{"id":11403,"date":"2024-06-06T16:02:05","date_gmt":"2024-06-06T09:02:05","guid":{"rendered":"https:\/\/yapeka.or.id\/?p=11403"},"modified":"2024-07-08T16:30:43","modified_gmt":"2024-07-08T09:30:43","slug":"penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Kajian Bioakustik Dugong di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><strong>Mengenal Suara Dugong dengan Pendekatan Bioakustik<\/strong><\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image is-style-zoooom\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong1-1024x576.jpg\" alt=\"Dugong yang terekam oleh drone YAPEKA di Kepulauan Sangihe\" class=\"wp-image-11409\" srcset=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong1-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong1-300x169.jpg 300w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong1-768x432.jpg 768w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong1-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong1-2048x1152.jpg 2048w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong1-18x10.jpg 18w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Gambar 1&nbsp; Dugong yang terekam oleh drone YAPEKA di Kepulauan Sangihe<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"has-text-align-left\">Dugong <em>(Dugong dugon)<\/em> merupakan mamalia herbivora laut dilindungi yang memiliki populasi di Indonesia pada tahun 1970-an berjumlah sekitar 10.000 ekor dan diperkirakan pada tahun 1994 jumlahnya hanya sekitar 1.000 ekor. Berdasarkan Undang Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati dan Ekosistemnya, dugong dikategorikan sebagai satwa yang dilindungi. Berdasarkan Convention for International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), dugong digolongkan dalam Apendiks I yaitu satwa yang dilarang dalam segala jenis bentuk perdagangan internasional. Dugong juga termasuk dalam kategori rentan (<em>Vulnerable\/VU) <\/em>oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resource (IUCN). Hal ini mendorong perlu adanya upaya konservasi dugong dan habitatnya. Salah satunya ialah dengan mempelajari&nbsp; suara dugong melalui pendekatan bioakustik.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut seorang ahli perilaku satwa dan konservasi, Wendy Marie, bioakustik adalah ilmu yang mempelajari suara satwa yang memiliki potensi penting bagi upaya-upaya konservasi. Ilmu ini mampu mendeteksi spesies yang sulit ditemui seperti Dugong. Oleh karena itu, YAPEKA beserta BISA mengikuti serangkaian penelitian bioakustik yang diadakan oleh beberapa lembaga yakni, Laboratorium Satwa Liar UGM dan Cornell University khususnya K Lisa Yang Center for Conservation Bioacoustics.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group\"><div class=\"wp-block-group__inner-container is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\">\n<figure class=\"wp-block-gallery alignleft has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"923\" height=\"924\" data-id=\"11426\" src=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong2-edited-3.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-11426\" srcset=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong2-edited-3.jpg 923w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong2-edited-3-300x300.jpg 300w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong2-edited-3-150x150.jpg 150w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong2-edited-3-768x769.jpg 768w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong2-edited-3-12x12.jpg 12w\" sizes=\"auto, (max-width: 923px) 100vw, 923px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Gambar 2&nbsp; Bella dari YAPEKA sedang melakukan presentasi di bioakustik untuk Indonesia-Malaysia<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<\/figure>\n<\/div><\/div>\n\n\n\n<p>Pertemuan penelitian bioakustik dilakukan pada 8 November 2023, di Fakultas Kehutanan UGM. Acara ini merupakan simposium bioakustik untuk Indonesia-Malaysia (<em>Symposium for Indonesia-Malaysia BioAcoustics<\/em>\/SIMBA) sekaligus sebagai penutup tahun pertama program bantuan penelitian bioakustik. Penelitian bioakustik dugong merupakan penelitian pertama pada mamalia laut di program ini. Oleh karenanya, penelitian ini merupakan langkah yang luar biasa untuk memperoleh data-data mengenai suara dugong, khususnya di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery alignright has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-2 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"922\" height=\"692\" data-id=\"11433\" src=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong3-edited-4.