Desa Lamdesar Barat: Pengorbanan, Kearifan Lokal, dan Lingkungan

By in , ,
4700
Desa Lamdesar Barat: Pengorbanan, Kearifan Lokal, dan Lingkungan

Desa Lamdesar Barat merupakan sebuah desa kecil di Maluku. Namun desa ini memiliki keunikan tidak hanya dari masyarakatnya namun juga bagaimana mereka mengelola sumber daya yang mereka miliki.

Kondisi Geografis Desa Lamdesar Barat

Desa Lamdesar Barat terletak di Pulau Larat, masuk dalam administrasi Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku. Memiliki luas wilayah sebesar 640 hektar, dengan jumlah penduduk sebesar 721 jiwa. Berbatasan dengan Laut Aru di sebelah Timur, Desa Lamdesar Timur di sebelah Barat, Laut Arafura sebelah Selatan, dan Desa Kaliobar Kelaan di sebelah Selatan.

Desa Lamdesar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat dilihat dari Google Map.

Sebagian besar lanskap desa berupa pantai dengan dataran rendah. Aksesibilitas masih dibilang cukup sulit dimana hanya bisa ditempuh menggunakan perahu, terutama saat air sedang pasang.

Awal Mula Desa Lamdesar Barat

Bila ditelisik lebih dalam, Desa Lamdesar Barat memiliki sejarah yang cukup unik. Pembentukan desa ini bermula dari persekutuan antar masyarakat adat yang disebut sebagai Koratutul sekitar 13 tahun silam. Persekutuan ini dibentuk dari kampung-kampung keci yang berbasis keluarga (marga). Proses penggabungannya menjadi sebuah desa yang besar dilakukan dengan cara yang tidak biasa, yaitu dengan peperangan. Perang besar terjadi ketika masyarakat persekutuan Koratutul merasa terusik dengan perluasan wilayah masyarakat Urtatan dari Pulau Molu.

Peperangan berlanjut selama berhari-hari, yang kemudian menjadi berbulan-bulan, dan pada berujung menjadi bertahun-tahun. Peperangan kedua belah pihak yang cukup lama tersebut akhirnya dapat didamaikan dengan mengorbankan seorang perempuan bernama Resirenan. Sebelum upacara pengorbanan nyawa tersebut, Resirenan menyampaikan pesannya yang terakhir dengan sumpahnya: “Isak Dek Non Sian Isa!” yang berarti “Satu dengan yang lain jangan saling menyakiti!”. Setelah pengorbanan nyawa tersebut, masyarakat persekutuan Koratutul dan Urtatan pada akhirnya dapat hidup secara rukun dan damai.  

Monumen Resirenan. (sumber: id.geoview.info)

Masyarakat Desa Lamdesar baik Barat dan Timur sangat mempercayai sumpah Resirenan sampai saat ini. Bahkan percaya bala bencana dapat turun menimpa kedua warga yang saling berselisih. Tidak hanya bala bencana turun kepada pelakunya namun juga keluarga pelaku hingga keturunan-keturunannya. Setiap tahunnya masyarakat Koratutul dan Urtatan mengadakan upacara adat “Kidabela” sebagai penghormatan kepada Resirenan atas pengorbanannya untuk menyatukan mereka.

Kearifan Lokal: Hutan Larangan dan Kebiasaan ‘Hanya Mengambil Secukupnya’
Masyarakat Desa Lamdesar Barat (foto: Nano Sudarno, Yayasan YAPEKA)

Masyarakat di Desa Lamdesar menghormati leluhur dan alam dengan cara hanya mengambil sumber daya alam yang mereka perlukan. Dampaknya, kekayaan sumber daya alam di desa Lamdesar Barat tetap utuh dan terjaga. Kebiasaan ini sudah menjadi kebiasaan sejak leluhurnya yang diwariskan kepada anak-anaknya. Hasil lautnya pun kaya, sangat mudah menemukan lobster dengan ukuran 30 sentimeter. Ikan Kerapu dan Kakap Merah? Ada banyak disini.

Kenampakan Hutan Larangan di Tebing Pantai Sebelah Timur Desa Lamdesar Barat (sumber: Nano Sudarno, Yayasan YAPEKA)

Kearifan lokal juga dicerminkan dengan adanya Hutan Larangan (Hutan Adat). Hutan yang dimana tidak sembarang orang boleh memanfaatkan dan sudah terjaga oleh hukum adat secara turun-temurun dari zaman leluhur. Hutan yang ada di bibir tebing pantai sebelah timur Desa Lamdesar Barat menyimpan kekayaan hayati yang besar.

Bagaimana masyarakat Desa Lamdesar Barat menjaga kekayaan sumber daya alamnya adalah sesuatu yang patut kita contoh, agar alam dan manusia dapat terjaga keseimbangannya.

*dikutip dan diedit dari sumber: nanosudarno.blogspot.com

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
7Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
Translate »