Kisah Nelayan Penangkap Gurita Minahasa Utara

By in
958
Kisah Nelayan Penangkap Gurita Minahasa Utara

Kira-kira apa yang terlintas dibenak kepala saat mendengar kata gurita? Film-film horor sering menggambarkan gurita sebagai monster laut raksasa yang senang mengintai kapal-kapal yang tersesat di laut lepas. Mereka hobi mematahkan kapal jadi dua bagian dengan lengan-lengannya yang panjang dan terlihat hanya memiliki kepala untuk memangsa orang-orang malang yang terjebak di kapal tersebut.

Yap, apa yang digambarkan dalam film horror tidak salah. Hewan laut ini hanya memiliki kepala dan delapan lengan yang digunakan untuk bergerak dan menangkap mangsa. Sekilas, gurita memiliki kemiripan dengan cumi-cumi. Mulai dari ciri fisik, fisiologis, sampai sama-sama menggunakan tinta untuk mengecoh pemangsanya. Hal ini disebabkan karena gurita dan cumi-cumi berada pada satu famili animalia, yaitu famili Cephalopoda (diambil dari bahasa Yunani cephalo yang berarti kepala, dan podos yang artinya kaki). Mereka tidak memiliki abdomen (perut) seperti makhluk pada umumnya.

anatomi gurita
Anatomi Gurita (foto: pinterest.com)

Gurita dapat diolah dan dikonsumsi seperti layaknya makanan laut lainnya. Namun bila dibandingkan dengan sepupunya, cumi-cumi, saudaranya ini belum terlalu populer di kalangan masyarakat Indonesia. Namun, gurita memiliki potensi besar sebagai komoditas yang diekspor ke negara-negara luar. Menurut data Kementerian Perikanan dan Kelautan Indonesia tahun 2017, negara kita menjadi nomor satu untuk ekspor gurita dengan negara Jepang sebagai pengimpor utamanya.

Habitatnya banyak ditemukan di laut lepas. Salah satu daerah penangkapan di Indonesia yaitu di Minahasa Utara terpusat di beberapa desa di antaranya Desa Gangga Satu, Desa Bulutui dan Desa Termaal.

Sejarah Penangkapan

Saat kegiatan profiling dilakukan, ditemukan bahwa nelayan di ketiga desa tersebut sudah menangkap gurita dari tahun 1960. Alat-alat yang dipakai di masa itu masih tergolong sangat sederhana. Nelayan di masing-masing desa menggunakan alat yang berbeda-beda. Contohnya, nelayan Desa Gangga Satu menggunakan alat pancing sederhana dan perahu tanpa mesin, sedangkan Nelayan di Desa Bulutui menggunakan jubi (tombak).

Volume hasil tangkap mulai meningkat dirasakan oleh para nelayan ketika mereka muai beralih menggunakan perahu mesin di tahun 1990an. Alat tangkap yang digunakan pun mulai beralih menggunakan pocong (alat tangkap terbuat dari batu ditutup oleh kain berwarna gelap), sambi (semacam alat untuk mengambil gurita yang mengejar pocong).

Saat ini, nelayan di Minahasa Utara menggunakan ketang (mirip kail yang didekorasi menjadi seperti kepiting) yang lebih mudah digunakan dan dapat meningkatkan produktivitas serta volume hasil tangkap hingga 20 kilogram per hari.

ketang
Ketang (foto: dokumentasi Perkumpulan Yapeka)

Keseharian para nelayan dimulai di pagi sampai sore hari. Namun apabila cuaca sedang buruk, nelayan melakukan banyare, yaitu kegiatan mencari gurita di daerah nyare (pasang surut). 

Harga size dan harga alus

Hasil tangkapan biasanya dijual ke pengepul di desa masing-masing. Biasanya para pengepul di Minahasa Utara juga merupakan bekas nelayan yang sudah lama melaut dan memilih untuk beralih profesi. Namun, tidak semua harga jual gurita dipatok sama. Harga gurita di Minahasa Utara dibagi berdasarkan dua jenis, yaitu harga size dan harga alus. Harga size adalah harga yang berlaku untuk berat satu kilogram atau lebih, sedangkan harga alus adalah harga untuk berat kurang dari satu kilogram.

Harga masing-masing pengepul pun berbeda-beda. Seorang pengepul di Desa Bulutui bernama Opo, membeli dari para nelayan seharga 35.000 rupiah per kilogram untuk ukuran size dan 15.000 rupiah untuk gurita ukuran alus. Hasil tersebut kemudian ia jual kembali ke distributor.

Setelah sampai di pengepul harus dijual setiap dua hari untuk menjaga kesegaran dan tidak rusak. Keterbatasan akses listrik di Pulau Gangga membuat para pengepul-pengepul di Pulau Gangga mengandalkan es batu yang di beli di Kota Likupang.

Menurunnya hasil tangkapan nelayan

Seorang pengepul bernama Opo mengakui adanya penurunan hasil tangkapan dari tahun ke tahun. Tahun lalu dia bisa menjual 500-600 kilogram dalam 3 hari, namun sekarang jauh lebih sedikit dari itu. Hal senada diutarakan oleh Ongki, seorang nelayan yang beralih profesi menjadi pengepul.

Menurut keterangan masyarakat setempat, menurunnya hasil tangkapan disebabkan oleh habitatnya yang semakin dangkal karena tertutup pasir daratan, sehingga lubang-lubang tempat gurita hidup hilang dan rusak. Hasil tangkapan juga lebih sering menurun dikarenakan cuaca buruk.

Mengembangkan potensi gurita Minahasa Utara

Melihat potensi yang ada di Minahasa Utara, akan sangat menguntungkan bagi para nelayan untuk dibina dan mendapatkan pelatihan. Tim Perkumpulan Yapeka bersama-sama dengan Blue Ventures akan mengadakan pelatihan lokal dan manajemen pada bulan April 2018 ini.

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
Translate »