{"id":7867,"date":"2021-10-31T10:32:12","date_gmt":"2021-10-31T03:32:12","guid":{"rendered":"https:\/\/yapeka.or.id\/?p=7867"},"modified":"2021-10-31T10:32:24","modified_gmt":"2021-10-31T03:32:24","slug":"titik-lokasi-budaya-sabu-raijua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/","title":{"rendered":"Titik lokasi budaya Sabu Raijua"},"content":{"rendered":"<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/WhatsApp-Image-2021-10-29-at-11.37.05-1024x768.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-7896\" srcset=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/WhatsApp-Image-2021-10-29-at-11.37.05-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/WhatsApp-Image-2021-10-29-at-11.37.05-300x225.jpeg 300w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/WhatsApp-Image-2021-10-29-at-11.37.05-768x576.jpeg 768w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/WhatsApp-Image-2021-10-29-at-11.37.05-1536x1152.jpeg 1536w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/WhatsApp-Image-2021-10-29-at-11.37.05-560x420.jpeg 560w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/WhatsApp-Image-2021-10-29-at-11.37.05-260x195.jpeg 260w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/WhatsApp-Image-2021-10-29-at-11.37.05-360x270.jpeg 360w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/WhatsApp-Image-2021-10-29-at-11.37.05-480x360.jpeg 480w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/WhatsApp-Image-2021-10-29-at-11.37.05-660x495.jpeg 660w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/WhatsApp-Image-2021-10-29-at-11.37.05-760x571.jpeg 760w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/WhatsApp-Image-2021-10-29-at-11.37.05-400x300.jpeg 400w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/WhatsApp-Image-2021-10-29-at-11.37.05-900x675.jpeg 900w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/WhatsApp-Image-2021-10-29-at-11.37.05-1440x1080.jpeg 1440w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/WhatsApp-Image-2021-10-29-at-11.37.05.jpeg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Kampung adat Numata, Sumber: Ujang suhendar<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Kampung Adat Namata berada di Kecamatan Sabu Barat, tepatnya Desa\nRaeloro. Wisatawan bisa berkendara selama 20 menit, sekitar 4 Km dari Seba, ibu\nkota Kabupaten Sabu Raijua. Di kampung adat ini, suasana tradisional dan etnik\nsangat terasa. Rumah Adat Khas NTT mengelilingi jajaran batu Megalitik yang\nmasih terawat dengan baik. Wisatawan bisa mendengarkan cerita pemandu wisata\nlokal mengenai sejarah kampung ini dan 14 batu Megalitik berbentuk bundar dengan\nsebutan dan fungsinya masing \u2013 masing. <\/p>\n\n\n\n<p>Kampung Adat Namata\nmerupakan salah satu destinasi wisata yang berada di perbatasan Negara,\nmasyarakatnya masih memegang teguh adat dan kepercayaan Djingitiu atau\nkepercayaan memujja dewa-dewa para leluhur. Bahkan ada satu batu yang tidak\nboleh di pegang, difoto maupun diduduki oleh siapapun.<\/p>\n\n\n\n<p>Batu itu bernama Batu Rue,\nmerupakan batu khusus untuk ritual orang mati akibat kecelakaan, terbakar,\njatuh dari pohon dan bunuh diri<\/p>\n\n\n\n<p>Terdapat pula batu yang\nhanya dapat diduduki oleh keluarga tertentu, batu tempat ritual Deorai (pemuka\nagama Djingitiu), serta batu tempat sembahyang. Dikampung Adat Namata juga bias\nmelihat arena sabung ayam (Peu Manu). Letaknya berada di tengah \u2013 tengah\nKampung Adat Namata tepatnya disamping Batu Rue, Peu Manu biasanya dilaksanakan\npada bulan Januari, Maret dan April atau Januari, April dan Mei.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"483\" height=\"351\" src=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/Screenshot-118.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7868\" srcset=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/Screenshot-118.png 483w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/Screenshot-118-300x218.png 300w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/Screenshot-118-400x291.png 400w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/Screenshot-118-413x300.png 413w\" sizes=\"auto, (max-width: 483px) 100vw, 483px\" \/><figcaption>Sumber: Pilipus Jeraman, Program Studi Arsitek, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang <\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Benteng Hurati terletak di Desa Keduru, Kecamatan Sabu Timur, 2.5\njam dengan jarak 35 km berkendara dari Kota Seba. Benteng Hurati memiliki\ncerita mistis dan sejarah sejak jaman dulu. Menurut kepercayaan masyarakat\nSabu, Benteng Hurati dibangun oleh makhluk laut yang disebut Me. Me mendapatkan\ntugas untuk membangun tujuh lapis benteng yang mengeliling desa sebelum\nmatahari terbit. Sayangnya, misi ini gagal karena hanya berhasil membangun enam\nlapis dinding batu sebagai benteng. Benteng Hurati juga menjadi tempat\npelaksanaan ritual adat Kelila Jilai (Pehere Jara Kelila) yang merupakan ritual\ndimulainya musim tanam dan bertujuan untuk mengusir hama penyakit tanaman.