Budidaya Tanaman Gaharu di Rimbang Baling

By in
2740
Budidaya Tanaman Gaharu di Rimbang Baling

Selain memanfaatkan pohon karet, masyarakat di Rimbang Baling Riau juga memanen tanaman gaharu sebagai salah satu aktivitas ekonominya. Mungkin beberapa ada yang bertanya atau pertama kali mendengar jenis pohon tersebut. Yuk kita simak apa itu gaharu berikut ini.

Apa Itu Pohon Gaharu?

Gaharu merupakan kayu berwarna kehitaman dan mengandung resin yang khas. Gaharu merupakan pohon bagian dari genus Aquilaria, terutama A. malaccensis, yang dihasilkan dari luka tanaman berkayu yang dapat dihasilkan secara alami. Ketika dahan pohon patah, pohon Gaharu akan menghasilkan senyawa fitoaleksin sebagai pertahanan dari mikroba. Resin yang dihasilkan berwarna coklat dan berbau harum. Bagian inilah yang diambil beserta kayunya.

kayu gaharu
Tanaman gaharu, Aquilaria malaccensis (foto: google)

Pohon ini dapat dipanen apabila sudah mencapai usia 5 tahun setelah penanaman bibit. Umumnya berdiameter 40 sentimeter dengan tinggi dapat mencapai 40 meter. Bila dikonversi, satu pohon dapat menghasilkan puluhan kayu gaharu.

Bernilai Ekonomi Tinggi

Tanaman gaharu memiliki nilai jual sangat tinggi, bahkan bisa lebih tinggi dari kayu jati sekalipun, terutama untuk gaharu dari tanaman famili Themeleaceae. Gaharu yang punya nilai jual tinggi disebut sebagai gaharu beringin. Sedangkan gaharu dengan nilai jual rendah umum disebut gaharu buaya. Selain berdasarkan pohon asalnya, gaharu juga ditentukan dari banyaknya resin yang terkandung di kayu tersebut.  

Pohon ini konon dipercayai oleh orang-orang Arab berasal dari surga. Oleh karenanya, banyak kayu jenis ini yang diekspor ke Timur Tengah dalam jumlah yang cukup besar.

Paling rendah untuk 1 kilogram kayu gaharu dihargai 300 ribu rupiah. Sedangkan paling tinggi bisa dihargai 100 juta per kilogramnya. Rata-rata kayu gaharu dihargai seharga 35 juta rupiah per kilogramnya.

Masuk daftar IUCN

Permintaan pasar (demand) dan harga tinggi. Dua hal itu menyebabkan tekanan terhadap pohon gaharu menjadi sangat tinggi. Dulu, masyarakat di Rimbang Baling menuturkan bisa dengan mudah menemukan tanaman gaharu di hutan, namun sekarang sudah sangat jarang. Hal ini disebabkan karena masyarakat hanya mengambil tapi tidak membudidayakan tanaman tersebut.

IUCN (International Union for Conservation of Nature) menetapkan spesies pohon gaharu ke dalam kategori Critically Endangered. Apabila pohon gaharu terus menerus diambil tanpa ada upaya konservasi, kelak dalam beberapa generasi ke depan, pohon gaharu bisa punah.

Membudidayakan Tanaman Gaharu

Sebagai upaya melestarikan dan mengajak masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan konservasi, Tim Konsorsium IMBAU yang terdiri dari Perkumpulan YAPEKA, INDECON, WWF, melakukan inisiasi budidaya tanaman gaharu. Upaya budidaya ini dilakukan agar masyarakat dapat menanam sendiri gaharu di kebun mereka tanpa harus pergi ke hutan.

pelatihan inokulasi gaharu
Pelatihan inokulasi tanaman gaharu (foto: dok Perkumpulan YAPEKA)

Upaya budidaya dilakukan pertama-tama dengan inokulasi, pemetaan pohon gaharu, dan pembibitan. Pelatihan budidaya ini diikuti oleh sejumlah desa di Rimbang Baling. Harapannya budidaya pohon gaharu ini dapat menjadi alternatif mata pencaharian masyarakat Rimbang Baling.

 

Translate »