Pengenalan dan Capaian Konsorsium IMBAU, bagian 1

By in
3809
Pengenalan dan Capaian Konsorsium IMBAU, bagian 1

Selama bertahun-tahun, Bukit Rimbang Baling mewakili satu dari sekian banyak keragaman ekosistem di Provinsi Riau, Sumatera Tengah. Ekosistem Bukit Rimbang Baling merupakan rumah bagi populasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) serta merupakan penyangga kehidupan bagi masyarakat sekitarnya.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) (sumber: jungledragon)

Keberadaan Harimau Sumatera menyandang status bahaya kritikal (critically endangered). Menurunnya populasi Harimau Sumatera lebih disebabkan oleh maraknya perburuan liar untuk mengambil kulitnya, lalu dijual di perdagangan ilegal satwa liar. Ini mengakibatkan Bukit Rimbang Baling ditetapkan pemerintah sebagai daerah Konservasi dan Suaka Margasatwa dalam Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK. 3977/Menhut-VIII/KUH/2014 tanggal 23 Mei 2014 tentang Penetapan Kawasan Hutan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling Seluas 141.226,25 hektar di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau.

Daerah Konservasi dan Masyarakat

Namun, seperti halnya dengan daerah konservasi lainnya, penetapan Bukit Rimbang Baling sebagai suaka margasatwa dan konservasi berbenturan dengan kepentingan masyarakatnya. Pasalnya, masyarakat Bukit Rimbang Baling sudah sejak lama memanfaatkan sumber daya alam dari hutan-hutan dan sungai di sekitar Bukit Rimbang Baling untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penetapan tersebut membatasi ruang gerak masyarakatnya, terlebih lagi, pemanfaatan sumber daya alam di Bukit Rimbang Baling oleh masyarakatnya sudah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun lamanya.

Keputusan perundang-undangan bersifat mutlak, menegaskan garis batas antara putih dan hitam, serta tidak mengenal kompromi. Sehingga diperlukan sebuah rencana strategis terintegrasi serta bersinergi, menyambungkan antara mata pencaharian berkelanjutan dan optimalisasi sumber daya alam yang tidak merusak. Hal ini dilakukan agar masyarakat tetap dapat melanjutkan kehidupannya.

Komponen ITHCP Rimbang Baling

Tim YAPEKA bersama-sama dengan INDECON dan WWF tergabung dalam Konsorsium IMBAU menerapkan Integrated Tiger Habitat Conservation Program (ITHCP): “Communities for Tiger Recovery in Rimbang Baling: The Beating Heart of the Central Sumatran Tiger Landscape”. Ada tiga komponen utama yang diperkenalkan oleh Kerangka Kerja Konsorsium IMBAU: (1) Integrated Protection, di dalamnya merupakan monitoring satwa liar dan hutan, penegakan hukum, dan pelibatan masyarakat; (2) Management Effectiveness, merupakan peningkatan kapasitas serta mendorong bantuan dari para stakeholder terkait; (3) Sustainable Livelihood, merupakan aplikasi energi terbarukan dan tepat guna, identifikasi mata pencaharian berkelanjutan, serta pengembangan ekoturisme.

Di dalam menjalankan tupoksinya, Konsorsium IMBAU membagi tugas-tugasnya. WWF fokus pada komponen 1 dan 2, sementara YAPEKA dan INDECON fokus pada komponen 3. Komponen 3, yaitu Sustainable Livelihood, bertujuan untuk mengurangi tekanan pada hutan dengan memperkenalkan aktivitas-aktivitas mata pencaharian yang berkelanjutan (inokulasi gaharu,  rencana pengembangan desa, serta ekowisata.

Mengembangkan Potensi Matapencaharian Berkelanjutan

Dilintasi oleh kedua sungai, Sungai Bio dan Sungai Subayang memiliki peran sangat penting di Rimbang Baling. Keseharian aktivitas Masyarakat di Bukit Rimbang Baling memanfaatkan Sungai Bio dan Sungai Subayang, mulai dari moda transportasi utama, sarana perdagangan, memancing ikan, serta irigasi air pertanian. Keahlian masyarakatnya diantara lain bercocok tanam, menangkap ikan, membuat perahu, dan sebagainya.

Potret keseharian masyarakat Rimbang Baling (sumber: dokumentasi tim perkumpulan YAPEKA)
Potret keseharian masyarakat Rimbang Baling (sumber: dokumentasi tim Perkumpulan YAPEKA)
Potret keseharian masyarakat Rimbang Baling (sumber: dokumentasi tim Perkumpulan YAPEKA)
Potret keseharian masyarakat Rimbang Baling (sumber: dokumentasi tim Perkumpulan YAPEKA)

Oleh karenanya, perlu adanya pendekatan yang harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek-aspek kehidupan masyarakatnya. Pendekatan yang dilakukan dalam mengembangkan mata pencaharian yang berkelanjutan diantaranya: (1) Koordinasi dan Konsolidasi dengan para stakeholder terkait seperti pemerintah, Non Governmental Organization, dan komunitas lokal; (2) Assessment Mapping dengan mengadakan pelatihan, pemetaan potensi desa, dan diseminasi; (3) Pembuatan Demo-plot berdasarkan potensi desa yang ditemukan serta bekerja dengan komunitas lokal; (4) Komitmen dengan pembuatan kebijakan dan kesepakatan, dan yang terakhir; (5) Pertukaran informasi kepada publik melalui internet, materi print, serta radio komunitas. Pendekatan ini dilakukan secara bersama-sama dan bersinergi antara YAPEKA dan INDECON, dimana YAPEKA memperkenalkan mata pencaharian yang berkelanjutan untuk 10 desa, sementara INDECON fokus mengembangkan ekoturisme di 3 desa di Bukit Rimbang Baling.

(Artikel berlanjut ke bagian 2, mengenai capaian-capaian Konsorsium IMBAU…)

 

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
Translate »