\nRitual Kelila Jilai sendiri ditentukan berdasarkan kalender masyarakat Sabu dan\nbiasanya jatuh pada bulan Fabruari \u2013 Maret.<\/p>\n\n\n\n<p>Benteng Hurati telah\nditetapkan sebagai sebagai situs sejarah nasional dan berdiri sejak pertengahan\nabad ke \u2013 17. Adapun kompleks situs yang teridentifikasi yaitu:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>1 buah rumah adat Hurati<\/li><li>2 buah kuburan leluhur di\nHurati<\/li><li>2 buah patung kepala kuda\ndi Hurati<\/li><li>15 buah meja batu di Hurati<\/li><li>1 buah meriam<\/li><li>Benteng Hurati atau tembok\nkeliling kampong adat Hurati<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Batas asli, dari situs yang\nditandai dengan persebaran unsur &#8211; unsur bangunan terkait dengan kontekstual\nbila masih ditemukan, atau Geotopografi, batas situs yang ditandai dengan\nkeadaan lingkungan alam seperti lereng, sungai, jalan dan sebagainya. <\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Komplek Megalitik Rae Nalai terletak di Desa Keduru, Kecamatan Sabu Timur. Yang berjarak kurang lebih 15 km dari Seba, ibu kota Kab. Sabu Rajiua. Di objek wisata ini, wisatawan bisa menemukan deretan batu megalitik yang menjadi tempat duduk para Kepala Suku di Sabu Timur. Di kampung adat ini, sudah lama ditinggal penduduknya, tidak ada lagi bangunan rumah, dan batu tempat menyelenggrakan upacara baptis yang polanya membentuk lingkaran, Komplek ini menjadi bukti peradaban suku \u2013 suku di Sabu pada jaman dahulu.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n\n\n<p>Situs Kampung Adat dan megalitik Kujiratu terletak di Desa Kujiratu,\n15 km dari Seba, ibu kota Kabupaten Sabu Raijua. Pada situs sejarah ini,\nwisatawan bisa menikmati suasana perkampungan Sabu pada jaman dahulu. Wisatawan\njuga bisa menemukan Mesbah atau batu untuk menggelar ritual adat yang masih\nrutin dilakukan sampai sekarang. Peninggalan lain di kampung adat ini\ndiantaranya batu megalitik, Meriam, tombak, pedang dan gong raksasa. Kampung\nAdat Kujiratu telah menjadi situs sejarah nasional sejak tahun 1988. <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam mempertahankan\ntradisi, ada aturan yang tidak memperkenankan dibangun rumah tembok atau\nbangunan model baru kecuali kamar mandi, komplek perumahan ini berupa rumah\npanggung dari kayu dengn atap daun lontar dengan berpagar batu bersusun yang\nmengelilingi komplek.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"596\" src=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/69655890_413880992574149_1976314551424520419_n-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-7870\" srcset=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/69655890_413880992574149_1976314551424520419_n-1.jpg 640w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/69655890_413880992574149_1976314551424520419_n-1-300x279.jpg 300w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/69655890_413880992574149_1976314551424520419_n-1-560x522.jpg 560w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/69655890_413880992574149_1976314551424520419_n-1-400x373.jpg 400w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/69655890_413880992574149_1976314551424520419_n-1-322x300.jpg 322w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption>Kompleks rumah adat Kujiratu, Sumber: Picuki <\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Situs Kampung Adat dan megalitik Kujiratu terletak di Desa Kujiratu,\n15 km dari Seba, ibu kota Kabupaten Sabu Raijua. Pada situs sejarah ini,\nwisatawan bisa menikmati suasana perkampungan Sabu pada jaman dahulu. Wisatawan\njuga bisa menemukan Mesbah atau batu untuk menggelar ritual adat yang masih\nrutin dilakukan sampai sekarang. Peninggalan lain di kampung adat ini\ndiantaranya batu megalitik, Meriam, tombak, pedang dan gong raksasa. Kampung\nAdat Kujiratu telah menjadi situs sejarah nasional sejak tahun 1988. <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam mempertahankan\ntradisi, ada aturan yang tidak memperkenankan dibangun rumah tembok atau\nbangunan model baru kecuali kamar mandi, komplek perumahan ini berupa rumah\npanggung dari kayu dengn atap daun lontar dengan berpagar batu bersusun yang\nmengelilingi komplek.