Pengembangan Ekowisata Rendah Emisi di Desa Padak Guar

By in
1202
Pengembangan Ekowisata Rendah Emisi di Desa Padak Guar

Desa Padak Guar sebenarnya sudah dikenal oleh para wisatawan lokal maupun mancanegara sejak tahun 2010. Ada tiga pulau kecil (gili) yang sudah dikenal luas, diantaranya Gili Lampu (Petagan), Gili Bidara, dan Gili Kondo.

Potensi yang dimiliki oleh Desa Padak Guar berdasarkan feasibility study (studi kelayakan) adalah pengembangan pariwisata desa. Pengembangan pariwisata ini dicondongkan pada ekowisata, yaitu pengembangan pariwisata yang bertanggung jawab serta memberikan dampak positif terhadap alam dan budaya setempat.

Aksesibilitas dan Amenitas

Desa Padak Guar dapat ditempuh hanya dalam waktu 2,5 jam dari Kota Mataram. Namun bila ingin mengunjungi gili-gili yang ada di Desa Padak Guar, kawan harus menyebrang menggunakan kapal wisata.

Ketiga gili dapat diakses menggunakan perahu (foto: dok Perkumpulan YAPEKA)

Jasa transportasi dikelola oleh masyarakat setempat dengan tarif sekitar Rp. 50.000,00 per orang. Kapal baru berangkat apabila sudah terisi penuh. Namun bila kawan tidak ingin menunggu kapal penuh, disediakan juga tarif VIP sebesar Rp. 400.000,00 per kapal dengan durasi 4-5 jam.

Sementara untuk fasilitas pariwisata masih sangat terbatas, mengingat masih dikelola oleh masyarakat setempat. Fasilitas yang tersedia hanya berupa saung-saung dan belum tersedia MCK serta air bersih.

Atraksi Gili-Gili Desa Padak Guar

Daya tarik utama gili-gili Desa Padak Guar terletak pada kondisi air yang sangat jernih dan formasi terumbu karang yang terjaga. Wisatawan dapat berenang dan bermain di pantai gili-gili di Desa Padak Guar tanpa dikenakan biaya. Pelampung disewakan. Tiap-tiap gili memiliki keunikan dan daya tarik masing-masing.

Gili Lampu

Disebut juga sebagai Gili Petagan. Dinamakan Gili Lampu/Petagan dikarenakan adanya mercusuar yang membantu navigasi perahu dan kapal di malam hari. Gili Lampu merupakan tempat singgah para nelayan saat melaut.

Foto-Padak-guar-cetak-2
Hutan mangrove di Gili Lampu (foto: dok Perkumpulan YAPEKA)

Selain keindahan terumbu karangnya, keunikan dan daya tarik gili ini terletak pada vegetasi mangrove, serta kanal yang terlihat seperti membelah pulau ini ketika air laut sedang pasang.

Gili Bidara

Merupakan pulau yang tidak berpenghuni. Namun masyarakat sekitar memanfaatkan lahan kosong yang ada untuk menanam wijen dan pala. Gili Bidara memiliki pasir putih dan terumbu karang serta biota laut yang hidup disekitar karang.

Gili Bidara
Gili Bidara (foto: dok Perkumpulan YAPEKA)

Satu hal yang menjadi daya tarik adalah Gunung Rinjani akan terlihat sangat jelas dari Gili Bidara saat cuaca sedang cerah.

Gili Kondo

Seperti Gili Bidara, Gili Kondo memiliki pasir putih dan terumbu karang alami. Wisatawan mancanegara maupun lokal dapat melakukan snorkeling untuk menikmati keindahan Gili Kondo.  

Mengembangkan Ekowisata Rendah Emisi

Ada potensi wisata yang bisa dikembangkan di Desa Padak Guar. Tim Blue Carbon Consortium yang terdiri dari Perkumpulan YAPEKA, PKSPL-IPB, dan Transform Mataram mengadakan pelatihan ekowisata desa, peningkatan kapasitas melalui pelatihan bahasa inggris, pembangunan demoplot, serta pembibitan mangrove.

Selain pelatihan dan pembangunan, juga dilakukan pembuatan batas Daerah Perlindungan Laut. Sedangkan pembibitan dan penanaman mangrove ditujukan untuk mengurangi emisi karbon, yang diintegrasikan ke dalam program paket wisata.

Keberadaan demoplot ekowisata di Desa Padak Guar merupakan jawaban dan kebutuhan masyarakat Desa Padak Guar yang telah lama membutuhkan pihak lain yang bersedia membantu meningkatkan sumberdaya anggotanya. Tentunya kegiatan ekowisata akan dapat lebih memberikan penghasilan yang lebih baik untuk masyarakat.

 

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
Translate »