Aplikasi Perikanan Alami oleh Masyarakat di Sekitar Taman Nasional Way Kambas

By in
1848
Aplikasi Perikanan Alami oleh Masyarakat di Sekitar Taman Nasional Way Kambas

Perikanan alami merupakan model usaha di dalam beternak ikan menggunakan bahan-bahan alami. Perikanan alami tidak menggunakan penambahan bahan kimia seperti vitamin di dalam pakannya sehingga meminimalisir residu di dalam tubuh ikan. Sehingga ikan yang dihasilkan bisa lebih sehat,

Pengembangan perikanan alami harus disertakan oleh daya dukung (carrying capacity) yang memadai. Sunu (2011) mendefinisikan Carrying capacity sebagai gambaran dari kapasitas penyangga lingkungan, yaitu kemampuan ekosistem dalam mendukung kehidupan mikroorganisme dan organisme untuk mempertahankan produktivitasnya. Selain mendukung ekosistem ikan, ekosistem plankton harus didukung sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara alami di kolam ikan.

Perikanan alami merupakan salah satu pilihan ekonomi alternatif yang dapat dikenalkan bagi masyarakat yang tinggal di daerah sekitar kawasan taman nasional. Aplikasi perikanan alami dapat mengurangi tekanan pada hutan kawasan taman nasional serta menguntungkan masyarakatnya.

Berdasarkan hal tersebut, tercatat dari tahun 2013 sampai dengan 2016, tim Yayasan YAPEKA, bekerja sama dengan Tropical Forest Conservation Act Sumatera (TFCA Sumatera), melakukan inisiasi demonstrasi plot (demoplot) perikanan alami. Selain itu juga dilakukan pendampingan dan pelatihan bagaimana memanfaatkan pekarangannya sendiri untuk dijadikan kolam perikanan alami. Beberapa waktu lalu kami melakukan penilaian (assessment) akan perkembangan biogas yang ada di ke-enam desa tersebut setelah dua tahun program tersebut terakhir dilaksanakan untuk melihat sejauh mana manfaat yang sudah diterima oleh masyarakat.

Aktivitas Demplot Perikanan Alami Desa Labuan Ratu 7 dan 9

Masyarakat di Desa Labuan Ratu 7, pada awal pembuatan demplotnya digagas oleh 20 orang anggota kelompok, namun saat ini hanya ada 3 orang yang masih aktif dan masih memiliki kolam ikan. Kegiatan perikanan di Desa Labuan Ratu 7 cukup memberikan dampak bagi masyarakatnya untuk ikut melakukan usaha budidaya ikan. Jenis-jenis budidaya ikan tersebut antara lain ikan patin, lele, nila, dan gurami. Banyak masyarakatnya membudidaya ikan secara individu di luar keanggotaan kelompok.

Salah satu kolam perikanan alami yang dimiliki oleh salah seorang masyarakat di Desa Braja Yekti 9 (foto: dok Yayasan YAPEKA)

Sementara di Desa Labuan Ratu 9, aplikasi perikanan alami sudah tidak aktif lagi. Dikarenakan beberapa kendala yang dihadapi baik secara kelompok maupun individu. Meskipun tidak semua anggota tidak aktif. Masih ada masyarakat yang dulunya merupakan anggota kelompok sekarang melakukan usaha budidaya perikanan sendiri

Aktivitas Demplot Perikanan Alami Desa Braja Yekti
Saat ini kolam dikelola oleh para individu berskala kecil di Desa Braja Yekti (foto: dok Yayasan YAPEKA)

Kegiatan perikanan alami di Desa Braja Yekti saat ini sudah tidak lagi aktif secara kelompok, namun lebih secara individu berskala kecil. Kegiatan ini lebih didasari untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ketimbang untuk di jual. Tidak berlanjutnya kegiatan perikanan alami lebih disebabkan karena kesibukan masing-masing anggota kelompok sehingga tidak memiliki waktu untuk mengurus kolam perikanannya.

Pembelajaran yang Dapat Diambil

Ketidakaktifan kelompok masyarakat perikanan alami disebabkan oleh ketiadaan waktu untuk mengurus dan jaringan pasar yang memadai. Sebagai pengganti aktivitas ekonomi, tentu kompensasi yang diberikan harus lebih atau setidaknya sama dengan aktivitas utama. Terutama bila alternatif mata pencaharian tersebut hanya dikerjakan pada hari libur dan waktu senggang.

Selain itu, kendala pengembangan pertanian maupun perikanan alami salah satunya adalah tempat untuk menjual hasil panen ikannya. Jaringan pasar perlu dikembangkan melalui BUMDes (Badan Usaha Milik Desa), sehingga masyarakat memiliki tempat untuk menjual hasil-hasil panennya.

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
Translate »