Produksi Kakao Indonesia Menembus Pasar Dunia

By in
4624
Produksi Kakao Indonesia Menembus Pasar Dunia

Cokelat bukan lagi makanan asing lagi di lidah kita. Dia hadir di hampir setiap jenis masakan dan makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Sebenarnya apa sih coklat itu dan darimana asalnya serta pengolahannya?

Kakao, makanan para dewa

Kakao atau lazimnya disebut sebagai biji coklat, rasanya tidak manis melainkan pahit. Berasal dari biji pohon kakao yang telah melalui fermentasi, pengeringan, dan siap diolah. Memiliki daging tebal yang tidak bisa dikonsumsi, namun membantu proses percepatan fermentasi biji coklat karena mengandung gula.

Kakao merupakan salah satu komoditi utama penduduk di MesoAmerika. Konon, Raja Aztec yang bernama Moctezuma II selalu memberi coklat dan vanilla di setiap makanan yang dia makan. Sebanyak 60 porsi cokelat dia habiskan setiap harinya sehingga Theobroma yang merupakan nama genus pohon kakao ini secara harfiah memiliki arti “makanan para dewa”.

Coklat batang merupakan salah satu produk dari biji kakao (foto: pixabay)

Pohon Kakao atau Theobroma cacao berasal dari Amerika latin. Kakao mulai populer di benua Eropa pada abad ke-15 saat penjelajah-penjelajah Spanyol membawa pulang dan memperkenalkan tanaman kakao yang sudah diolah kepada Raja Charles V. Dalam sekejap, kakao menjadi salah satu makanan populer di Spanyol. Pengenalan kakao berhasil meluas hingga ke negara-negara tetangganya. Kakao semakin populer saat C.J. Van Houten menemukan cara mengekstrak lemak dari biji kakao serta merubah biji kakao menjadi bubuk, dan M. Daniel Peter menciptakan susu coklat.

Sedangkan Kakao mulai muncul di Indonesia pada tahun 1560 oleh orang-orang Spanyol yang mendarat di Minahasa, Sulawesi Utara. Pada tahun 1880, orang Belanda mencoba untuk menanam biji kakao di tanah Jawa sebagai salah satu alternatif biji kopi. Sejak saat itu, kakao mulai tumbuh dan dikenal oleh masyarakat Indonesia.Produksi Kakao Indonesia Menembus Pasar Dunia

Kakao Jembrana, Kakao Fermentasi yang Menembus Pasar Dunia

Inovasi dilakukan oleh para petani kakao di Jembrana, Bali. Melalui pengolahan pasca panen, petani-petani kakao Jembrana melakukan perlakuan yang sedikit berbeda dan unik. Biji-biji kakao tersebut difermentasi terlebih dahulu baru di jual ke pasar internasional. Kakao terfermentasi menarik minat pasar dunia seperti Perancis dan Jepang. Seorang pembeli dari Perancis menyebutkan bahwa rasa kakao terfermentasi ini unik dan berbeda dibandingkan kakao non-fermentasi pada umumnya.

Produksi biji kakao fermentasi (foto: Anton Muhajir / Mongabay Indonesia)

Upaya melakukan inovasi yang dilakukan Kelompok Tani Subak Abian ini bukan tanpa tantangan. Salah satunya sikap pesimis dan cibiran  sesama rekan petani kakao. Namun usaha yang gigih akhirnya membuahkan hasil dan mereka berhasil membuktikan bahwa mereka bisa menjual kakao fermentasi tersebut. Sekitar 5 ton kakao fermentasi Jembrana dijual kepada pembeli asal Perancis dan Jepang. Atas inovasinya, Desa Jembrana dijadikan desa percontohan pengolahan kakao fermentasi nasional.

Produksi Kakao Memiliki Kendala, Yaitu (Salah Satunya) Pajak

Perkembangan Kakao dalam kurun waktu 20 tahun ini meningkat sangat pesat dan menjadi salah satu komoditi andalan perkebunan yang memiliki peranan penting bagi perekonomian nasional. Tercatat ada 914,04 hektar luas perkebunan kakao yang sebagian besar (87,40%) dikelola oleh rakyat dan sisanya dikelola oleh negara (6,0%) dan perkebunan swasta (6,70%). Jenis yang umum diproduksi adalah kakao curah yang terpusat di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah.

Jumlah produksi kakao di Indonesia meskipun demikian masih rendah. Menurut ASKINDO (Asosiasi Kakao Indonesia) mencatat tahun 2017 produksi kakao sekitar 315 ribu ton, sedangkan kebutuhan kakao nasional mencapai 800 ribu ton. Untuk memenuhi kebutuhan kakao nasional, pemerintah harus mengimpor kakao dari luar negeri. Salah satu penyebab kurangnya kemampuan untuk memenuhi kebutuhan kakao nasional antara lain, banyak petani kakao yang memilih ekspor ke luar negeri dikarenakan bebas pajak Ppn, sementara bila dijual lokal terkena pajak Ppn.

Selain itu serangan hama penyakit dan minimnya perawatan tanaman kakao diakibatkan minimnya pengetahuan petani juga menambah kendala tersebut. Untuk dapat menstimuli dan memacu produksi kakao di Indonesia, baru-baru ini pemerintah meluncurkan buku Kurikulum Nasional dan Modul Pelatihan Budi Daya Berkelanjutan dan Pasca Panen Kakao. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan hasil produksi kakao dan mewujudkan pertanian kakao yang berkelanjutan.

 

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
Translate »