Melirik Budidaya Sagu di Kepulauan Sangihe

By in
519
Melirik Budidaya Sagu di Kepulauan Sangihe

Kita semua tentu mengenal yang namanya Nasi. Nasi (atau Beras, sebelum dimasak) saat ini sudah menjadi makanan pokok sehari-hari masyarakat Indonesia. Namun, bagi sebagian masyarakat di belahan bumi timur Indonesia, mereka kurang mengenal nasi. Kondisi bentang lahan yang tidak memungkinkan masyarakat Indonesia Timur menanam padi, khususnya mereka yang tinggal di daerah sekitar Maluku dan Papua. Oleh karenanya mereka memanfaatkan Sagu sebagai alternatif sumber karbohidrat.

Tepung sagu awal mulanya diperoleh dari teras batang rumbia. Pohon Sagu lebih banyak tumbuh secara alami di daerah Maluku, Papua dan sekitarnya serta mudah diperoleh. Setelah menjadi tepung kemudian diolah menjadi berbagai macam makanan. Papeda atau bubur sagu paling sering dikonsumsi dan disajikan dengan ikan tongkol atau mubara yang dibumbui kunyit.

Pohon Sagu
Pohon sagu atau dalam bahasa latinnya, Metroxylon sp. (foto: Google)

Sagu tidak hanya memiliki fungsi pangan namun juga nilai jual. Melihat potensi tersebut, hal ini dimanfaatkan oleh sebuah komunitas petani di Sangihe yang bernama APO Komasa (Asosiasi Petani Organik Komunitas Masyarakat Sangihe) berusaha mengolah Sagu menjadi aneka variasi makanan yang dapat dijual.

Mengolah bahan dasar sagu menjadi aneka makanan

Asosiasi Petani Organik Komunitas Masyarakat Sangihe atau lebih dikenal dengan APO Komasa merupakan komunitas petani organik yang dibentuk berdasarkan kesepakatan dan pendampingan program Konsorsium Nusa Utara. APO Komasa bertujuan untuk mewadahi masyarakat dan petani yang memiliki ketertarikan dan keterampilan dalam pengolahan tanaman-tanaman organik.

mie sagu
Sagu yang telah diolah jadi mie (foto: dokumentasi Perkumpulan Yapeka)

Agar menarik, sagu diolah menjadi beberapa jenis makanan. Contoh makanan  yang dibuat dan diproduksi oleh APO Komasa antara lain: Mie, Makaroni, Kue Biji-biji, Kue Kering Sagu dan sebagainya. Selain dijual kepada umum, APO Komasa melalui Koperasi MASENTRA bekerjasama dengan hotel-hotel yang ada di Tahuna untuk menitipkan penjualannya. Saat ini ada dua hotel di Tahuna yang menerima dan menjual hasil olahan sagu.

Sertifikasi Organik dan Penguatan APO Komasa

Meskipun demikian, ada beberapa kendala yang dialami petani Sangihe dalam menjual bahan dan produk Sagu. Salah satunya adalah para petani organik di Sangihe belum mendapatkan sertifikasi organik yang wajib dimiliki sebelum dapat menjual hasil olahannya, khususnya untuk dijual di tempat-tempat wisata dan perhotelan. Sertifikasi Organik merupakan sarana untuk memberikan jaminan bahwa produk organik sudah memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh Lembaga Sertifikasi Organik (LSO). Sehingga saat ini penjualan hanya hasil olahan sagu hanya diperjualbelikan di kalangan petani dan masyarakat sekitarnya.

sertifikasi tanaman organik
Sesi sosialisasi sertifikasi tanaman organik (foto: dokumentasi Perkumpulan Yapeka)

Melalui payung kegiatan “Pemanfaatan Sumber Daya Hayati di Kepulauan Terkecil Terluar dengan Pengembangan Desa-Desa Lestari Melalui Program Ekowisata dan Pertanian Organik” yang diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Perkumpulan Yapeka serta bekerjasama dengan Kelompok Sampiri selama dua tahun terhitung 2015-2017, para petani organik Sangihe diberikan bimbingan pelatihan-pelatihan mengenai pengetahuan pertanian organik dan sertifikasi petani organik.

Tidak hanya pelatihan, para petani pun juga dibekali dan difasilitasi oleh beberapa alat-alat pertanian penunjang produksi tanaman organik khususnya dalam pengolahan tanaman pala seperti: rumah pengasapan, pembuatan alat pendeteksi alfatoksin, dan sebagainya. Kegiatan pelatihan ini kedepannya diharapkan dapat membantu para petani organik dalam mengembangkan hasil usahanya.

Translate »