Isu Permasalahan Lingkungan di Indonesia Saat Ini

By in
1071
Isu Permasalahan Lingkungan di Indonesia Saat Ini

Tiap-tiap negara memiliki isu dan permasalahan lingkungan yang tidak dapat dihindarkan. Di Indonesia sendiri memiliki pekerjaan-pekerjaan rumah seputar permasalahan lingkungan yang perlu ditangani dan diselesaikan. Persoalan lingkungan merupakan permasalahan multidimensional dan melibatkan banyak pemangku-pemangku kepentingan. Penting bagi kita untuk melihat permasalahan lingkungan yang terjadi di sekitar kita, karena kualitas lingkungan akan sangat mempengaruhi kualitas hidup kita secara langsung.

Masalah Sampah Plastik

Manusia merupakan produsen utama dan terbanyak dalam hal volume sampah plastik. Hampir segala jenis benda yang kita gunakan sehari-hari menghasilkan sampah baru. Di Indonesia, menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS), menempati urutan kedua di dunia atau sebanyak 64 juta ton/tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton dibuang ke laut.

 

Sampah plastik yang dibuang ke laut dapat membahayakan makhluk hidup dan ekosistem sekitarnya. Hal ini dikarenakan plastik dapat terurai dan berubah menjadi mikroplastik dan nanoplastik. Kedua jenis ini merupakan plastik yang sangat kecil ukurannya dan seringkali dikonsumsi tidak sengaja oleh ikan-ikan karena warnanya yang menarik perhatian. Plastik mikro dan nano tersebut mengendap di tubuh ikan yang pada akhirnya kita konsumsi.

Masalah Deforestasi dan Penggundulan Hutan untuk Lahan Kelapa Sawit

Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KKLH) menyebutkan selama 2016-2017, ada sekitar 496.370 hektar lahan hutan yang terdeforestasi. Di hutan lahan gambut di Kalimantan deforestasi disebabkan lebih banyak oleh konversi lahan ke pertanian sawit. Perkebunan industri kelapa sawit merupakan salah satu faktor utama dalam deforestasi dan ekspansi kelapa sawit meningkat sepanjang waktu. Dari 11-15 persen deforestasi di Kalimantan, 11-13 persennya merupakan alih fungsi lahan ke perkebunan sawit.

Sawit merupakan tanaman monokultur dan tidak dapat tumbuh bila ada tanaman spesies lain yang tumbuh di sekitarnya. Oleh karenanya pembabatan hutan dilakukan dan setelah lahan sawit tumbuh, maka tanaman selain kelapa sawit tidak dapat tumbuh di lahan tersebut.

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa pertanian sawit memberikan manfaat dan keuntungan ekonomi bagi para petaninya. Selain itu, sawit merupakan tanaman yang paling efektif untuk lahan sempit. Untuk dapat mengalihkan fokus petani ke sawit, perlu adanya mata pencaharian alternatif yang menguntungkan petani menandingi kelapa sawit.

Masalah Rusaknya Ekosistem Laut

Bila dilihat secara kasat mata, volume sampah yang tinggi di laut merupakan faktor utama dalam rusaknya ekosistem di laut. Namun selain tingginya volume sampah di laut, praktik overfishing dan illegal fishing juga memberikan kontribusi bagi rusaknya ekosistem di laut.

Overfishing merupakan pengambilan volume ikan diatas rata-rata alam dapat memulihkan kembali populasi ikannya. Pada tahun 2011, total ikan hasil tangkapan dari seluruh laut di Indonesia mencapai 5,06 juta ton atau sebanyak 78% dari total potensi lestari, kurang 2% lagi dari total yang diperbolehkan oleh FAO. Akibatnya, tidak ada ruang untuk pemulihan kembali ikan-ikan yang ditangkap. Hal ini kerap terjadi di daerah-daerah penangkapan ikan nasional di Laut Jawa, Selat Malaka, Pantai Selatan Sulawesi dan Selat Bali pun menjadi sangat jenuh.

Sedangkan Illegal Fishing merupakan penangkapan ikan secara ilegal tanpa adanya surat-surat izin dari pemerintah terkait. Metode penangkapannya pun tidak sesuai dengan regulasi yang ada, masih menggunakan alat-alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti pukat harimau dan bom yang merusak karang-karang di sekitarnya. Negara kita dirugikan 4-5 triliun rupiah setiap tahunnya akibat praktik penangkapan ilegal.

Pemanasan Global

Pemanasan global mulai dirasakan di Indonesia. Ketidakaturan waktu musim kemarau dan hujan merupakan salah satu jenis gejala pemanasan global yang nyata. Pemanasan global menyebabkan temperatur air naik. Banyak karang-karang di Indonesia mengalami pemutihan (bleaching) akibat kondisi temperatur air yang naik dalam beberapa tahun belakangan ini.

Hilangnya Keanekaragaman Hayati

Masalah-masalah terkait lingkungan dapat merusak ekosistem dan habitat tempat flora dan fauna tinggal. Contohnya deforestasi pembukaan lahan untuk kelapa sawit merusak habitat Orangutan sehingga jumlah mereka saat ini cukup memprihatinkan. Tidak hanya Orangutan, makhluk hidup lain yang menggantungkan hidupnya pada hutan pun juga ikut tergusur sehingga pada akhirnya mereka memasuki wilayah manusia. Ketidakseimbangan ekosistem memerlukan waktu dari ratusan tahun, ribuan tahun, bahkan jutaan tahun untuk seimbang kembali.

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
54321
(0 votes. Average 0 of 5)
Translate »