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-11433\" srcset=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong3-edited-4.jpg 922w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong3-edited-4-300x225.jpg 300w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong3-edited-4-768x576.jpg 768w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong3-edited-4-16x12.jpg 16w\" sizes=\"auto, (max-width: 922px) 100vw, 922px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Gambar 3&nbsp; Alat perekam bernama Hydromoth<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p>Selanjutnya, diperkenalkan sejumlah alat yang&nbsp; digunakan dalam penelitian bioakustik. Alat bioakustik untuk satwa laut berbeda dengan alat yang umumnya digunakan untuk menangkap suara-suara pada satwa di darat. Alat yang diperkenalkan pada tim kami bernama Hydromoth yang merupakan perangkat untuk memantau suara-suara satwa yang berada di air. Alat ini mampu merekam suara hingga 2 minggu, tergantung dari setelan frekuensi. Bantuan penelitian ini berupa 6 set alat, 12 buah kartu perekam, beserta hard disk dan pelatihan rutin untuk penelitian suara dugong yang dilakukan oleh tim YAPEKA dan BISA di Pulau Sangihe, Sulawesi Utara.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penelitian Bioakustik Dugong<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Suara yang merambat di dalam air jauh lebih baik jika dibandingkan dengan di udara. Menurut Nontji A. (2015), kecepatan rambat bunyi dalam media air laut adalah sekitar 1500 m\/detik bergantung sebaran suhu dan salinitas (kadar garam) dalam laut, sedangkan dalam udara kecepatan rambat bunyi adalah sekitar 330 m\/detik. Bunyi dalam laut dapat merambat hingga jarak yang sangat jauh. Oleh sebab itu, dalam komunikasi bawah laut, bunyi atau suara lebih berperan dalam komunikasi antar hewan dari pada lewat penglihatan atau visual.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa penelitian terdahulu menjelaskan bahwa dugong memiliki berbagai karakter suara untuk berkomunikasi. Secara umum, suara dugong dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis: <em>chirps<\/em>, <em>barks<\/em>, dan <em>trills<\/em>.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Chirps, <\/strong>dapat berfungsi sebagai pemberitahuan kepemilikan wilayah, fungsi jangkauan dalam pertahanan wilayah, atau dapat berfungsi sebagai tanda yang membedakan pasangan atau saingan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Barks, <\/strong>dapat berfungsi sebagai peringatan atau tantangan terhadap penyusup atau sinyal kesiapan menyerang untuk mempertahankan wilayah.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Trills, <\/strong>dapat berfungsi untuk menunjukkan niat yang tidak agresif, biasanya diasosiasikan dengan pergerakkan, sinyal interseksual (menunjukkan kesiapan untuk kawin, atau menunjukkan kepemilikan wilayah.<\/p>\n\n\n\n<p>Suara dugong umumnya dihasilkan dari getaran pada pangkal tenggorokan (larynx).<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Ichikawa <em>et al. <\/em>(2005) menjelaskan bahwa suara mesin kapal atau perahu menimbulkan suara dengan frekuensi di bawah 5 kHz sehingga dapat mengganggu komunikasi akustik dugong. Namun penelitian tersebut menunjukkan bahwa dalam keadaan demikian dugong dapat mengubah frekuensi suaranya ke frekuensi yang lebih tinggi untuk menghindari interferensi akustik pada bunyi atau suara yang saling tumpang tindih itu. Oleh karena itu, tim peneliti dugong dari YAPEKA dan BISA Indonesia beserta beberapa&nbsp; relawan melakukan penelitian di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Hal ini dikarenakan pada lokasi tersebut masih terdapat beberapa aktivitas nelayan beserta data-data akurat mengenai perjumpaan dengan dugong.<\/p>\n\n\n\n<p>Penelitian bioakustik dugong dilakukan di dua lokasi yakni Desa Batuwingkung dan Desa Likuang, Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Pada tanggal 2 hingga 9 Mei 2024, seluruh hydromoth telah diletakkan di beberapa titik lokasi target untuk melakukan perekaman suara. Saat ini tim sedang menganalisis seluruh hasil rekaman yang diperoleh dari kegiatan lapangan. Besar harapannya bagi tim dapat menemukan suara dugong yang masih terlihat di sekitar lokasi penelitian dalam hasil rekaman lapangan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-3 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"683\" height=\"1024\" data-id=\"11412\" src=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong4-683x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-11412\" srcset=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong4-683x1024.jpg 683w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong4-200x300.jpg 200w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong4-768x1151.jpg 768w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong4-1025x1536.jpg 1025w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong4-1366x2048.jpg 1366w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong4-8x12.jpg 8w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong4.jpg 1613w\" sizes=\"auto, (max-width: 683px) 100vw, 683px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Gambar 4 <em>Elisabeth dari YAPEKA sedang memasang Hydromoth<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"683\" height=\"1024\" data-id=\"11413\" src=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong5-683x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-11413\" srcset=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong5-683x1024.jpg 683w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong5-200x300.jpg 200w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong5-768x1151.jpg 768w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong5-1025x1536.jpg 1025w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong5-8x12.jpg 8w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/dugong5.jpg 1366w\" sizes=\"auto, (max-width: 683px) 100vw, 683px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Gambar 5 <em>Kondisi Hydromoth<\/em> saat terpasang di bawah laut<\/figcaption><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p>Sumber:<\/p>\n\n\n\n<p>Ichikawa, K., C. Tsutsumi, T. Akamatsu, T. Shinke, N. Arai, and T. Hara. 2005. <em>Acoustic<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>detection of dugong using automatic underwater sound monitoring system<\/em> (AUSOMSD). Proceeding of the 5th SEASTAR 2000 Workshop: 83-86.