“WORKING PAPER” Program Pesisir di Sulawesi Utara

0
397

Tidak terasa, program “to Strengthen Marine Biodiversity in North Sulawesi (Bahoi, Talise, and Lihunu) by Enlarging and Creating Marine Protected Areas” yang berada di Sulawesi Utara telah berusia 1 tahun. Oleh karena itu, pada akhir kurun waktu satu tahun tersebut kami mengeluarkan laporan berupa kertas kerja “Working Paper” yang dapat diakses oleh pihak terkait. Program ini terselenggara berkat dukungan pendanaan dari GoodPlanet Foundation Paris yang dalam implementasinya dilakukan oleh YAPEKA-PKSPL IPB-CELEBIO hingga akhir 2014. Banyak capaian yang didapatkan dari program ini, baik dari aspek ekologi dan social ekonominya. Secara ekologis, kajian yang dilakukan di tiga desa sasaran yaitu Bahoi, Talise, dan Lihunu. Desa Bahoi dan Desa Lihunu menunjukkan kondisi lingkungan yang baik. Hal ini ditunjukkan dengan kondisi terumbu karang yang terbaik, dan ikan karang yang paling beragam, dan juga terjaganya padanglamun serta mangrovenya.

Kajian kondisi sosial ekonomi masyarakat di desa target menunjukkan bahwa matapencaharian terbesar dipengaruhi oleh kehidupan mereka di wilayah pesisir dan di dataran rendah. Di Desa Bahoi hampir seluruhnya bergantung pada laut, sementara masyarakat Talise dan Lihunu ini dibagi antara nelayan dan petani. Pengaruh matapencaharian tersebut berdampak pula pada metode pemanfaatan sumber daya laut di sekitar mereka, misalnya penggunaan alat pancing dan sebagainya. Demikian juga halnya musim yang ada di wilayah tersebut mempengaruhi kondisi social-ekonomi, sehingga terpetakan kapan saat masyarakat banyak melakukan aktifitas di laut dan kapan tidak. Pada Bulan Maret 2014, banyak nelayan pergi ke laut karena kondisi cuaca yang menguntungkan, sedangkan Bulan September 2014 menunjukkan bahwa tidak banyak nelayan pergi ke laut karena cuaca kurang menguntungkan. Kondisi ini membuat para nelayan melakukan aktifitas mencari ikannya didekat pantai untuk keselamatan mereka, atau beralih ke pertanian, seperti di Talise dan Lihunu.

Untuk lebih mengurangi tekanan terhadap sumber daya pesisir, masyarakat di desa-desa sasaran mulai dilatih memanfaatkan energy alternative yaitu menggunakan arang aktif yang terbuat dari batok kelapa sebagai energi terbarukan. Pelatihan telah dilakukan di Bahoi, Talise, dan Lihunu, dan diharapkan bahwa dengan menggunakan bahan baku ini dapat memudahkan masyarakat untuk mengakses energi alternatif ramah lingkungan untuk kebutuhan energy mereka sehari-hari.

Kajian berikutnya yang kami lakukan adalah penghitungan stok karbon di rumput laut dan ekosistem mangrove dihitung dan diperkirakan di Bahoi. Data menunjukkan hasil yang menjanjikan, seperti rumput laut diperkirakan dapat menyimpan karbon hingga 4,16 ton/ha dan 387,98 ton bakau/ha. Pada tahun berikutnya, kegiatan masih akan difokuskan untuk aspek ekologi dan social ekonominya dengan mendorong perluasan Daerah Perlindungan Laut di desa-desa tetangga serta kegiatan ekonomi ramah lingkungan berupa ekowisata. Untuk tahun depan, program tersebut diperkuat oleh lembaga yang berdomisili di Manado-Sulawesi Utara yaitu Manengkel Solidaritas sehingga konsorsium yang menjalankan program tersebut saat ini YAPEKA-PKSPL IPB-MANENGKEL SOLIDARITAS.

 

Untuk keterangan dan permintaan dokumen (dalam bahasa Inggris) tersebut dapat menghubungi :

  1. Akbar A. Digdo : digdo@gmail.com, akbar@yapeka.or.id
  2. Agustinus Wijayanto : gustvanjava@gmail.com, agus@yapeka.or.id
  3. Sonny Tasidjawa : s.tasidjawa@gmail.com