Lahan Gambut, Sang Pahlawan Karbon Dunia

By in , ,
3914
Lahan Gambut, Sang Pahlawan Karbon Dunia

Bila kita sering membuka media portal berita, terutama media portal berita bertemakan lingkungan, beberapa penulis membuat tulisan mengenai lahan gambut dan memaparkan tentang pentingnya bagi ekosistem. Lalu apa itu lahan gambut dan mengapa memiliki peranan penting di dalam ekosistem?

Sang Pahlawan Penyimpan Karbon

Lahan gambut merupakan salah satu bagian dari jenis-jenis lanskap lahan basah. Komposisi utamanya terbentuk dari akumulasi pembusukan bahan-bahan organik. Bahan-bahan organik ini terpendam selama ribuan tahun dan tergenang dengan air.

Sekitar 60% lahan basah di dunia adalah lahan gambut dan kurang lebih sekitar 7%-nya sudah dibuka untuk keperluan perkebunan dan pertanian. Bila kondisi memungkinkan, pembusukan vegetasi-vegetasi dapat berpotensi membentuk menjadi lahan batubara. Lahan gambut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi, dengan jumlah 4 triliun meter kubik endapan tanah yang menutupi sekitar  3 juta kilometer persegi, setidaknya mengandung potensi energi 8 miliar tera joule.

Selain sumber energi, lahan gambut merupakan salah satu media penyimpan karbon terbesar di dunia. Kandungan karbonnya hampir dua kali hutan tanah mineral yang ada di seluruh dunia.

Persebaran Lahan Gambut di Indonesia

Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian dan Balai Penelitian Tanah memperkirakan luasannya di Indonesia mencapai 14,9 hektar, sebagian besar tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Papua.

Persebaran lahan gambut di Indonesia di tiga pulau utama (ilustrasi: Perkumpulan YAPEKA)
Permasalahan yang Dihadapi Sang Pahlawan

Sebagai media penyimpan karbon yang besar, ketika lahan tersebut diganggu atau dikeringkan, maka kandungan karbon yang tersimpan akan terlepas ke udara dan menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca. Pengalih fungsi lahan (konversi lahan) kerap kali menjadi permasalahan.

Alih fungsi lahan gambut menjadi perkebunan sawit kerapkali dilakukan oleh korporasi ataupun masyarakat (foto: pixabay)

Adanya persepsi bahwa lahan gambut merupakan lahan yang tidak berguna dan tidak dipakai berkontribusi menjadi pemicu konversi lahan oleh masyarakat oportunistik yang tinggal di sekitarnya. Faktor ekonomi menjadi pendorong utama pengalihfungsian lahan menjadi lahan pertanian dan perkebunan, terutama perkebunan sawit mempertimbangkan keuntungan yang besar.

Lalu Apa Yang Bisa Dilakukan Untuk Membantu Sang Pahlawan Karbon?

Permasalahan alih fungsi lahan gambut merupakan masalah yang cukup kompleks. Hal ini melibatkan banyak sektor mulai dari sektor pemerintahan, swasta, bahkan sampai lembaga-lembaga nonprofit. Sebelum masyarakat dapat diberikan pengetahuan tentang pentingnya bagi ekosistem secara keseluruhan. Melakukan kajian akan sumber mata pencaharian alternatif baru perlu dilakukan agar masyarakat tidak merasa dibatasi dan dilarang.

Lahan gambut kering melepaskan banyak sekali emisi gas CO2 (foto: pixabay)

Untuk lahan gambut yang sudah rusak dikarenakan pengeringan dan konversi lahan, dapat dilakukan usaha 3R, meliputi Rewetting, Revegetasi, dan Revitalisasi. Rewetting merupakan usaha pembasahan kembali lahan kering menggunakan sumur bor yang diarahkan dari sumber air terdekat. Revegetasi merupakan usaha penanaman kembali tumbuhan yang mempunyai peranan penting di dalam pembentukan gambut. Terakhir, Revitalisasi, merupakan usaha meninjau dan melakukan pendekatan terhadap mata pencaharian alternatif yang menguntungkan masyarakat.

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
Translate »