Pentingnya Berbagi Pengalaman Penangkapan Gurita

By in
567
Pentingnya Berbagi Pengalaman Penangkapan Gurita

Masyarakat nelayan di Minahasa Utara sudah melakukan penangkapan gurita sejak tahun 1960. Bagi masyarakat nelayan Minahasa Utara, penangkapan gurita merupakan salah satu kegiatan mata pencaharian dan menjadi primadona bagi para nelayan yang melaut, selain karena harganya, demand (permintaan) akan gurita yang tinggi membuat banyak nelayan tidak mampu mengalihkan pandangannya dari spesies Chepalopoda tersebut. Namun penangkapan besar-besaran membuat hasil tangkapan menurun setiap tahunnya. Hal inilah yang banyak dikeluhkan para nelayan saat ini.

Mengenalkan Konsep Pengelolaan dan Penangkapan Gurita yang Sustainable

Berangkat dari cerita masyarakat nelayan, pada tanggal 26 April 2018 lalu kami mengadakan sesi diskusi dengan nelayan dari sekitar Desa Gangga Satu dengan tema Berbagi Pengalaman Pengelolaan Bersama Perikanan Gurita Berbasis Masyarakat. Di dalam diskusi ini, kami bekerjasama dengan kawan-kawan Blue Ventures dan Perkumpulan Sampiri dengan tujuan untuk membuka wawasan peserta pelatihan mengenai pengelolaan bersama perikanan gurita berbasis masyarakat di Likupang Barat dengan memberikan contoh kasus yang sudah ada di Sangihe serta simulasi dan bertukar pikiran (brainstorming) skenario atau pilihan pengelolaan perikanan yang bisa dikembangkan untuk perikanan gurita di Likupang Barat.

Pencatatan tangkapan gurita dimaksudkan untuk mendapatkan dan mengumpulkan data dan mengetahui struktur serta potensi perikanan gurita. Sementara daerah tutupan tangkapan dimaksudkan memberikan waktu dan masa jeda bagi gurita besar untuk berkembang biak dan gurita kecil tumbuh menjadi besar. Data-data tangkapan inilah yang menjadi acuan pertimbangan untuk menentukan waktu dan lokasi penutupan sementara.

Seorang kawan kami dari Blue Ventures, Lugas L. Hakim, mempresentasikan trend total tangkapan gurita (foto: dokumentasi Perkumpulan Yapeka)

Sebagai contoh, kawan-kawan dari Blue Ventures juga mempresentasikan data tangkapan selama satu tahun di Desa Wakatobi dimana desa tersebut menjadi salah satu percontohan sistim tangkap buka tutup sementara. Dengan menerapkan sistim buka tutup lokasi selama 3 bulan pertama, masyarakat nelayan Wakatobi merasakan dampak yang cukup signifikan dalam jumlah tangkapan gurita.

Permainan Simulasi Tangkap Gurita

Berbagi Pengalaman Penangkapan Gurita
Muhajir Mursida (Blue Ventures) dan Citra Septiani (Perkumpulan Yapeka), memberikan pengarahan permainan simulasi tangkap gurita (foto: dokumentasi Perkumpulan Yapeka)

Sebelum penutupan sementara dapat disepakati oleh masyarakat nelayan, pertama-tama mereka perlu memahami dasar dari penutupan sementara tersebut. Salah satu caranya adalah dengan melakukan permainan simulasi tangkap gurita. Di dalam permainan, di sebar gula-gula (permen) berbagai ukuran: gula-gula lolipop dianalogikan sebagai gurita besar, gula-gula bulat sebagai gurita sedang, dan kacang sebagai gurita kecil. Harga gurita besar dihargai seharga 40.000 rupiah, gurita sedang 20.000 rupiah, dan gurita kecil seharga 5.000 rupiah. Peserta menggunakan sumpit sebagai alat tangkap gula-gula (gurita) tersebut dengan waktu penangkapan hanya 10 detik per musim (klik disini untuk video).

Simulasi penjualan dan pencatatan hasil tangkapan gurita (foto: dokumentasi Perkumpulan Yapeka)

Model permainan dibagi menjadi dua: fase 1 penangkapan gurita tanpa sistim buka tutup; serta fase 2 dengan sistim buka tutup. Fase 1 jumlah gurita habis hanya dalam 3 musim saja dengan tangkapan per kilogram menurun. Simulasi fase 1 memberikan gambaran kepada para nelayan bahwa cara penangkapan seperti ini menyebabkan turunnya hasil tangkapan dengan cepat.

Zona buka tutup tangkapan. Di dalamnya, gurita tidak boleh ditangkap sampai jangka waktu musim tertentu (foto: dokumentasi Perkumpulan Yapeka)

Simulasi fase 2 kemudian dilakukan dengan menutup sementara sebagian lokasi tangkapan gurita nelayan. Di dalam fase 2 ini, gurita yang disebar disimulasikan tumbuh dan berkembang biak. Setelah 2-3 musim, tergantung kesepakatan kelompok, daerah yang ditutup dibuka dan bisa ditangkap kembali. Di akhir simulasi, fase 2 menunjukkan adanya peningkatan pendapatan secara ekonomi dibandingkan fase 1.

Setelah simulasi fase 1 dan 2, kami mengajak para nelayan berdiskusi bersama dan memberikan pendapatnya mengenai konsep buka tutup tangkapan.

Diskusi tentang perbedaan fase 1 dan fase 2 serta learning yang sudah didapatkan (foto: dokumentasi Perkumpulan Yapeka)

 

Kawan kami dari Perkumpulan Sampiri, Samsared Barahama, menjelaskan tentang beda fase 1 dan 2

Perbedaan Paham 

Meskipun konsep buka tutup wilayah tangkapan cukup menjanjikan, tidak semua nelayan memiliki pemahaman yang sama, terutama terkait penutupan sementara karena sangat mempengaruhi jumlah tangkapan gurita yang nantinya dijual kepada pengepul. Oleh karenanya, pemberian pemahaman masih perlu dilakukan agar para nelayan mendapatkan solusi jalan keluar yang terbaik.

Kegiatan diskusi ditutup dengan sesi foto bersama (foto: dokumentasi Perkumpulan Yapeka)
Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
Translate »