Tungku Sehat Hemat Energi, Garam, dan Pengurangan Emisi

By in
603
Tungku Sehat Hemat Energi, Garam, dan Pengurangan Emisi

Garam merupakan salah satu bumbu masakan yang paling sering digunakan di dapur. Sehari-hari kita mengkonsumsi mineral yang satu ini. Karena tanpa garam, masakan akan terasa hambar dan kurang gurih. Di Indonesia sendiri yang merupakan negara maritim, produksi per tahunnya mencapai 2,9 juta ton (berdasarkan data tahun 2015). Jumlah yang tinggi tersebut membuat negara kita menjadi salah satu pengekspor garam terbesar se-Asia Tenggara.

Cara Sederhana Membuat Garam

Ada berbagai macam cara pembuatan kristal asin ini. Salah satunya metode tradisional yaitu dengan cara ‘merebus’ dan ‘menjemur’ air laut. Kedua metode tersebut memiliki prinsip yang sama, yaitu memanaskan air hingga menguap sehingga hanya menyisakan kristal garam. Metode menjemur air laut cukup dengan membuat petak-petak khusus lalu menjemurnya di terik matahari selama kurang lebih tujuh hari.

Sedangkan metode merebus memerlukan tungku api. Caranya, air laut direbus hingga airnya menguap sehingga hanya menyisakan kristal-kristal. Perbedaan dari kedua metode ini hanyalah pada hasil akhirnya, dimana kristal lebih halus yang direbus ketimbang dijemur. Akan tetapi cara ini menyisakan efek samping, selain dari kurang efisiennya pembakaran juga tingginya emisi karbon dioksida yang dikeluarkan akibat pembakaran kayu tersebut.

Mengurangi Emisi dengan Tungku Sehat Hemat Energi (TSHE)

Di daerah pesisir, merebus garam menjadi salah satu aktivitas alternatif selain melaut bagi para masyarakatnya. Aktivitas perekonomian di Desa Wautasa di Nusa Tenggara Barat contohnya, meskipun pada umumnya lebih didominasi oleh sektor pertanian, namun desa ini juga memiliki potensi dalam sektor kelautan dan perikanan seperti penangkapan ikan skala kecil. Garam direbus menggunakan tungku sederhana yang dipanaskan dengan membakar kayu bakar yang tidak sedikit jumlahnya. Hal ini membuat emisi karbon yang cukup tinggi, yaitu sekitar 300.730,80 Kg CO2 per tahunnya.

Untuk mengurangi emisi karbon yang ditimbulkan dari pembakaran kayu bakar, Perkumpulan YAPEKA bersama-sama dengan PKSPL-IPB dan Lembaga Transform Mataram yang tergabung dalam Blue Carbon Consortium mencoba untuk membuat demoplot berupa Tungku Sehat Hemat Energi (TSHE). Uji coba demoplot  TSHE terbukti dapat mengurangi emisi sebanyak 50% menjadi 168.677,45 Kg CO2 per tahunnya.

Diharapkan kedepannya, dibangunnya demoplot ini akan mengurangi emisi karbon yang dikeluarkan dari perebusan garam rebus.

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
Translate »