Ketahanan Energi Indonesia

By in
1192
Ketahanan Energi Indonesia

Di era abad 21 ini hampir semua benda yang kita gunakan menggunakan energi, mulai dari penggunaan alat-alat elektronik untuk mendukung gaya hidup dan kendaraan untuk transportasi. Semua hal tersebut diperlukan adanya pasokan energi yang terus menerus dalam hal ketahanan energi.

Apa itu Ketahanan Energi?

International Energy Agency (IEA) mendefinisikan ketahanan energi sebagai ketersediaan sumber energi yang tidak terputus dengan harga yang terjangkau. Ketahanan energi memiliki banyak dimensi. Jangka panjang umumnya berurusan dengan pemasokan energi untuk kebutuhan perkembangan ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan, sementara jangka pendek fokus pada kemampuan beradaptasi terhadap kebutuhan dan inersia energi yang fluktuatif akan permintaan dan tawaran.

IEA juga menentukan indikator ketahanan energi suatu negara. Suatu negara diukur dari pasokan energi untuk 90 hari ke depan untuk kebutuhan ekspor setara dengan energi minyak. Di masa lalu, ketahanan energi diasosiasikan dengan ketersediaan minyak. Meskipun ketersediaan minyak tetap menjadi isu yang utama seiring dengan berjalannya waktu dan peningkatan permintaan energi. Sistem energi memerlukan pemahaman yang mendalam dan sistematik akan kerentanan. Gangguan tidak hanya terdapat pada ketersediaan minyak, melainkan juga infrastruktur yang menaunginya serta sektor end-user (pengguna). Oleh karenanya, analisis terhadap ketersediaan minyak tidak cukup untuk mengukur ketahanan energi suatu negara.

BBM Masih Mendominasi.

Menurut data statistik ketenagalistrikan ESDM tahun 2016, bauran komposisi energi Indonesia antara lain: gas bumi 22%, batubara 28,7%, EBT (pemanfaatan listrik biodiesel) 6,3%, dan minyak bumi 43%. Selama bertahun-tahun, Bahan Bakar Minyak (BBM) tetap mendominasi bauran energi primer di Indonesia.  

Sebagai salah satu penopang ketahanan energi di Indonesia, BBM Pemerintah berusaha untuk mengurangi ketergantungan energi minyak bumi dan mulai mempertimbangkan penggunaan energi alternatif seperti nuklir, panel surya, dan kincir angin listrik. Hal ini dilakukan untuk menekan harga dan subsidi agar BBM tetap dapat terjangkau oleh rakyat-rakyat kecil. Dikeluarkannya kebijakan energi nasional dalam Peraturan Presiden No. 5/2006 berkaitan dengan langkah-langkah strategis untuk mengurangi porsi bbm diharapkan dapat mengurangi ketergantungan BBM.

Di dalam Peraturan Presiden No. 5/2006 juga menjelaskan pemanfaatan sumber daya terbarukan sebagai energi alternatif pengganti minyak bumi, meskipun implementasinya masih belum terlihat.

Misi Perkumpulan YAPEKA dalam membantu mewujudkan Ketahanan Energi.

Diversifikasi energi merupakan kunci agar dapat tetap berlangsung secara berkelanjutan di Indonesia serta menjadi buffer bila sewaktu-waktu terjadi gangguan atau disrupsi energi. Di dalam misi kami, Perkumpulan YAPEKA berusaha untuk memperkenalkan teknologi tepat guna yang selaras dengan kegiatan pembangunan emisi rendah karbon. Salah satunya adalah pemanfaatan panel surya untuk membantu kegiatan perekonomian masyarakat daerah kepesisiran.

 

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
Translate »