<br>Nontji A. 2015. <em>Dugong Bukan Putri Duyung<\/em>. Jakarta: Puslit Oseanografi &#8211; LIPI.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dugong (Dugong dugon) merupakan mamalia herbivora laut dilindungi yang memiliki populasi di Indonesia pada tahun 1970-an berjumlah sekitar 10.000 ekor dan diperkirakan pada tahun 1994 jumlahnya hanya sekitar 1.000 ekor. Berdasarkan Undang Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati dan Ekosistemnya, dugong dikategorikan sebagai satwa yang dilindungi. <\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":11490,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[247,231,298,165],"ppma_author":[305],"class_list":["post-11403","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum","tag-dugong","tag-konservasi-alam","tag-konservasi-dugong","tag-sangihe"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Kajian Bioakustik Dugong di Indonesia - Rumah Yapeka<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_GB\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kajian Bioakustik Dugong di Indonesia - Rumah Yapeka\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dugong (Dugong dugon) merupakan mamalia herbivora laut dilindungi yang memiliki populasi di Indonesia pada tahun 1970-an berjumlah sekitar 10.000 ekor dan diperkirakan pada tahun 1994 jumlahnya hanya sekitar 1.000 ekor. Berdasarkan Undang Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati dan Ekosistemnya, dugong dikategorikan sebagai satwa yang dilindungi.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Rumah Yapeka\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/rumahyapeka\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-06-06T09:02:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-07-08T09:30:43+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/thumbnail-artikel-trimeidina.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"724\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Tri Meidina\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Tri Meidina\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimated reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/\"},\"author\":{\"name\":\"Tri Meidina\",\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/#\/schema\/person\/c4b2d90add4346083899ce2de08557fd\"},\"headline\":\"Kajian Bioakustik Dugong di Indonesia\",\"datePublished\":\"2024-06-06T09:02:05+00:00\",\"dateModified\":\"2024-07-08T09:30:43+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/\"},\"wordCount\":767,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/#organization\"},\"keywords\":[\"dugong\",\"Konservasi Alam\",\"konservasi dugong\",\"Sangihe\"],\"articleSection\":[\"Umum\"],\"inLanguage\":\"en-GB\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/\",\"url\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/\",\"name\":\"Kajian Bioakustik Dugong di Indonesia - Rumah Yapeka\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2024-06-06T09:02:05+00:00\",\"dateModified\":\"2024-07-08T09:30:43+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-GB\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/yapeka.or.id\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kajian Bioakustik Dugong di Indonesia\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/\",\"name\":\"Rumah Yapeka\",\"description\":\"lembaga non-profit yang bergerak dalam Pemberdayaan Masyarakat dan Konservasi Alam\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-GB\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/#organization\",\"name\":\"Rumah Yapeka\",\"url\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-GB\",\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/coba1.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/coba1.png\",\"width\":250,\"height\":300,\"caption\":\"Rumah Yapeka\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/rumahyapeka\",\"https:\/\/www.instagram.com\/rumah.yapeka\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/#\/schema\/person\/c4b2d90add4346083899ce2de08557fd\",\"name\":\"Tri Meidina\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-GB\",\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/#\/schema\/person\/image\/a3fe76336169c1b4df4742c0df11d23d\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/85f770393b43fbf0eb28b69f8b6923c7458331b865e86fecf5bb5127a0847a09?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/85f770393b43fbf0eb28b69f8b6923c7458331b865e86fecf5bb5127a0847a09?