Mencari Jalan Tengah antara Konservasi dan Kepentingan Ekonomi bagi Masyarakat di Taman Nasional Way Kambas

By in
3529
Mencari Jalan Tengah antara Konservasi dan Kepentingan Ekonomi bagi Masyarakat di Taman Nasional Way Kambas

Perlunya mata pencaharian alternatif. Kepentingan masyarakat dan konservasi alam terkadang tidak bisa berjalan beriringan, terutama bila sudah berkaitan dengan aktivitas perekonomian masyarakatnya. Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, mereka sudah terbiasa dengan foraging yaitu mengambil dan mengumpulkan sumber daya alam dari hutan dan sekitarnya. Hal tersebut meliputi pengambilan kayu bakar, pembukaan lahan, perburuan satwa liar dan sebagainya. Akibatnya hutan seringkali mendapatkan tekanan karena pengambilan sumber daya alam yang rutin dari masyarakat sekitarnya, yang berimbas pada habitat flora dan fauna yang hidup di tempat tersebut.

Perilaku foraging dan pembukaan lahan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar hutan memang tidak menyalahkan aturan. Namun bila tempat pengambilan sumber daya alam tersebut adalah kawasan yang dilindungi, maka kepentingan konservasi dan masyarakat akan saling bertabrakan. Bila kasusnya seperti ini, kita tidak bisa, meskipun itu demi kepentingan baik konservasi dan perlindungan satwa, langsung menetapkan aturan larangan bagi masyarakat sekitarnya untuk melakukan pengambilan dari hutan. Bagi sebagian masyarakatnya, foraging sudah menjadi bagian kehidupan yang turun temurun dan mata pencaharian utama mereka. Sudah hampir dipastikan mereka akan menentang peraturan tersebut.

Kompensasi Berupa Mata Pencaharian Alternatif

Sebelum kita dapat melarang masyarakatnya untuk berhenti mengambil sumber daya alam di sekitar kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), perlu adanya alternatif lain ditawarkan sebagai mata pencaharian masyarakatnya. Ibarat sebuah kompensasi yang diberikan bila mereka sudah tidak bisa masuk ke kawasan konservasi serta dapat menjadi sesuatu yang berkelanjutan.

Hal tersebut telah diupayakan oleh Yayasan YAPEKA, yang bekerja sama dengan Tropical Forest Conservation Act Sumatera (TFCA Sumatera). Tim Yayasan YAPEKA menawarkan dengan membangun demonstrasi plot (demoplot) di desa-desa sekitar TNWK. Demoplot ini tidak hanya sebagai salah satu upaya mengurangi tekanan kepada kawasan TNWK, namun juga sebagai pengganti mata pencaharian masyarakat. Program ini dimulai sekitar tahun 2013 sampai dengan 2016, dan penilaian serta evaluasi (assessment) di tahun 2018.

Program ini melibatkan enam desa dampingan, diantaranya Desa Labuhan Ratu 7, Desa Labuhan Ratu 9, Desa Braja Yekti, Desa Labuhan Ratu 6, Desa Braja Luhur, dan Desa Sukorahayu. Ada tiga desa digunakan sebagai desa penyangga percontohan, dan tiga desa lainnya sebagai replikasi program. Jenis demoplotnya terbagi menjadi 4 jenis: (1) Demoplot Pertanian Alami dan Pemanfaatan Biogas; (2) Demplot Perikanan Alami; (3) Demoplot Kerajinan Tangan dan; (4) Demoplot Desa Wisata.

Masing-masing demoplot akan dijelaskan lebih lanjut di dalam artikel terpisah, serta bagaimana perkembangan dan hasilnya dalam lima tahun terakhir setelah program tersebut diinisasikan di masyarakat.

Translate »