Eco Fashion: Sebuah Perlawanan Terhadap Fashion Konvensional

By in
667
Eco Fashion: Sebuah Perlawanan Terhadap Fashion Konvensional

Pernahkah mendengar tentang Eco Fashion? Eco Fashion atau juga disebut Sustainable Fashion merupakan bagian dari desain filosofi yang berkembang dengan tujuan menciptakan sistem yang mampu mensupport dan menyanggah dampak manusia terhadap lingkungan. Bila ditelisik lebih dalam lagi, Eco Fashion memfokuskan tidak hanya pada aspek bahan yang dipakai serta lingkungan yang terkena dampaknya, namun juga kesehatan pemakai dan daya tahan dari pakaiannya. Contohnya penggunaan bahan-bahan alami bebas pestisida, penggunaan bahan yang recycleable, pakaian yang dibuat untuk bertahan lebih lama dan tidak gampang rusak, bahkan sampai jaminan kesejahteraan bagi para pekerjanya.

Eco Fashion merupakan perlawanan dan tren alternatif terhadap fast fashion. Baju-baju fashion konvensional memerlukan banyak sekali sumberdaya serta menghasilkan limbah berbahaya bagi lingkungan Tren eco fashion saat ini bisa dibilang fluktuatif atau naik turun dalam kurun waktu beberapa dekade ini.

Diawali oleh Perang

Bila ditelisik lebih dalam, istilah eco-fashion bermula di tahun 1940an pada era zaman Perang Dunia II, dimana kelangkaan sumberdaya yang ekstrim memaksa masyarakat korban perang memanfaatkan bahan-bahan daur ulang untuk membuat pakaian untuk kesehariannya.

Masuk era tahun 70an, beberapa persoalan yang menyangkut kesejahteraan para pekerja mencuat ke permukaan. Seperti penggunaan pekerja anak, masalah volume besar limbah tekstil, serta upah minim dan lingkungan kerja yang buruk. Persoalan-persoalan ini membuat banyak pemilik merek mulai berbenah-benah. Pabrik pakaian “ramah lingkungan” mulai digembar-gemborkan sebagai salah satu kampanye marketing untuk menarik perhatian audiens. Implementasi eco fashion pun mulai dipertimbangkan.

Memasuki era tahun 80an. Istilah Sustainable Fashion kembali muncul. Diprakarsai oleh merek terkenal ESPIRIT dan Patagonia, dimana mereka memasukkan istilah “sustainability” ke dalam bisnis mereka. Di kala itu di negara Amerika Serikat, rata-rata orang membuang baju bekas setara dengan 30 kilogram beratnya. Ini mendapat kritik dari pengamat lingkungan dan menempatkan fashion sebagai penyumbang kedua terbesar polusi di dunia.

Masuk era tahun 2000an dan 2010an, para penggiat lingkungan mulai menggemakan kembali sustainability di dalam tren fashion melalui media-media sosial. Salah satunya melalui gerakan hashtag #zerowaste yang juga menggalakan penggunaan baju yang ramah lingkungan dari segi bahan dan pembuatannya.

Keuntungan Pakaian Eco Fashion

Baju yang didasarkan pada tren ini memiliki keuntungan berkelanjutan bagi lingkungan sekitarnya. Keuntungan-keuntungan tersebut antara lain: (1) Mengurangi kerusakan lingkungan karena menggunakan bahan tanpa pestisida; (2) Beberapa pakaian menggunakan tekstil dan plastik yang sudah didaur ulang; (3) Pakaian yang sustainable fashion sangat kuat dan tahan lama serta berkualitas tinggi, sehingga kedepannya mengurangi kebutuhan orang membeli baju.

Masa Depan Eco Fashion

Meskipun sulit untuk diprediksi mengenai perkembangan akan tren eco fashion di masa mendatang. Namun tren eco fashion ini akan selalu ada seiring dengan terpaan media dan kesadaran pembeli pakaian akan lingkungan meningkat. Ditambah lagi usaha-usaha penggiat dan organisasi lingkungan seperti Greenpeace akan terus mem-’push’ pabrikan baju untuk mempertimbangkan lingkungan di dalam bisnisnya. Selain itu, pengukuran keputusan, aksesibilitas, persepsi akan desain yang berkelanjutan akan terus berkembang. Ini memaksa pemilik bisnis untuk mempertimbangkan memasukkan unsur sustainable ke dalam produk mereka.

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
54321
(0 votes. Average 0 of 5)
Translate »