Workshop ‘Update Perkembangan Science Seagrass dan Dugong di Indonesia’: Perkuat Dasar Ilmiah dan Kolaborasi Konservasi

Workshop ‘Update Perkembangan Science Seagrass dan Dugong di Indonesia’: Perkuat Dasar Ilmiah dan Kolaborasi Konservasi

Oleh: YAPEKA

Lamun Indonesia memiliki posisi yang sangat penting dalam upaya konservasi dugong di tingkat regional maupun global. Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai yang luas dan sebaran padang lamun yang mencapai 660.156 hektar (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2025), Indonesia diperkirakan menjadi salah satu habitat utama dugong (Dugong dugon) di kawasan Indo-Pasifik. Berbagai temuan lapangan di wilayah seperti Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua menunjukkan bahwa keberadaan dugong masih dapat ditemukan secara konsisten, meskipun data populasi nasional saat ini masih memerlukan pembaruan dan standardisasi.

Keterangan Foto: E. acoroides, T. hemprichii S. isoetifolium (kiri), H. spinulosa (kanan atas) dan H. ovalis (kanan bawah).
© YAPEKA

Dugong sangat bergantung pada ekosistem padang lamun sebagai sumber pakan utama. Padang lamun berfungsi sebagai feeding ground sekaligus ruang jelajah penting, dengan jenis yang dikonsumsi terbatas pada genus tertentu seperti Halophila, Halodule, dan Cymodocea. Oleh sebab itu, kondisi lamun berpengaruh langsung terhadap kelangsungan hidup dugong. Padang lamun juga merupakan salah satu ekosistem pesisir paling produktif. Lamun berperan dalam penyerapan karbon biru, perlindungan garis pantai, serta mendukung produktivitas perikanan. Dengan fungsi tersebut, lamun tidak hanya penting bagi keanekaragaman hayati, tetapi juga bagi ketahanan ekosistem pesisir dan kesejahteraan masyarakat.

Di Indonesia, pengelolaan lamun tidak hanya berdampak secara nasional, tetapi juga berkontribusi terhadap populasi dugong di tingkat regional. Hal ini dikarenakan status Asia Tenggara sebagai penyumbang porsi signifikan terhadap populasi dugong dunia beserta habitatnya. Letak Indonesia di persimpangan samudera menjadikannya jalur penting migrasi dan pertukaran genetik megafauna laut termasuk dugong, sehingga menempatkan Indonesia sebagai aktor kunci dalam kerjasama konservasi dugong di tingkat regional maupun global.

Keterangan Foto: Keynote speaker oleh Sarmintohadi, S.Pi., M.Si, Direktur Konservasi Spesies dan Genetik, Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan, Kementerian Kelautan dan Perikanan. © YAPEKA

Dalam rangka memperkuat upaya konservasi tersebut, YAPEKA bersama CMS-Dugong MoU menyelenggarakan Workshop “Update Perkembangan Science Seagrass dan Dugong di Indonesia” yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat pada 17 April 2026 lalu. Workshop ini menjadi ruang diskusi sekaligus integrasi kolaborasi lintas sektor dengan dipaparkannya langkah Indonesia ke depan dalam implementasi Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Dugong dan Lamun 2026 – 2029 oleh Setiono dari Direktorat Konservasi Spesies & Genetik, Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Bergabung secara daring, Abdelmenam Mohamed dan Philippa Loates selaku perwakilan CMS-Dugong MoU turut memaparkan perkembangan konservasi dugong dunia serta mendorong peran Indonesia dalam inisiatif global, termasuk potensi keterlibatan dalam CMS Dugong MoU.

Keterangan Foto: Perwakilan CMS-Dugong MoU Abdelmenam Mohamed dan Philippa Loates yang hadir secara daring.
© YAPEKA

Pemaparan juga mencakup temuan teranyar riset dugong dan lamun di Indonesia oleh Akbar Ario Digdo selaku CEO YAPEKA, meliputi studi genetik, distribusi sebaran dugong dan lamun di Indonesia, pemanfaatan drone untuk pemantauan populasi lokal, penggunaan hydromoth untuk memetakan pola perilaku dugong, serta teridentifikasinya spesies lamun baru di Indonesia akhir-akhir ini. Dari sisi inisiatif lapangan, Mikaela Clarissa, Founder Tamang Dugong, memaparkan pendekatan edukatif menyenangkan yang telah dilakukan Tamang Dugong, termasuk pengembangan metode permainan dan penciptaan ruang dialog inklusif yang mudah diakses masyarakat, sebagai upaya penyadartahuan. Selain itu, diperkenalkan juga JumpaDugong, platform citizen science hasil kolaborasi YAPEKA dan Tamang Dugong, untuk memetakan perjumpaan dugong di Indonesia melalui pendekatan partisipatif, baik dalam keadaan hidup maupun terdampar.

Keterangan Foto: Pemaparan materi workshop oleh Direktorat Konservasi Spesies & Genetik, DJPK, KKP; YAPEKA; dan Tamang Dugong. © YAPEKA

Diskusi yang berlangsung menjadi dasar dalam merumuskan langkah tindak lanjut, baik dalam penguatan data, pengelolaan ekosistem, maupun kolaborasi lintas sektor dan negara. Di samping itu, diskusi juga mendorong adanya inisiasi untuk pembentukan forum dugong Indonesia yang didukung peran aktif pemerintah pusat serta seluruh CSO/NGO yang bergerak aktif dalam kegiatan pesisir. Melalui upaya ini, diharapkan pengelolaan konservasi dugong dan lamun di Indonesia dapat menjadi semakin kuat, tidak hanya sebagai langkah nyata untuk memastikan keberlanjutan populasi dugong di masa mendatang, tetapi juga sebagai strategi mitigasi perubahan iklim.

YAPEKA

YAPEKA

YAPEKA merupakan lembaga non-profit yang bergerak dalam Pemberdayaan Masyarakat dan Konservasi Alam.

Tentang Kami

YAPEKA
YAPEKA

YAPEKA merupakan lembaga non-profit yang bergerak dalam Pemberdayaan Masyarakat dan Konservasi Alam.

Hubungi Kami

Kami sangat terbuka akan usul, saran, dan kritik. Bila ada pertanyaan lebih lanjut hubungi kami.