
Lomba Mewarnai
YAPEKA berkolaborasi dengan NIRAS, mengupayakan alternatif mata pencaharian melalui budidaya Spirulina yang bernilai ekonomi, melalui kegiatan penyadartahuan generasi muda
Home > Laporan Program
Pemberdayaan masyarakat adalah kunci untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan
IUCN/KfW through ITHCP-Phase III funded KERABAT Consortium, led by YAPEKA in collaboration with INDECON and Forum HarimauKita (FHK) in Rimbang-Baling Wildlife Reserve (RBWR), Central Sumatera-Indonesia and cooperated with BBKSDA Riau Province, which is a unique area for the remaining tiger population and the local community in the central Sumatran landscape.
Running from August 2022 to March 2025, the project’s objective is to ensure that “People in Rimbang Baling landscape recognise the value of and actively engage in protecting tigers, as a result of inclusive conservation and improved human well-being”. This will promote inclusive tiger conservation and sustainable livelihoods in RBWR. The project is implemented in seven villages, five of which are located inside the RBWR and two adjacent to the RBWR. Those target villages are Tanjung Belit, Muara Bio, Batu Sanggan, Tanjung Beringin, Gajah Bertalut, Aur Kuning, and Terusan.
Indonesia, ranked the world’s 3rd-largest shark exporter, still relies heavily on small scale shark fisheries, especially in Sangihe Islands where 99% of Batuwingkung fishers depend on sharks for their livelihood. Our 2023–2024 study recorded 343 sharks (15.179 kg) across eight species, most listed as Vulnerable to Near Threatened, with silky shark dominating the catch. Fishing peaks from September to April, concentrated in Napo Nenung and Napo Bowone, where CPUE and effort are highest. Strong historical trade ties with buyers since the 1960s persist, yet two of four active buyers lack permits, and most households remain economically vulnerable. Signs of stock pressure are evident from the 4:1 adult–juvenile ratio. Strengthened policy enforcement, improved fisher awareness, and the development of ecotourism as alternative income are urgently needed to support sustainable shark conservation in Sangihe.
The KERABAT Consortium, supported by KfW/IUCN, conducted participatory land use mapping in seven RB Wildlife Reserve (RBWR) villages to identify land use patterns and promote sustainable livelihoods. Activities included mapping training, discussion series, field surveys, consultations, and land use planning. The project revealed extensive mixed rubber forests vital for local livelihoods and identified potential communal lands for optimal use, supporting biodiversity protection and community sustainability.
The feasibility study was conducted around Rimbang Baling Wildlife Reserve and focused on five primary commodities: agarwood, durian, petai, rattan manau, and dragon blood. Recommendations include developing these NTFPs in designated blocks, using local resources, building community capacity, and strengthening market access through agreements between farmers and buyers for sustainable development.
The rubber feasibility study aims to value chains, market chains, rubber community development options, and potential rubber businesses from village to provincial levels. This study identified several key stakeholders including smallholders, middlemen, traders, and a rubber factory in Jambi. This study highlighted price fluctuations along the value chain and proposed strategies to enhance community livelihoods through several initiatives, such as facilitating potential partners and capacity building to increase rubber production.
The study aims to identify existing and potential economic activities, assess business feasibility, and formulate policies for sustainable inland fisheries development to support community livelihood in the Subayang River area (Rimbang Baling Wildlife Area). This study highlighted ‘Lubuk Larangan’, a fisheries management based on local wisdom to restrict fishing activities for a certain period of time.
Bukit Rimbang Bukit Baling Wildlife Reserve (BRBB WR/SM BRBB) in Riau Province, Indonesia is managed under the Block Management System, and the reserve is divided into: Protection Block, Utilization Block, Rehabilitation Block, Special Block and Religious, Cultural and Historical Block.
About 3,278.67 Ha of mixed-rubber plantations are located in the Protection Block, and access restrictions in the current Protection Block has affected more than 90% of communities in five villages inside SM BRBB (In Batu Sanggan, Tanjung Beringin, Gajah Bertalut, Aur Kuning and Terusan villages) as village communities are still using and depend on the mixed-rubber plantation areas in the protection block.
To understand the impact of access restrictions in the Protection Block of SM BRBB, an analysis of access restrictions was performed adopting the IUCN Guideline for mitigating impacts of access restrictions.
A series of discussion and socioeconomic surveys was conducted to update socioeconomic information about he communities living within and around the Rimbang Baling Wildlife Reserve Landscape, Riau, Sumatra. This document includes more specific information on seven villages within and around Rimbang Baling Wildlife Reserve, which are the key villages for the Tiger Programme (ITHCP) Phase III work between 2022 and 2024.
Rimbang Baling didiami oleh masyarakat yang telah lama tinggal di Kawasan tersebut sebelum ditetapkan sebagai suaka margasatwa. Setidaknya terdapat 24 desa di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar dan 7 diantaranya merupakan desa-desa yang menjadi focus pendampingan Konsorsium KERABAT. Desa-desa tersebut telah memiliki Rencana Pengelolaan Jangka Menengah Desa (RPJM Desa) yang merupakan bagian penting dalam perencanaan pembangunan. Saat ini, terdapat tantangan dikarenakan adanya pengelolaan blok kawasan suaka margasatwa, dimana terdapat 5 desa yang masuk dalam kawasan SM dan Sebagian kebun milik masyarakat (karet) berada dalam blok perlindungan. Untuk itu diperlukan pendekatan dalam pengelolaan kawasan konservasi dan pengembangan mata pencaharian masyarakat.
Bersama Melindungi: YAPEKA untuk Pemberdayaan dan Konservasi Alam.

