Aplikasi Komposter Sampah Organik di Lingkungan Kantor

By in
2847
Aplikasi Komposter Sampah Organik di Lingkungan Kantor

Kawan, setiap harinya manusia rata-rata menghasilkan 2,5 liter sampah atau 0,8 kilogram sampah per harinya. Jumlah ini sudah termasuk sampah organik dan sampah anorganik, dan sebagian besar merupakan sampah bekas sisa-sisa makanan. Sisa-sisa makanan seperti tulang-belulang, kulit dan biji buah, ataupun potongan-potongan bagian sayuran yang tidak terpakai, berkontribusi terhadap berat sampah yang kita produksi setiap harinya.

Sampah organik dan anorganik pun kerap kali masih dicampur saat dibuang. Untuk mempermudah pengolahan sampah, seharusnya kedua jenis sampah tersebut dipisah. Beberapa sampah anorganik seperti plastik dapat dimanfaatkan kembali, seperti dicacah untuk dijadikan biji plastik. Hal tersebut tidak dapat dilakukan apabila sampah organik dan anorganik dicampur. Selain itu, pemisahan kedua jenis sampah tersebut dapat mengurangi bau tidak sedap yang dihasilkan dari sampah yang ditimbun.

Terkait dengan alasan tersebut diatas itulah, di kantor Perkumpulan YAPEKA mulai menerapkan pengelolaan sampah terpadu. Disini kami mencoba membuat pupuk cair yang dihasilkan dari mikroba-mikroba pengurai makanan. Bahan yang digunakan berupa sisa-sisa makan siang dikumpulkan dan ditimbun dengan pupuk kompos dan dibiarkan terdegradasi menjadi cair. Sisa-sisa makanan dan pupuk kompos kering dimasukkan ke dalam wadah komposter.

Percobaan pertama kali dilakukan dengan menggunakan drum besar sebagai wadah komposter. Drum dimodifikasi dengan melubangi bagian bawah dengan bor dan ditambahkan kran air ukuran 3/4. Tutup drum dilubangi dan dipasangkan pipa pralon modifikasi sebagai saluran udara. Metode yang ingin kami coba adalah proses penguraian aerob yang menggunakan udara. Kami pun mulai memasukkan sisa-sisa makanan dan ditimbun dengan pupuk kompos. Untuk mempercepat pembusukan dan degradasi, kami menambahkan cairan EM 4.

Komposter percobaan pertama (foto: dokumentasi Perkumpulan YAPEKA)

Hasil dari percobaan pertama ini bisa dibilang gagal. Hal ini dikarenakan lalat bertelur di dalam komposter sehingga dihinggapi oleh banyak belatung-belatung. Belatung membuat kondisi pembusukan menjadi kurang maksimal dan endapan sampah organik menjadi berbau tidak sedap. Penyebab masuknya lalat diketahui melalui lubang ventilasi yang tidak kami tutup dengan sekat, serta sampah yang dimasukkan bukan lagi sampah segar. Hal ini memberikan kesempatan bagi lalat untuk bertelur.

Belajar dari kegagalan, kami mencoba skala yang lebih kecil dan mengganti proses dari aerob menjadi anaerob. Ember bekas cat ukuran 10 liter kami gunakan, dengan modifikasi sama seperti sebelumnya (melubangi ember dan memasang kran air di bagian bawah). Sampah yang kami masukkan pun merupakan sampah segar hasil memasak makan siang langsung masukkan ke dalam komposter baru.

Percobaan kedua yaitu anaerob menggunakan ember bekas cat 25kg (foto: dokumentasi Perkumpulan YAPEKA)
Sampah organik bekas makan siang langsung dimasukkan ke dalam komposter untuk mencegah lalat bertelur dan menghasilkan larva (foto: dokumentasi Perkumpulan YAPEKA)
Sampah organik baru ditumpuk kembali dengan pupuk padat untuk mempercepat pembusukan (foto: dokumentasi Perkumpulan YAPEKA)

Sedangkan untuk memberikan penyadartahuan mengenai pemilahan sampah bagi para staf dan tamu, di kantor kami dipasang peringatan dan himbauan yang ditempel disekitar lingkungan kantor. Tempat sampah kami berikan kode warna dan keterangan yang sesuai.

Desain papan peringatan yang ditempel di Kantor Perkumpulan YAPEKA

Namun tidak hanya pengolahan sampah, kami juga berupaya mengurangi plastik dengan meminjamkan shopping bag saat kami berbelanja. Hal-hal sesederhana inilah yang memberikan kontribusi tidak sedikit dalam mengurangi sampah plastik.

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
Translate »