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Tri Meidina\"},\"url\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/author\/tri-meidina\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kajian Bioakustik Dugong di Indonesia - Rumah Yapeka","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/","og_locale":"en_GB","og_type":"article","og_title":"Kajian Bioakustik Dugong di Indonesia - Rumah Yapeka","og_description":"Dugong (Dugong dugon) merupakan mamalia herbivora laut dilindungi yang memiliki populasi di Indonesia pada tahun 1970-an berjumlah sekitar 10.000 ekor dan diperkirakan pada tahun 1994 jumlahnya hanya sekitar 1.000 ekor. Berdasarkan Undang Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati dan Ekosistemnya, dugong dikategorikan sebagai satwa yang dilindungi.","og_url":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/","og_site_name":"Rumah Yapeka","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/rumahyapeka","article_published_time":"2024-06-06T09:02:05+00:00","article_modified_time":"2024-07-08T09:30:43+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":724,"url":"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/thumbnail-artikel-trimeidina.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Tri Meidina","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Tri Meidina","Estimated reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/"},"author":{"name":"Tri Meidina","@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/#\/schema\/person\/c4b2d90add4346083899ce2de08557fd"},"headline":"Kajian Bioakustik Dugong di Indonesia","datePublished":"2024-06-06T09:02:05+00:00","dateModified":"2024-07-08T09:30:43+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/"},"wordCount":767,"publisher":{"@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/#organization"},"keywords":["dugong","Konservasi Alam","konservasi dugong","Sangihe"],"articleSection":["Umum"],"inLanguage":"en-GB"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/","url":"https:\/\/yapeka.or.id\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/","name":"Kajian Bioakustik Dugong di Indonesia - Rumah Yapeka","isPartOf":{"@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/#website"},"datePublished":"2024-06-06T09:02:05+00:00","dateModified":"2024-07-08T09:30:43+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-GB","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/yapeka.or.id\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/penelitian-bioakustik-dugong-di-indonesia\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/yapeka.or.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kajian Bioakustik Dugong di Indonesia"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/#website","url":"https:\/\/yapeka.or.id\/","name":"Rumah Yapeka","description":"lembaga non-profit yang bergerak dalam Pemberdayaan Masyarakat dan Konservasi Alam","publisher":{"@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/yapeka.or.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-GB"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/#organization","name":"Rumah Yapeka","url":"https:\/\/yapeka.or.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-GB","@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/coba1.png","contentUrl":"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/coba1.png","width":250,"height":300,"caption":"Rumah Yapeka"},"image":{"@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/rumahyapeka","https:\/\/www.instagram.com\/rumah.yapeka"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/#\/schema\/person\/c4b2d90add4346083899ce2de08557fd","name":"Tri Meidina","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-GB","@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/#\/schema\/person\/image\/a3fe76336169c1b4df4742c0df11d23d","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/85f770393b43fbf0eb28b69f8b6923c7458331b865e86fecf5bb5127a0847a09?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/85f770393b43fbf0eb28b69f8b6923c7458331b865e86fecf5bb5127a0847a09?s=96&d=mm&r=g","caption":"Tri Meidina"},"url":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/author\/tri-meidina\/"}]}},"authors":[{"term_id":305,"user_id":4,"is_guest":0,"slug":"tri-meidina","display_name":"Tri Meidina","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/85f770393b43fbf0eb28b69f8b6923c7458331b865e86fecf5bb5127a0847a09?s=96&d=mm&r=g","first_name":"","last_name":"","user_url":"","job_title":"","description":""}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11403","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11403"}],"version-history":[{"count":17,"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11403\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11546,"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11403\/revisions\/11546"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11490"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11403"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11403"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11403"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/ppma_author?post=11403"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}