“BERBAGI RUANG MERAWAT KEHIDUPAN; Pameran Produk Desa Penyangga Taman Nasional Way Kambas, Labuhan Ratu VI-Lampung Timur”

By in , ,
1
“BERBAGI RUANG MERAWAT KEHIDUPAN; Pameran Produk Desa Penyangga Taman Nasional Way Kambas, Labuhan Ratu VI-Lampung Timur”

Manusia dan satwa bagian dari ekosistem yang saling mendukung dan tak terpisahkan. Keanekaragaman hayati dengan habitat padang savana diantara kanal yang berbatasan langsung dengan kebun masyarakat serta pemukiman warga menjadi daya tarik tersendiri di Taman Nasional Way Kambas (TNWK).

Kawasan konservasi seluas kurang lebih 125 ribu hektare yang dikelilingi 38 desa penyangga dengan satwa kunci yang khas di mata dunia itu, menjadikannya sebagai kawasan warisan ASEAN (ASEAN Heritage Park). Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis), Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus), Tapir (Tapirus indicus) dan Beruang Madu (Helarctos malayanus) menjadi kebanggan masyarakat Propinsi Lampung. Tak hanya itu, masyarakat desa penyangga pun mewarnai ruang kehidupan dengan berbagai aktivitas dan juga usaha ekonominya bersamaan dengan kehadiran gajah liar yang terkadang keluar dari kawasan ke pemukiman atau kebun warga serta kejadian kebakaran lahan hutan.

Keseharian warga desa pinggir hutan TNWK mengembangkan ketahanan pangan dengan bertani singkong sebagai komoditi terbesar di Lampung TimurLampung Tengah, mengolah produk pangan dengan nasi thiwulnya perlu mendaptakan apresiasi tersendiri. Berbagai olahan bahan pangan lokal yang dikemas siap saji, hasil budidaya madu hutan dengan variannya, produk kerajinan tali/anyaman tangan bertemakan satwa dilindungi hingga berbagi selera pemesanan pun ada disana. Jelajah wisata dengan berbagai paketnya, homestay masyarakat dengan beraneka pilihan dan kelebihananya, semua itu melengkapi lanskap Way Kambas yang tidak kita dapatkan di tempat lainnya.

Gambar 1. Kunjungan Bpk. Amri (PLT Kepala TN. Way Kambas) ke salah satu stan produk masyarakat desa penyangga.


Tak heran, pengelola Way Kambas dan para mitra pendamping bersama-sama dengan desa mengembangkan potensi pemanafaatan baik yang ada di sekitar kawasan maupun di sekitar desa. Dari mulai paket ekowisata dengan pengamatan burung, susur sungai atau kanal dengan mendekatkan diri dengan satwa yang hanya dijumpai di hutan Way Kambas, mengenal gajah patroli, konservasi Badak Sumatra, monitoring Harimau Sumatra dan aktivitas perlindungan  serta pelestarian lainnya. Pengembangan potensi ekonomi dari budidaya lebah, pertanian organik, budidaya anggrek hutan, olahan bahan pangan lokal dari thiwul, nasi jagung dan olahan aneka kripik. Produk kerajinan dari rajutan, anyaman hingga olahan limbah yang punya nilai jual dan pengembangan produk atau usaha hijau lainnya. 

Wujud berbagi ruang dengan satwa dari sisi pemanfaaatan dan pelestarian itulah yang menjadi keseharian masyarakat desa penyangga untuk bersama-sama menjadi desa siaga dan tanggap akan ruang hidupnya. Jika ada kawanan gajah Liar yang keluar dari kawasan Way Kambas pun warga bersama satuan tugasnya di desa masing-masing  juga petugas dengan pasukan gajah patroli (Elephant rescue Unit/ERU) telah membuat simpul komunikasi untuk berjaga dan menghalau gajah-gajah liar tersebut. Bukan hanya konflik satwa, pemadaman api saat kebakaran lahan hutan pun tak luput dari kerjasama yang baik antara desa, mitra dengan petugas taman nasional. 

Kebanggan akan adanya Way Kambas dan kelestarian kehidupan didalamya mungkin belumlah ideal, hanya saja inisiasi dan ruang bersama sudah terjalin sejak lama dan terus diciptakan. Mari dukung kelestarian Way Kambas dengan ‘Berbagi Ruang, Hidup Berdamping, Merawat Kehidupan’masyarakat desa penyangga Way Kambas. Rabu, 23 Desember 2020 Kegiatan, Pameran Virtual Produk Masyarakat Desa Penyangga, pada hari live di Fecebook dan Youtube chanel.

Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Balai Taman Nasional Way Kambas (BTNWK),Pemerintah Daerah Propinsi Lampung dan Kabupaten, Mitra TNWK (WCS, UNILA, PILI, Alert, Yapeka, Penabulu,TFCA Sumatra, Himpasad,PKHS), SGP Indonesia, Pundi Sumatera,serta Forum  Rembug Desa Penyangga (FRDP) dan juga pemerintah desa penyangga di Kabupaten Lampung Timur serta Lampung Tengah. Tak lupa, harapan besar kita semua untuk terus menjalin kerjasama kuat dengan komunitas masyarakat desa penyangga dalam mengembangkan produk budidaya, olahan dan kerajinan demi masa depan Taman Nasional Way Kambas di masa mendatang..!!

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
54321
(0 votes. Average 0 of 5)
Translate »