YAPEKA berkolaborasi dengan NIRAS, mengupayakan alternatif mata pencaharian melalui budidaya Spirulina yang bernilai ekonomi, melalui kegiatan penyadartahuan generasi muda

khususnya para nelayan penangkap gurita melakukan pembukaan kawasan “temporary closure” atau rumah boboca untuk yang ke 2 kalinya.

“Masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam upaya perlindungan kawasan pesisir dan perikanan berkelanjutan di wilayah ini yang merupakan bagian dari kawasan pusat segitiga karang dunia,” kata Duta Besar Republik Federal Jerman, Ina Lepel dalam sambutannya.

YAPEKA membuka kesempatan untuk kawan-kawan yang tertarik belajar bersama masyarakat serta mengaplikasikan ilmu dalam kegiatan Volunter YAPEKA di bidang Pemetaan Dugong. Dalam mendukung pemetaan dugong, YAPEKA membuka kesempatan bagi mahasiswa/fresh graduate untuk terlibat dalam pemetaan ini sebagai Volunter Asisten Riset Pemetaan Dugong.

Pada tanggal 18 – 19 Mei 2022, tim Yapeka bersama mitra dalam jejaring Yayasan Pesisir Lestari (YPL), melakukan diskusi terkait UU terkait pengelolaan pesisir yang berkembang hingga saat ini

Indonesia merupakan negara maritim, hal ini diperkuat data luas lautan yang ada di perairan Indonesia dengan total luas 5.8 Juta km². Memiliki sumber daya alam serta keindahan yang tidak terbatas, Indonesia telah memikat wisatawan domestik hingga mancanegara. Hamparan pasir putih di sisi laut, menyuguhkan pesona yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

peningkatan kapasitas POKDARWIS melalui pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di Kawasan TNP Laut Sawu di Kabupaten Sumba Timur. Dalam kegiatan ini, turut hadir juga Perwakilan dari BKKPN Kupang yang diwakili oleh Bpk. Joshua Argentino Tampubolon beserta tim.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai program Sapta Pesona dan Desa Wisata. Selain itu peserta juga dilatih untuk membuat rencana tapak (site plan) desa dan paket wisata desa di masing-masing lokasi.

Oleh: YAPEKA Lamun Indonesia memiliki posisi yang sangat penting dalam upaya konservasi

Berlangsung sejak November 2025, YAPEKA mendorong inisiatif Blue Economy Empowerment through Sustainable
Membantu Pemberdayaan Masyarakat dan Melestarikan Alam sebagai Relawan bersama YAPEKA!
Mengenalkan alam dan keanekaragaman hayati di Indonesia melalui aktivitas kegiatan di masyarakat dan lingkungan guna membangun kesadaran akan pentingnya kelestarian dan kelangsungan hidup keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya.
Dapatkan informasi terbaru dari kami
2023 Yapeka. All rights reserved.