Oleh: Agustinus Wijayanto.
Kolaborasi untuk Konservasi dan Pemberdayaan
Pada 7–12 Oktober 2025, Konsorsium KERABAT (YAPEKA, INDECON, dan Forum Harimau Kita) yang didukung IUCN/KfW, melaksanakan kegiatan pembelajaran kolaboratif di Terai Arc, Nepal. Kegiatan ini mencakup kunjungan ke Taman Nasional Banke dan Taman Nasional Bardia, serta difasilitasi oleh ZSL Nepal.

Tujuan utama kegiatan ini adalah memperkuat kerja sama lintas negara. Melalui kegiatan tersebut, para peserta belajar bagaimana kolaborasi dapat mendorong konservasi harimau dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Pembelajaran dari Nepal: Keterlibatan Komunitas sebagai Kunci
Selain itu, kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi organisasi masyarakat sipil Indonesia. Mereka mempelajari pendekatan konservasi berbasis komunitas di Nepal. Pendekatan tersebut menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga keseimbangan ekologi dan sosial.
Selama tiga hari kunjungan, tim KERABAT mengunjungi kelompok masyarakat di sekitar taman nasional. Mereka berdiskusi dengan pengelola taman dan mitra LSM. Dengan demikian, peserta memahami strategi konservasi berbasis komunitas yang telah terbukti efektif di Nepal.
Strategi Konservasi Berbasis Masyarakat
Strategi tersebut meliputi tata kelola hutan berbasis masyarakat, pengembangan ekowisata, dan insentif konservasi. Pendekatan ini juga melibatkan kelompok perempuan dan pemuda dalam kegiatan ekonomi lokal. Akibatnya, masyarakat memiliki kepentingan langsung terhadap keberhasilan konservasi.

Salah satu pelajaran penting adalah bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari populasi satwa. Namun, juga dari peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar. “Keterlibatan masyarakat adalah fondasi utama keberlanjutan,” ujar salah satu fasilitator komunitas di Taman Nasional Bardia.
Penguatan Sistem Pembelajaran dan Evaluasi
Setelah kegiatan lapangan, peserta mengikuti sesi diskusi dengan ZSL Nepal dan pengelola taman nasional. Dalam sesi tersebut, tim KERABAT berbagi pengalaman penerapan sistem Monitoring, Evaluation, and Learning (MEL) di Indonesia. Sistem ini membantu refleksi berkelanjutan dan peningkatan kapasitas lokal.
Namun, setiap wilayah memiliki tantangan yang berbeda. Dari dinamika sosial hingga tekanan ekologis, semua memengaruhi pendekatan konservasi. Meski begitu, semangat belajar lintas batas memperkaya strategi dan memperkuat jejaring antarnegara.
Menuju Kolaborasi Regional yang Berkelanjutan
Sebagai hasilnya, organisasi di kedua negara menemukan nilai bersama, membangun kepercayaan, memperkuat kapasitas lokal, dan menjaga keberlanjutan pasca-proyek. Kolaborasi seperti ini membuktikan bahwa konservasi efektif memerlukan sinergi antara manusia dan alam.
Pada akhirnya, kegiatan di Terai Arc menjadi simbol pertukaran pengetahuan yang berkelanjutan. Proses ini menunjukkan bahwa pembelajaran bersama dapat melampaui batas geografis. Selain itu, pengalaman di Nepal membuka inspirasi bagi penerapan model konservasi berbasis komunitas di Indonesia.



