Keberlanjutan, Mulai dari Atom Sampai dengan Interaksi Masyarakat

By in ,
2924
Keberlanjutan, Mulai dari Atom Sampai dengan Interaksi Masyarakat

Di era globalisasi saat ini, dengan berkembangnya informasi dan teknologi secara pesat, menjawab dan memecahkan isu keberlanjutan memerlukan kontribusi dari berbagai bidang ilmu. Tidak bisa semata-mata kita berbicara mengenai keberlanjutan hanya dari sisi ekonomi maupun lingkungan saja. Hal ini terjadi karena keberlanjutan menyangkut berbagai aspek mulai dari dimensi sosial, budaya, ekonomi, sumberdaya alam, dan politik. Oleh karena itu diperlukan pendekatan Transdisiplin. Transdisiplin merupakan disiplin yang terbentuk dari berbagai bidang ilmu untuk menciptakan sebuah inovasi yang konseptual, teoritis, metodologis, yang pendekatannya bergerak di luar pendekatan umum untuk memecahkan sebuah masalah umum.

Tanggal 14 Februari 2019 kemarin, bertempat di gedung Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), Pusat Kajian Sains Keberlanjutan dan Transdisiplin atau Center of Transdiscipline and Sustainability Sciences (PKSKT/CTSS) melangsungkan acara diskusi yang mengundang mahasiswa dan pengajar serta pakar ilmu ahli untuk sama-sama membahas tentang keberlanjutan . Ini merupakan rangkaian acara diskusi yang membahas tentang peran transdisiplin dan ilmu keberlanjutan (sustainability science) di dalam menjawab permasalahan keberlanjutan.

Ini merupakan acara diskusi kedua dari seri Transdisciplinary Tea Talk, yang berjudul From Quarks to Society: Understanding Emergent Properties, Complexity, and The Interconnectedness of Life. Judul ini membahas tentang kompleksitas di dalam usaha keberlanjutan, bagaimana interaksi kehidupan direkonstruksi mulai dari zat tidak hidup seperti quarks, bertahap menjadi molekul, sampai tingkatan hierarki sosial tertinggi, yaitu masyarakat.

Prof Husin menjelaskan tentang Emergent Properties di tingkat atom (foto: dokumentasi Perkumpulan YAPEKA)

Di acara diskusi kedua kali ini, PKSKT/CTSS mengundang tiga pakar ahli dari bidang ilmu yang berbeda-beda: (1) Prof. Dr. Husin Alatas, M.Si., guru besar fisika teori FMIPA IPB dan peneliti dari PKSKT/CTSS; (2) Prof. Dr. Antonius Suwanto, M.Sc. guru besar mikrobiologi FMIPA IPB; dan (3) Dr. Ir. Rilus Kinseng, M.Si., Sosiolog SKPM IPB dan peneliti dari PKSKT/CTSS.

Diskusi dimulai dengan kata sambutan dan dipimpin oleh Direktur PKSKT/CTSS, Prof. Dr. Damayanti Buchori. Masing-masing pembicara menjelaskan tentang fenomena Emergent Properties menurut bidang ilmu yang ditekuni. Prof. Dr. Husin Alatas, M.Si. yang menjelaskan Fisika Teori, tentang Emergent Properties di tingkat sub-atom, Quarks,dan fenomena Quantum Entanglement, dimana observasi yang kita lakukan dapat mempengaruhi hasil pengukuran dua atom yang sama di tempat yang berbeda. Sementara Prof. Dr. Antonius Suwanto, M.Sc., menjelaskan tentang fenomena Emergent Properties di tingkat mikroskopik, bagaimana sekumpulan bakteri bioluminesensi pada cumi-cumi dapat melakukan hal komunal di luar fungsinya sebagai individu pada jumlah tertentu. Diskusi diakhiri oleh Dr. Ir. Rilus Kinseng, M.Si yang menjelaskan Emergent Properties dari tingkatan masyarakat dan sisi ilmu Sosiologi, dimana Emergent Properties merupakan hasil dari interaksi antara masyarakat di dalam sebuah kelompok yang menghasilkan aturan dan budaya baru.

Dr. Rilus menjelaskan tentang apa itu Emergent Properties di tingkat masyarakat (foto: dokumentasi Perkumpulan YAPEKA)

Hasil dari penjelasan ketiga pakar ini adalah semakin banyak kita mengetahui, semakin banyak juga pertanyaan-pertanyaan baru yang muncul. Disinilah peran ilmu transdisiplin yang mengkoordinasikan berbagai bidang ilmu di dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan baru ini, sehingga dapat dihasilkan solusi-solusi baru yang dibutuhkan oleh umat manusia.

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
Translate »