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi\nwisatawan yang berkunjung di bulan Februari atau Maret, anda mungkin beruntung\nbisa menyaksikan ritual adat Pehere Jara Kelila\/ Naiki Kebui dan rangkaian\nritual adat lainnya untuk menyambut musim tanam.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"533\" src=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/1sa-savu-komplek-megalitik-dan-rumah-adat-dara-rae-ba.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-7871\" srcset=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/1sa-savu-komplek-megalitik-dan-rumah-adat-dara-rae-ba.jpg 800w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/1sa-savu-komplek-megalitik-dan-rumah-adat-dara-rae-ba-300x200.jpg 300w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/1sa-savu-komplek-megalitik-dan-rumah-adat-dara-rae-ba-768x512.jpg 768w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/1sa-savu-komplek-megalitik-dan-rumah-adat-dara-rae-ba-560x373.jpg 560w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/1sa-savu-komplek-megalitik-dan-rumah-adat-dara-rae-ba-400x267.jpg 400w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/1sa-savu-komplek-megalitik-dan-rumah-adat-dara-rae-ba-450x300.jpg 450w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><figcaption> \u00a0 Komplek situs Dara Ra bae, Sumber : sultansiniindonesiablog <\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p> Situs Dara Rae Ba terletak di Desa Bodae, Kecamatan Sabu Timur. Dengan Jarak dari kota Sabu sekitar 21 Km, Di kampung ini, wisatawan bisa menemukan rumah adat, balai pertemuan, makam zaman Belanda, Meriam, tombak, keris dan perlengkapan perang lainnya yang masih terawat dengan baik. Situs Rae Ba merupakan peninggalan raja terakhir Hawu Dimu. &nbsp;Seperti situs lainnya di Kabupaten Sabu Raijua, situs ini masih seringdigunakan sebagai lokasi pelaksanaan ritual adat misalnya ritual Gape Due. Ritual ini dilakukan sekitar bulan Juli &#8211; Agustus untuk memulai sadap lontar pada musim kemarau <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/1sa-savu-istana-teni-hawu-kerajaan-raijua.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-7872\" width=\"568\" height=\"427\" srcset=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/1sa-savu-istana-teni-hawu-kerajaan-raijua.jpg 430w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/1sa-savu-istana-teni-hawu-kerajaan-raijua-300x225.jpg 300w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/1sa-savu-istana-teni-hawu-kerajaan-raijua-260x195.jpg 260w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/1sa-savu-istana-teni-hawu-kerajaan-raijua-360x270.jpg 360w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/1sa-savu-istana-teni-hawu-kerajaan-raijua-400x300.jpg 400w, https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/1sa-savu-istana-teni-hawu-kerajaan-raijua-401x300.jpg 401w\" sizes=\"auto, (max-width: 568px) 100vw, 568px\" \/><figcaption> Istana Teni Hewu, Sumber : sultansiniindonesiablog<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Istana Teni Hawu terletak di Kota Seba, Ibu Kota Kabupaten Sabu Raijua. Istana ini dibangun pada masa kolonial Belanda dan menjadi pusat pemerintahan Seba sekitar tahun 1875. Pada masa itu, pemerintahan Seba dipimpin oleh Raja Samuel Djawa. Istana Teni Hawu berada pada ketinggian 15 meter mdpl. Morfologi bangunan berupa dataran dengan kemiringan lereng 0-2 derajat, permukaan tempat pembangunan istana tersusun dari gamping koral yang berumur Pleistosen. Di dalam istana terdapat 2 bangunan berupa sebuah rumah adat dan bangunan dengan gaya arsitektur Belanda. Bentuk bangunan termasuk rumah panggung, bahan bangunan pembuatannya dari kayu dengan atap dari daun lontar, sementara rumah Belanda dibangun dengan menggunakan bahan bangunan dari campuran kulit Kerbau yang dimasak, sejenis tanaman tali putri dan minuman tuak.<\/p>\n\n\n\n<p>Hingga saat ini, bangunan istana masih terawat dengan baik dan wisatawan bisa menikmati berbagai benda peninggalan sejarah, dokumen, peralatan dan Meriam <\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kampung Adat Namata berada di Kecamatan Sabu Barat, tepatnya Desa Raeloro. Wisatawan bisa berkendara selama 20 menit, sekitar 4 Km dari Seba, ibu kota Kabupaten Sabu Raijua. Di kampung adat ini, suasana tradisional dan etnik sangat terasa. Rumah Adat Khas NTT mengelilingi jajaran batu Megalitik yang masih terawat dengan baik. Wisatawan bisa mendengarkan cerita pemandu [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"ppma_author":[302],"class_list":["post-7867","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-umum"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Titik lokasi budaya Sabu Raijua - Rumah