Meneropong Budidaya Rumput Laut Perairan Laut Sawu

By in ,
9
Meneropong Budidaya Rumput Laut Perairan Laut Sawu

Gambar 1. Budidaya rumput laut

Berdasarkan data dari Ditjen Perikanan Budidaya (2014), luas indikatif lahan budidaya rumput laut yang dimanfaatkan untuk budidaya komoditas rumput laut Indonesia mencapai 769.452 ha dengan jumlah pembudidaya rumput laut berjumlah 442.070 Rumah Tangga Perikanan (RTP). Untuk lahan indikatif tersebut tersebar di pulau Sulawesi, Bali, NTB dan NTT, serta Papua. Taman Nasional Perairan Laut Sawu (TNP Laut Sawu) merupakan Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) yang terletak di wilayah Perairan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kawasan TNP Laut Sawu di provinsi NTT memiliki potensi sumberdaya laut yang cukup besar meliputi kegiatan perikanan dan budidaya rumput laut. Produksi rumput laut terus bertambah menjadi 1.802 090,33 ton tahun 2013 dan 1.967 844,7 ton tahun 2014. Tahun 2015 mengalami peningkatan hingga 2.056 151,51 ton namun menurun menjadi 1.836 847,09 ton tahun 2016.Potensi perikanan dan budi daya rumput laut serta keindahan alam yang melimpah, dapat menjadi potensi wisata yang menakjubkan. 

Gambar 2. Bersama petani rumput laut di Pantai Oesina

Kelurahan Sulamu merupakan wilayah pesisir yang letaknya Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, NTT. Umumnya masyarakat Kelurahan Sulamu menggantungkan hidupnya dari hasil laut seperti ikan dan rumput laut. Terdapat 5 kelompok pembudidaya rumput laut di Kelurahan Sulamu antara lain Kelompok Petani Rumput Laut Ikhlas, Kelompok Petani Rumput Laut Ampera, Kelompok Petani Rumput Laut Akuada, Kelompok Petani Rumput Laut Aku Datang, Kelompok Petani Rumput Laut Sama Bajo, yang sudah di bentuk sejak tahun 2013 oleh pemerintah daerah. 

Di Desa Sotimori dusun 1  dan dusun 4 serta desa Fuafuni, Pulau Nusmau belum memiliki kelompok pembudidaya rumput laut. Sehingga kegiatan pembudidayaan rumput laut di daerah tersebut masih kurang terorganisir dengan baik. Tujuan dibentuknya kelompok pembudidaya rumput laut adalah sebagai wadah memperkuat kerja sama diantara sesama pembudidaya rumput laut dalam kelompok dan antar kelompok pembudidaya rumput laut serta dengan pihak lain. Melalui kerja sama ini diharapkan budidaya rumput laut akan lebih efisien serta lebih mampu menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan.

Tantangan yang dialami oleh pembudidaya rumput laut di setiap daerah berbeda–beda. Kelompok Damai Lifuleo yang terletak di kawasan pantai Oisina mengalami penurunan produksi rumput laut akibat kondisi air yang berdebu dampak dari pembangunan Jetty PLTU. Selain itu, belum tersedianya sumber listrik di lokasi budidaya juga menjadi tantangan dalam proses pasca panen rumput laut. Penyakit ice-ice yang menyerang rumput laut sehingga mengurangi kualitas rumput laut saat di panen menjadi tantangan yang muncul dalam budidaya rumput laut.

Gambar 3. Proses pengeringan rumput laut di Nembrala.

Tim YAPEKA melalui proyek COREMAP-CTI Pemanfaatan Kawasan Konservasi Perairan oleh Masyarakat Secara Berkelanjutan berupaya meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir utamanya petani rumput laut dengan memberikan pelatihan kepada petani rumput laut. Pembangunan sarana dan prasarana penunjang juga akan dilakukan dengan merencanakan pembangunan PLTS di wilayah Desa Satimori Dusun Nusa Manuk untuk menunjang proses produksi pasca panen rumput laut. 

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
54321
(0 votes. Average 0 of 5)
Translate »