Pengenalan dan Capaian Konsorsium IMBAU, bagian 2

By in
4074
Pengenalan dan Capaian Konsorsium IMBAU, bagian 2

(lanjutan bagian 1 dari Pengenalan dan Capaian Konsorsium IMBAU…)

Tim Konsorsium IMBAU di dalam mengimplementasikan komponen 3 ITHCP (Integrated Tiger Habitat Conservation Program.), memiliki visi yaitu: area inti dan masyarakat yang tinggal sekitar kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling bisa saling menopang dan memberikan penghidupan dari sistem manajemen Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling. Dimana masyarakat sekitarnya dapat tetap memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan, dan tanpa memberikan tekanan pada hutan dan ekosistem sekitarnya. Pada akhirnya dapat membantu habitat Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) untuk tetap bertahan dan berkembang.

Untuk komponen 3, yaitu Sustainable Livelihood, Kegiatan tim YAPEKA dan INDECON berlangsung selama lima tahun dengan penetapan sasaran-sasaran yang harus dicapai. Capaian Konsorsium IMBAU di terapkan di dalam kegiatan yang terbagi menjadi beberapa kegiatan inti, diantaranya Agrikultur, Argoforestri, Ekowisata, Budaya, Radio Komunitas, Energi Terbarukan, serta Integrasi Kebijakan dalam RPJMDes.

Agrikultur: Pertanian Berkelanjutan (Sustainable Farming)
Salah satu demo-plot pertanian berkelanjutan di Desa Indarung, Bukit Rimbang Baling (sumber: dokumentasi Perkumpulan YAPEKA)

Pembangunan demo-plot biogas untuk menghasilkan bio-slurry merupakan tahap pertama dalam bidang agrikultur. Tim Konsorsium IMBAU mendirikan setidaknya 5 demo-plot di 5 desa di Rimbang Baling selama 2017. Pemanfaatan slurry dari biogas dimanfaatkan sebagai pupuk organik pendamping pupuk kimia. Penggunaan slurry dan pupuk kimia secara berdampingan terbukti dapat meningkatkan hasil panen secara signifikan, antara 10% sampai dengan 100% (hasil berbeda-beda tiap lahan pertanian).

Agroforestri: Optimalisasi Karet
Penambahan bio-slurry cair pada tanaman karet untuk meningkatkan hasil panennya (sumber: Dokumentasi Perkumpulan YAPEKA)

Memanen karet merupakan aktivitas ekonomi masyarakat Rimbang Baling. Melihat harga karet yang cukup tinggi, menggiurkan masyarakat sekitarnya untuk berbondong-bondong memanen karet sebagai aktivitas ekonomi alternatif. Untuk dapat mengoptimalisasi panen karet, Tim Konsorsium IMBAU melakukan peningkatan kapasitas dan pelatihan bagi masyarakatnya. Slurry tidak hanya digunakan untuk pertanian, namun juga digunakan untuk pohon karet.

Penggunaan slurry pada pohon karet terbukti dapat meningkatkan hasil panen karet lebih dari 20%, melebihi target yang sudah ditetapkan sebelumnya, yaitu hanya 10%.

Agroforestri: Kultivasi Gaharu
Proses pembibitan gaharu (sumber: dokumentasi Perkumpulan YAPEKA)

Di Rimbang Baling, jumlah pohon gaharu mulai berkurang sangat drastis karena tekanan dari luar hutan yang besar. Saat ini pohon gaharu agak sulit untuk ditemukan, dimana salah satu alasannya adalah pengambilan kayu tanpa pertimbangan untuk menanam kembali bibit pohon gaharu.

Masyarakat Rimbang Baling saat ini mulai mempraktekkan kultivasi tanaman Gaharu, dibantu oleh Tim Konsorsium IMBAU. Pelatihan pembibitan (nursery) sampai dengan proses inokulasi dilakukan sepenuhnya oleh Masyarakat Rimbang Baling. Hal ini dilakukan untuk mengurangi tekanan pada hutan dan sekitarnya. Ada dua desa yang sudah diberikan pelatihan kultivasi gaharu dan ada 6.000 bibit gaharu yang ditanam sampai dengan 2018.

