-Sumatera. Tropical Forest Conservation Action for Sumatera (TFCA-Sumatera) atau disebut juga Aksi Nyata Konservasi Hutan Tropis Sumatera adalah sebuah skema pengalihan hutang untuk lingkungan yang dibuat oleh Pemerintah Amerika Serikat dan Pemerintah Indonesia yang ditujukan untuk melestarikan kawasan hutan tropis di Sumatera yang tingkat deforestasinya sangat tinggi. Kesepakatan antara kedua Negara dan para pihak yang terlibat (swap partners) yaitu Yayasan KEHATI dan Conservation International Indonesia ditandatangani pada tanggal 30 Juni 2009 di Manggala Wanabhakti, Jakarta.
Pemerintah Amerika Serikat (AS) sepakat untuk menghapus hutang luar negeri Indonesia, sebesar hampir 30 juta dolar AS selama 8 tahun. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menyalurkan dana pembayaran hutangnya bukan ke Pemerintah Amerika Serikat namun dialihkan untuk mendukung penyediaan dana hibah bagi perlindungan dan pebaikan hutan tropis Indonesia. Kesepakatan yang merupakan pengalihan hutang (debt-swap) ini terlaksana dengan melibatkan dua Lembaga Swadaya Masyarakat sebagai mitra pelaksana kegiatan (swap partner) yaitu Conservation International dan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) yang masing-masing berkontribusi sebesar 1 juta US$ sehingga program ini juga disebut subsidized debt-for-nature swap. Ini merupakan skema yang pertama kalinya dilakukan di Indonesia dan merupakan pengalihan hutang lingkungan dalam jumlah terbesar yang dibuat Amerika Serikat dengan negara-negara lainnya.
Skema ini dimungkinkan karena adanya kebijakan Undang-undang Konservasi Hutan Tropis (Tropical Forest Conservation Act-TFCA), yang telah disetujui oleh Kongres Amerika ditahun 1998 sebagai mekanisme untuk mengurangi hutang luar negeri bagi negara-negara yang memiliki kekayaan hutan tropis yang tinggi.

TINGGALKAN KOMENTAR