Memperingati Hari Gunung Sedunia: Tanggung Jawab Seorang Pendaki

By in
3463
Memperingati Hari Gunung Sedunia: Tanggung Jawab Seorang Pendaki

Hari Gunung Sedunia yang diperingati setiap tanggal 11 Desember merupakan hari apresiasi terhadap satu dari ratusan bentukan alam yang ada di bumi ini. Selain itu, Hari Gunung Sedunia merupakan usaha peningkatan kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya pegunungan bagi keberlangsungan ekosistem bagi bumi, flora dan fauna, serta manusia.

Mendaki gunung merupakan hobi yang paling diminati bagi para penikmat dan pecinta alam. Tak ada tandingannya untuk lepas dari rutinitas sejenak dan merencanakan untuk naik gunung bersama teman-teman sejawat. Membawa  botol air, panci untuk memasak saat mencapai puncak, serta tenda merupakan salah satu dari perbekalan wajib yang selalu dibawa. Namun adalah sebuah ironi bila melihat para pendaki gunung yang notabene “penikmat dan pecinta alam” malah mencemari lingkungan. Pasalnya, botol-botol air plastik seringkali dibuang begitu saja alih-alih dibawa kembali dari puncak gunung.

Dikutip dari Mongabay, survei di delapan taman nasional dan tujuh gunung yang dilakukan oleh Komunitas Sapu Gunung. Komunitas ini bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada April 2016. Mereka mendapati setidaknya 453 ton sampah terdapat di kawasan taman nasional. Sedangkan menurut Trashbag Community, ada sekitar 2,4 ton atau lebih dari 600 kantong sampah dikumpulkan dari 15 gunung di Indonesia.

Sedangkan di Gunung Rinjani, dilaporkan ada sekitar 1,5 ton sampah diangkut dalam acara Clean Up Gunung Rinjani Desember 2016 silam. Mayoritas sampah yang diangkut didominasi oleh sampah-sampah organik seperti buah-buahan dan sayuran. Peningkatan volume sampah ini salah satunya disebabkan oleh semakin populernya Gunung Rinjani setelah film Romeo + Rinjani ditayangkan 2015 silam. 

Permasalahan sampah yang dibawa para pendaki ini tidak hanya terjadi di Indonesia semata. Di salah satu puncak gunung yang menjadi kiblat para pendaki, Gunung Everest tidak luput dari sampah. Dalamu Sherpa, ketua grup perempuan setempat mengatakan bahwa sampah sudah menjadi masalah yang besar di Everest. Sampai pemerintah Nepal sendiri memberikan aturan agar para pendaki diwajibkan untuk membersihkan dan membawa sampah seberat 8 kg seturunnya dari puncak. Hal ini merupakan salah satu cara mengurangi volume sampah di Everest.

Kembali lagi ke Indonesia, bukan berarti sampah di gunung dibiarkan begitu saja tanpa penanganan. Salah satunya kampanye Gerakan #PendakiCerdas dicanangkan oleh Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) kepada para pendaki. Kampanye #PendakiCerdas merupakan salah satu cara untuk mengedukasi para pendaki agar lebih memahami tentang gunung itu sendiri, terutama masalah sampah.

Meskipun demikian, tantangan dari kampanye ini adalah bagaimana menyampaikan pesan kepada para pendaki dikarenakan latar belakang pendaki yang berbeda-beda dengan motivasi yang berbeda pula. Meskipun demikian, perlu adanya penyamaan persepsi sehingga wawasan yang diberikan pun mudah dimengerti. 

Adakalanya menikmati pengalaman dan pemandangan di puncak juga disertai dengan rasa empati dengan alam sekitarnya. Mendaki adalah salah satu bentuk kebebasan untuk lepas dari realita, namun apa gunanya kebebasan tersebut bila tidak disertai dengan rasa tanggung jawab?

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
Translate »