Karet Alam: Pasar Global dan Tantangannya
Karet alam masih menjadi komoditas strategis dunia. Namun, data ANRPC (2025) menunjukkan produksi global hanya tumbuh 0,3%, sementara permintaan naik 1,8%. Defisit ini menekan rantai pasok karet global. Industri juga menghadapi fluktuasi harga, konversi lahan ke sawit, dan dampak perubahan iklim di negara produsen. Situasi ini mendorong pentingnya pengembangan karet berkelanjutan agar pasokan tetap stabil.
Desa Wayau: Sentra Karet Tabalong Kalimantan Selatan
Di Indonesia, karet bukan sekadar bahan industri, tetapi juga sumber utama penghidupan petani. Desa Wayau, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, memiliki lebih dari 1.000 hektar perkebunan karet rakyat. Sejak 1960-an, karet menjadi tulang punggung ekonomi lokal.
Namun, peluang pasar global belum sepenuhnya dinikmati petani. Produktivitas rendah, harga fluktuatif, serta keterbatasan inovasi budidaya masih menjadi kendala utama.
Studi Kelayakan: Kolaborasi Multi Pihak
Sebagai bagian dari proyek “From Farm to Tire”, PT Gajah Tunggal, YAPEKA, dan PT BAS melaksanakan studi kelayakan di Desa Wayau pada Juli 2025. Tujuannya adalah:
- Mengidentifikasi kondisi terkini perkebunan karet rakyat.
- Menilai tantangan teknis, sosial-ekonomi, dan lingkungan.
- Mengeksplorasi peluang diversifikasi agroforestri.
Metode pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan petani, pengepul, kelompok tani, pemerintah daerah, serta FGD (Focus Group Discussion).

Temuan Utama: Produktivitas Turun, Tapi Ada Harapan
Lebih dari 90% rumah tangga di Desa Wayau bergantung pada karet, tetapi produktivitas turun hingga 50%.

Faktor Penyebab Penurunan Produktivitas
- Usia tanaman melewati masa produktif.
- Praktik budidaya kurang optimal.
- Serangan hama dan penyakit seperti jamur akar putih.

Meski demikian, studi menegaskan sektor ini masih prospektif. Dukungan pemerintah daerah, peran penting perempuan dalam rantai pasok, serta eksistensi kelompok tani menjadi modal sosial yang kuat. Rekomendasi kunci meliputi penerapan Good Agricultural Practices (GAP), pengendalian hama terpadu (IPM), peremajaan karet, praktik organik, serta kolaborasi lintas pihak untuk mewujudkan perkebunan karet berkelanjutan.
Agroforestri: Diversifikasi dan Ketahanan Ekonomi
Selain karet, peluang diversifikasi agroforestri juga dinilai. Dari 16 komoditas bernilai ekonomi, dua tanaman komoditas direkomendasikan:
Kopi Robusta
Sesuai dengan agroklimat Desa Wayau, memiliki pasar luas, dan memberi tambahan pendapatan petani.
Jahe Emprit
Bernilai ekonomi tinggi, berpotensi ekspor, sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi petani karet.
Analisis finansial menunjukkan kedua komoditas layak secara ekonomi sekaligus memberi manfaat sosial-lingkungan.
Arah Pengembangan: Partisipatif dan Berkelanjutan
Strategi yang disarankan untuk pengembangan ke depan meliputi:
- Pembuatan kebun percontohan.
- Pelatihan petani agar lebih adaptif.
- Pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
- Dukungan pembiayaan inklusif untuk petani kecil.
Dengan langkah bertahap, Desa Wayau berpotensi menjadi contoh pengembangan karet berkelanjutan dan agroforestri di Tabalong Kalimantan Selatan. Upaya ini bukan hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga memperkuat kontribusi Indonesia dalam rantai pasok karet global, membuka jalan menuju peluang usaha berkelanjutan yang lebih inklusif.