Yapeka<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_GB\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Titik lokasi budaya Sabu Raijua - Rumah Yapeka\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kampung Adat Namata berada di Kecamatan Sabu Barat, tepatnya Desa Raeloro. Wisatawan bisa berkendara selama 20 menit, sekitar 4 Km dari Seba, ibu kota Kabupaten Sabu Raijua. Di kampung adat ini, suasana tradisional dan etnik sangat terasa. Rumah Adat Khas NTT mengelilingi jajaran batu Megalitik yang masih terawat dengan baik. Wisatawan bisa mendengarkan cerita pemandu [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Rumah Yapeka\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/rumahyapeka\" \/>\n<meta property=\"article:author\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/rumahyapeka\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-10-31T03:32:12+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-10-31T03:32:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/WhatsApp-Image-2021-10-29-at-11.37.05-1024x768.jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Rumah Yapeka\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@rumahyapeka\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Rumah Yapeka\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimated reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/\"},\"author\":{\"name\":\"Rumah Yapeka\",\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/#\/schema\/person\/53ef21042eebf95e55256650435a79d5\"},\"headline\":\"Titik lokasi budaya Sabu Raijua\",\"datePublished\":\"2021-10-31T03:32:12+00:00\",\"dateModified\":\"2021-10-31T03:32:24+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/\"},\"wordCount\":981,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Umum\"],\"inLanguage\":\"en-GB\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/\",\"url\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/\",\"name\":\"Titik lokasi budaya Sabu Raijua - Rumah Yapeka\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2021-10-31T03:32:12+00:00\",\"dateModified\":\"2021-10-31T03:32:24+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-GB\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/yapeka.or.id\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Titik lokasi budaya Sabu Raijua\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/\",\"name\":\"Rumah Yapeka\",\"description\":\"lembaga non-profit yang bergerak dalam Pemberdayaan Masyarakat dan Konservasi Alam\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-GB\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/#organization\",\"name\":\"Rumah Yapeka\",\"url\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-GB\",\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/coba1.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/coba1.png\",\"width\":250,\"height\":300,\"caption\":\"Rumah Yapeka\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/rumahyapeka\",\"https:\/\/www.instagram.com\/rumah.yapeka\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/#\/schema\/person\/53ef21042eebf95e55256650435a79d5\",\"name\":\"Rumah Yapeka\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-GB\",\"@id\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/#\/schema\/person\/image\/8443f41f2d755c6161f3a6a1a3986b23\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ea4f51e5ac5bf5843f920bcad2f85e802d01be4b46b13d253ec3f4696dff6eb6?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ea4f51e5ac5bf5843f920bcad2f85e802d01be4b46b13d253ec3f4696dff6eb6?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Rumah Yapeka\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/yapeka.or.id\/\",\"https:\/\/www.facebook.com\/rumahyapeka\",\"@rumah.yapeka\",\"https:\/\/twitter.com\/rumahyapeka\",\"https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UCZA2AAOoziUsn9RrY93f_bg\",\"https:\/\/www.tumblr.com\/blog\/view\/rumahyapeka\",\"https:\/\/www.tiktok.com\/@rumahyapeka\"],\"url\":\"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/author\/yapekakita\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Titik lokasi budaya Sabu Raijua - Rumah Yapeka","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/","og_locale":"en_GB","og_type":"article","og_title":"Titik lokasi budaya Sabu Raijua - Rumah Yapeka","og_description":"Kampung Adat Namata berada di Kecamatan Sabu Barat, tepatnya Desa Raeloro. Wisatawan bisa berkendara selama 20 menit, sekitar 4 Km dari Seba, ibu kota Kabupaten Sabu Raijua. Di kampung adat ini, suasana tradisional dan etnik sangat terasa. Rumah Adat Khas NTT mengelilingi jajaran batu Megalitik yang masih terawat dengan baik. Wisatawan bisa mendengarkan cerita pemandu [&hellip;]","og_url":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/","og_site_name":"Rumah Yapeka","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/rumahyapeka","article_author":"https:\/\/www.facebook.com\/rumahyapeka","article_published_time":"2021-10-31T03:32:12+00:00","article_modified_time":"2021-10-31T03:32:24+00:00","og_image":[{"url":"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/WhatsApp-Image-2021-10-29-at-11.37.05-1024x768.jpeg"}],"author":"Rumah Yapeka","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@rumahyapeka","twitter_misc":{"Written by":"Rumah Yapeka","Estimated reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/"},"author":{"name":"Rumah Yapeka","@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/#\/schema\/person\/53ef21042eebf95e55256650435a79d5"},"headline":"Titik lokasi budaya Sabu Raijua","datePublished":"2021-10-31T03:32:12+00:00","dateModified":"2021-10-31T03:32:24+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/"},"wordCount":981,"publisher":{"@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/#organization"},"articleSection":["Umum"],"inLanguage":"en-GB"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/","url":"https:\/\/yapeka.or.id\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/","name":"Titik lokasi budaya Sabu Raijua - Rumah Yapeka","isPartOf":{"@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/#website"},"datePublished":"2021-10-31T03:32:12+00:00","dateModified":"2021-10-31T03:32:24+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-GB","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/yapeka.or.id\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/titik-lokasi-budaya-sabu-raijua\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/yapeka.or.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Titik lokasi budaya Sabu Raijua"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/#website","url":"https:\/\/yapeka.or.id\/","name":"Rumah Yapeka","description":"lembaga non-profit yang bergerak dalam Pemberdayaan Masyarakat dan Konservasi Alam","publisher":{"@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/yapeka.or.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-GB"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/#organization","name":"Rumah Yapeka","url":"https:\/\/yapeka.or.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-GB","@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/coba1.png","contentUrl":"https:\/\/yapeka.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/coba1.png","width":250,"height":300,"caption":"Rumah Yapeka"},"image":{"@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/rumahyapeka","https:\/\/www.instagram.com\/rumah.yapeka"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/#\/schema\/person\/53ef21042eebf95e55256650435a79d5","name":"Rumah Yapeka","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-GB","@id":"https:\/\/yapeka.or.id\/#\/schema\/person\/image\/8443f41f2d755c6161f3a6a1a3986b23","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ea4f51e5ac5bf5843f920bcad2f85e802d01be4b46b13d253ec3f4696dff6eb6?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ea4f51e5ac5bf5843f920bcad2f85e802d01be4b46b13d253ec3f4696dff6eb6?s=96&d=mm&r=g","caption":"Rumah Yapeka"},"sameAs":["https:\/\/yapeka.or.id\/","https:\/\/www.facebook.com\/rumahyapeka","@rumah.yapeka","https:\/\/twitter.com\/rumahyapeka","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UCZA2AAOoziUsn9RrY93f_bg","https:\/\/www.tumblr.com\/blog\/view\/rumahyapeka","https:\/\/www.tiktok.com\/@rumahyapeka"],"url":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/author\/yapekakita\/"}]}},"authors":[{"term_id":302,"user_id":1,"is_guest":0,"slug":"yapekakita","display_name":"Rumah Yapeka","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ea4f51e5ac5bf5843f920bcad2f85e802d01be4b46b13d253ec3f4696dff6eb6?s=96&d=mm&r=g","first_name":"Rumah","last_name":"YAPEKA","user_url":"https:\/\/yapeka.or.id\/","job_title":"","description":""}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7867","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7867"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7867\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7900,"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7867\/revisions\/7900"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7867"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7867"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7867"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/yapeka.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/ppma_author?post=7867"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}