Ekowisata: Perencanaan dan Pengembangan
Awareness dan Ecotourism Rimbang Baling
Diberikan pengetahuan akan pengetahuan konservasi alam sebelum kegiatan rafting (dok: Perkumpulan YAPEKA)

Rimbang Baling memiliki potensi untuk pengembangan ekowisata, dikarenakan memiliki biodiversitas tinggi, tradisi unik, dan akses yang mudah. Perencanaan dan pengembangan yang matang diperlukan apabila ekowisata Rimbang Baling dapat berlanjut. Perencanaan dengan cara identifikasi pasar dan rencana manajemen wisata. Pengembangan produk dan proses pemasaran menghasilkan beberapa paket homestay, campsite, tujuan destinasi (Batu Songgan dan Tanjung Belit) serta event-event kultural budaya. Homestay dibangun untuk memfasilitasi para pengunjung untuk dapat menginap dan menikmati tujuan destinasi wisata di Rimbang Baling.

Ibu-ibu pengelola homestay di Rimbang Baling (sumber: Dokumentasi Perkumpulan YAPEKA)

Peningkatan kapasitas dalam hal pariwisata juga dilakukan bagi masyarakatnya. Mengenalkan tentang pariwisata dan bagaimana mengelola sebuah tempat wisata. Pelatihan-pelatihan, asistensi, dan studi banding untuk meningkatkan ilmu dan kemampuan ekowisata. Tak lupa juga mengadakan kerjasama dengan pemerintah daerah setempat dan media massa untuk meningkatkan awareness.

Dalam kurun waktu 2018, jumlah wisatawan yang mengunjungi homestay Tanjung Belit sebanyak 223 pengunjung dan 104 pengunjung di destinasi wisata. Pendapatan kotor yang diterima sekitar 27,730,000 Rupiah.

Budaya: Membentuk Grup Seni Rupa
Malam festival budaya Tanjung Belit (sumber: dokumentasi Perkumpulan YAPEKA)

Salah satu capaian Konsorsium IMBAU di Rimbang Baling yaitu pembentukan kelompok seni dan budaya. Rimbang Baling memiliki beragam seni rupa lokal yang memiliki potensi untuk ikut membantu pengembangan ekowisata. Seperti contohnya Randai dan Saluang, yang biasa dimainkan di Rimbang Baling, namun sudah jarang terlihat karena generasi mudanya mulai kurang memiliki minat untuk memainkan Randai dan Saluang.

Tim Konsorsium IMBAU membantu melestarikan budaya daerah setempat dengan membentuk 4 kelompok seni dan budaya, antara lain: Kelompok Calempong, Kelompok Dzikir Bano, Kelompok Seni Tari Tanjung Belit, dan Pangkalan Serai.

Radio Komunitas: Pembentukan Awareness
Pemeriksaan tower Radio Komunitas Lintas Subayang (sumber: dokumentasi Perkumpulan YAPEKA)

Pada rentang tahun 2017 sampai dengan 2018, pembentukan Radio Komunitas dilakukan. Pembentukan ini bertujuan menyebarkan penyadartahuan akan lingkungan dan informasi terkait masyarakat. Saat ini radio komunitas menjangkau 15 desa di sekitar Suaka Margasatwa Rimbang Baling dengan rata-rata 600 pendengar setiap bulannya.

Untuk mendapatkan support yang luas dari masyarakat, Tim Konsorsium IMBAU memfasilitasi aktivitas masyarakat dalam edukasi lingkungan untuk murid-murid dan guru. Ada setidaknya 3 sekolah ikut berpartisipasi, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Aktivitas berupa mempromosikan kerajinan tangan, pelaksanaan berkelanjutan, dan sekolah alam.

Kebijakan: Integrasi ke dalam RPJMDes

Tim Konsorsium IMBAU juga melakukan integrasi pendidikan lingkungan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes). 1 dari 10 output program desa yang memiliki RPJMDes sudah selesai. Sampai saat ini, ada 12 desa dampingan tim Konsorsium IMBAU yang dalam proses mengintegrasikan aspek-aspek konservasi dan berkelanjutan ke dalam RPJMDes.

Keterlibatan Masyarakat

Sejak tahun 2017, angka partisipasi dari masyarakat meningkat. Mulai dari hanya 52 orang, meningkat menjadi 834 orang. Meskipun saat ini masih didominasi oleh laki-laki di dalam partisipasinya.

 

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
Translate »