Aplikasi Pertanian Alami dan Biogas di Masyarakat Sekitar Taman Nasional Way Kambas

By in
3496
Aplikasi Pertanian Alami dan Biogas di Masyarakat Sekitar Taman Nasional Way Kambas

Pertanian alami merupakan salah satu model pertanian yang memanfaatkan bahan-bahan alami. Dimulai dari bibit sampai dengan pemeliharaannya menggunakan pupuk berbahan alami. Aplikasi pertanian alami bisanya diikutsertakan dengan biogas, dimana biogas menghasilkan produk sampingan berupa slurry yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk alami.

Tercatat dari tahun 2013 sampai dengan 2016, tim Yayasan YAPEKA, bekerja sama dengan Tropical Forest Conservation Act Sumatera (TFCA Sumatera). Tim Yayasan YAPEKA dan TFCA Sumatera melakukan inisiasi demonstrasi plot (demoplot) pertanian alami dan pemanfaatan biogas. Selain itu juga dilakukan pendampingan dan pelatihan bagaimana memanfaatkan pekarangannya sendiri dan mengoperasikan biogas. Beberapa waktu lalu kami melakukan penilaian (assessment) akan perkembangan biogas yang ada di ke-enam desa tersebut setelah dua tahun. Program tersebut terakhir dilaksanakan untuk melihat sejauh mana manfaat yang sudah diterima oleh masyarakat.

Aplikasi Pertanian Alami dan Biogas di Desa Labuan Ratu 7 dan 9

Demoplot Pertanian Alami dan Biogas Desa Labuan Ratu 7 berada di di dusun Margahayu, bertempat di lahan pekarangan milik Pak Wardi. Semenjak diimplementasi di tahun 2013, sampai dengan saat ini, lahan pekarangan ini masih dipelihara dengan baik. Umumnya pemanfaatan lahan pekarangan menjadi lahan sayur mayur milik sendiri ini masih diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sendiri, belum untuk diperjualbelikan. Pertanian hortikultura pun berkembang sebagai salah satu dampak dari pengaplikasian pertanian alami dan biogas.

Demoplot pertanian alami di Desa Labuan Ratu 7 masih dikelola secara aktif oleh Kelompok Tani (foto: dokumentasi Yayasan YAPEKA)

Namun untuk perkembangan demoplot biogas di Desa Labuan Ratu 7 menceritakan hal yang berbeda. Saat ini demoplot tersebut sudah tidak lagi difungsikan dikarenakan ada kerusakan. Selain itu kesibukan pemiliknya membuat demoplot biogas di Desa Labuan Ratu 7 ini sudah tidak berjalan lagi. Cukup disayangkan mengingat aplikasi biogas memberikan manfaat yang cukup besar. Terutama bagi para masyarakat petani yang ada di Desa Labuan Ratu 7. Pemerintah desa telah berupaya untuk membangun satu demoplot, namun terkendala masalah pendanaan.

Kondisi demoplot biogas di Desa Labuan Ratu 7 (foto: dokumentasi Yayasan YAPEKA)

Sementara aplikasi pertanian alami di Desa Labuan Ratu 9 saat ini sudah tidak aktif. Ini dikarenakan masing-masing anggota tergabung dalam kelompok tani milik pemerintah sehingga demoplot yang dibangun tidak diurus dikarenakan tidak cukup waktu. Meskipun demikian, hasil pelatihan pertanian alami yang dilakukan oleh tim Yayasan YAPEKA diterapkan oleh anggota kelompok tani di pekarangan rumahnya masing-masing

Sedangkan untuk perkembangan biogas di Desa Labuan Ratu 9 saat ini memiliki perkembangan yang cukup signifikan dibandingkan desa-desa lainnya. Dari 1 demoplot biogas, saat ini sudah tersedia 7 demoplot. Perkembangan ini dilakukan karena masyarakat sudah mulai merasakan manfaat dari biogas itu sendiri. Sehingga mereka rela secara swadaya membangun digester biogas. Hal yang perlu dicatat disini adalah bagaimana demoplot juga menjadi media pembelajaran bagi anak-anak. Beberapa murid sekolah dasar yang datang untuk ke demoplot untuk belajar tentang biogas.

Aplikasi Pertanian Alami dan Biogas di Desa Braja Yekti

Untuk demoplot pertanian alami di Desa Braja Yekti masih aktif dan masih dikelola oleh kelompok tani. Namun untuk kelompok pertanian alami yang pernah dibentuk oleh Yayasan YAPEKA saat ini sudah tidak lagi aktif. Namun beberapa warga masih mempraktekkan pertanian alami dengan menanam sayur mayur dan beberapa obat herbal.

Untuk biogas yang ada di di dusun 4 desa Braja Yekti, terhitung 2016 masih dapat difungsikan. Akan tetapi saat ini sedang tidak digunakan karena adanya penyumbatan pada aliran bio-slurry. Adanya manfaat bio-slurry untuk pemupukan, seorang warga bernama Pak Cipto mencoba membangun sendiri biogas di pekarangan rumahnya. Menurutnya, dengan pembangunan biogas ini dapat menghemat biaya pemupukan sampai dengan 60% dibandingkan bila menggunakan pupuk kimia. Bila biasanya biaya satu kali penanaman mencapai 800 ribu rupiah, setelah adanya biogas, kini hanya menghabiskan 480 ribu rupiah untuk sekali penanaman.

Masih Perlu Adanya Pembinaan dan Pelatihan bagi Masyarakatnya

Masyarakat di desa-desa sekitar Taman Nasional Way Kambas secara keseluruhan sudah mulai merasakan manfaat dari aplikasi pertanian alami dan pemanfaatan biogas dan bio-slurry. Meskipun ada beberapa hambatan seperti pembiasaan masyarakatnya dan masalah pendanaan. Namun apa yang sudah terbangun masih perlu diasah kembali agar tetap berjalan dan berkembang. Perlunya pembinaan dan pelatihan bagi masyarakatnya sehingga pemanfaatan pertanian alami dan biogas dapat dirasakan secara maksimal.

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
Translate »