Rumah Boboca Desa Bulutui, Zona Buka Tutup Gurita Pertama di Sulawesi Utara.

By in , ,
10
Rumah Boboca Desa Bulutui, Zona Buka Tutup Gurita Pertama di Sulawesi Utara.

Kami mulai masuk ke Desa Bulutui sejak tahun 2016, dimana desa ini terkenal sebagai desa bom ikan. Sekarang desa ini mulai menggeliat untuk lebih peduli dengan kelestarian kondisi ekosisitem pesisirnya, terutama kawasan lautnya. Inisiasi zona buka tutup gurita atau octopus temporary closure sudah kami mulai dari Agustus 2017, dan dipenghujung tahun 2019, tanggal 28 Desember 2019 zona ini masuk dalam Peraturan Kepala Desa (PERKADES) No. 1 tahun 2019 yang ditandatangani oleh Bapak Aswadi Sahari selaku Kepala Desa Bulutui. PERKADES ini juga mengatur sanksi untuk nelayan yang melanggar peraturan yaitu:

  1. Peringatan lisan bagi nelayan yang pertama kali tertangkap menangkap gurita di zona ini.
  2. Pemanggilan menghadap kepala desa dan menandatangani surat pernyataan untuk tidak mengulangi menangkap gurita di zona ini, untuk yang tertangkap kedua kalinya.
  3. Diproses ke pihak kepolisian, jika sudah diperingatkan dua kali masih melanjutkan menangkap gurita di zona ini.

Gambar 1. Penandatangan Peraturan Kepala Desa No. 1 Tahun 2019 oleh Bapak Aswadi Sahari selaku Kepala Desa Bulutui.

Zona buka tutup gurita atau “Rumah Boboca” (sebutan warga Bulutui) merupakan salah satu upaya meningkatkan nilai ekonomi gurita dengan mengatur waktu penangkapan di salah satu lokasi tangkap gurita nelayan tradisional Bulutui. Gurita di zona ini hanya boleh ditangkap dalam waktu 3 bulan sekali dengan masa tangkap selama 7 hari, setelahnya lokasi akan ditutup kembali. Diharapkan dengan zona ini, nelayan dapat menangkap gurita dengan bobot yang besar dimana berbanding lurus dengan nilai ekonomi yang didapat.

Gambar 2. Peta lokasi Rumah Boboca atau Zona Buka Tutup Gurita Desa Bulutui.

Posisi zona buka tutup gurita berada di kawasan Napo Ila dengan luasan sebesar 22,9 Ha serta memiliki jarak terdekat dengan Desa Bulutui sejauh 1,6 km. Napo Illa merupakan salah satu lokasi tangkap gurita nelayan tradisional Desa Bulutui. Ketika Napo Illa ditutup, nelayan gurita masih bisa menangkap gurita di titik lain yang menjadi lokasi tangkap gurita nelayan tradisional di Bulutui.

Gambar 3. Keindahan bawah laut perairan Desa Bulutui (dok. Efra Wantah/Staf Yapeka)

Tahun 2016 merupakan tahun pertama kami mulai masuk ke Desa Bulutui, dahulu desa ini terkenal sebagai  desa pembom ikan di kawasan desa-desa sekitarnya. Mulai tahun 2017 hingga kini, Bulutui mulai berbenah dan menggeliat untuk menjadi desa yang lebih peduli terhadap kawasan pesisir, khususnya perairan lautnya. Sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup dari hasil laut, sehingga sangat penting untuk menjaga pesisir dan lautnya. Menjaga laut adalah menjaga masa depan anak cucu kita.

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
54321
(0 votes. Average 0 of 5)
Translate »