Taman Nasional dan Konservasi Alam

By in
2071
Taman Nasional dan Konservasi Alam

Taman Nasional lebih sering dikenal oleh masyarakat sebagai tempat rekreasi dan berpetualang sambil mengapresiasi keindahan alam sekitarnya. Namun yang perlu diperhatikan, adalah kawasan ini memiliki fungsi lain selain tempat rekreasi, dimana Taman Nasional juga merupakan tempat melestarikan flora dan fauna.

Awal Mula Sejarah

Usaha untuk mengkonsepkan Taman Nasional sudah ada sejak abad ke 18, dimana negara adidaya Amerika Serikat menetapkan Yellowstone sebagai kawasan yang dilindungi pada tahun 1872 dikarenakan kekhasan ekosistem dan keindahan alamnya. Jauh sebelumnya, Abraham Lincoln menandatangani Act of Congress tahun 1864, menetapkan lembah Yosemite dan Mariposa Grove sebagai kawasan terlindung.

Konsep Taman Nasional ini kemudian direplikasi di negara-negara lain. Di Indonesia sendiri dimulai dengan diresmikannya Kebun Raya Bogor pada tahun 1817 oleh Gubernur VOC di zaman itu, Thomas S. Raffles. Saat itu, Kebun Raya Bogor didirikan sebagai kebun koleksi berbagai spesies-spesies hutan hujan tropis dataran rendah.

Taman Nasional dan Konservasi Alam

Kawasan yang menjadi Taman Nasional biasanya merupakan kawasan dengan biodiversitas flora dan fauna yang tinggi. Sebagai kawasan dengan biodiversitas tinggi, fungsi pendirian kawasan ini adalah untuk melindungi dan ‘mengawetkan’ keanekaragaman hayati. Usaha Perlindungan dan pengawetan keanekaragaman hayati tersebut dinamakan sebagai sebuah usaha Konservasi.

Tidak Hanya Melindungi

Konservasi tidak semata-mata melindungi flora fauna yang ada di dalamnya. Konservasi tidak semata-mata mengeluarkan peraturan dan melarang masyarakat untuk mengambil sumber daya alam yang ada di dalamnya. Konservasi memerlukan sebuah keseimbangan.  Keseimbangan konservasi terwujud di dalam tiga pilar: perlindungan (protection), pengawetan (preserve) dan pemanfaatan (utilization). Aspek perlindungan dan pengawetan erat kaitannya dengan lingkungan. Sedangkan aspek pemanfaatan lebih erat kaitannya dengan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Sebuah Taman Nasional dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat sekitarnya, memberikan penghidupan melalui pengembangan ekonomi kreatif. Sebaliknya, desa-desa yang ada di sekitar kawasan ini berfungsi sebagai desa penyangga (buffer village), dimana desa dapat menjadi penyangga dan menjembatani kepentingan antara masyarakat, pemangku kepentingan terkait, serta lingkungan alam sekitarnya.

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
Translate »