Mencoba Gaya Hidup Minim Sampah

By in
2858
Mencoba Gaya Hidup Minim Sampah

Mungkinkah menerapkan gaya hidup tanpa sampah? Tentu jawabannya tidak. Segala sesuatu yang kita lakukan dalam hidup ini terkait dengan infrastruktur yang linier. Kita mengambil sumber daya dari alam dan kita olah menjadi barang jadi / setengah jadi, lalu di dalam proses pengolahan tersebut terdapat by product berupa limbah. Sebagai manusia yang memiliki sifat konsumtif, akan selalu menghasilkan limbah dari barang yang kita konsumsi sehari-hari. Menurut Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (B3), Rosa Vivien Ratnawati menyebutkan bahwa proyeksi volume sampah rumah tangga dan sejenis sampah rumah tangga pada 2018 mencapai 66,5 juta ton.

Hal ini berarti secara individu, paling minimal kita memproduksi sampah sebesar 2 kg per harinya. Memang jumlah yang sedikit, namun bila sudah dikalikan tujuh hari seminggu, empat minggu sebulan, jumlahnya menjadi signifikan. Landfill merupakan istilah lahan yang digunakan sebagai tempat penampungan sampah-sampah yang perharinya kita hasilkan. Di negara maju seperti Amerika Serikat, landfill memberikan 20% sumbangan untuk emisi metana. Selain emisi metana, racun dari bekas pembersih lantai, porselen, serta bekas-bekas baterai dapat meresap ke dalam tanah dan merusak air tanah.

Kita dapat mencoba melakukan gaya hidup minim sampah. Menerapkan gaya minim hidup sampah dapat mengurangi produksi sampah yang kita keluarkan sehari-hari. Hal inilah yang mendasari gerakan tantangan “zero waste”.

Tantangan “Zero Waste”
Contoh Kalender Tantangan ‘Zero Waste’ (foto: thelesserevil)

Tahun 2018 lalu, terdapat gerakan 30 Days Zero Waste Challenge. Gerakan kampanye ramah lingkungan ini dipelopori oleh orang-orang peduli lingkungan dan para penggiat lingkungan di sosial media dengan hashtag #zerowaste. Gerakan kampanye ini bertujuan untuk mengajak masyarakat dalam mengurangi sampah-sampah bekas konsumsi yang kita hasilkan.

Serangkaian tantangan ini dapat berbeda dari satu orang ke orang lain per harinya, namun beberapa memiliki kesamaan seperti mulai membawa tas sendiri saat berbelanja, mulai membawa tumbler air, menolak menggunakan sedotan plastik dan membawa sedotan besi atau bambu. Bahkan ada yang kreatif mengadakan barbeque hanya menggunakan sayur-mayur dan bahan-bahan sisa makanan.

Komunitas Gaya Hidup Minim Sampah di Indonesia

Di Indonesia pun juga tidak mau ketinggalan. Komunitas Zero Waste Nusantara (ZWN), yang terbentuk Mei 2018, mulai hadir untuk memperkenalkan gaya hidup minim sampah. Berbagai usaha untuk mengurangi sampah diperkenalkan kepada anggota-anggota komunitasnya melalui grup whatsapp komunitas.

Salah satu postingan Komunitas Zero Waste Nusantara di Instagram (sumber: Instagram Zero Waste Nusantara)

Jeanny dan beberapa rekannya yang mengelola grup whatsapp ZWN memberikan Kuliah Whatsapp atau biasa mereka sebut “Kulwap”. Selain menyuarakan gaya hidup minim sampah, Jeanny juga aktif menyuarakan isu lingkungan dalam ekosistem bisnis. Jeanny berharap dengan ini, para pebisnis dan startup muda lebih mempertimbangkan lingkungan di dalam usahanya.

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
7Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
Translate »