Kemunculan Dugong di Perairan Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Timur

By in
8
Kemunculan Dugong di Perairan Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Timur

Dugong atau populer disebut duyung, merupakan mamalia besar dengan nama ilmiah Dugong dugon yang masuk dalam ordo Sirenia dan famili Dugongidae. Dilansir dari laman Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dugong memiliki panjang antara 2,4 – 3 meter dengan berat 230 – 930 kg. Mamalia herbivora ini menghabiskan waktu untuk makan di padang lamun yang berkondisi baik, sehingga sering dijadikan sebagai bio-indikator kondisi ekosistem lamun.

Habitat dugong ini merupakan perairan laut tropis yang kaya akan sebaran lamun, salah satunya adalah Indonesia. Sebaran dugong di Indonesia, bisa dijumpai di perairan Sulawesi Utara, Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara, pantai selatan Kalimantan dan Jawa, Sumatera, barat laut dan tenggara Jawa, dan Maluku. Dimana perairan wilayah ini kaya akan ekosistem lamun.

Dugong di Sulawesi Utara

Sulawesi Utara, dengan total garis pantai sepanjang 2.395,99 Km (KKP, 2018), cukup kaya akan sebaran ekosistem lamun di pesisirnya. Kondisi ini cukup mengindikasikan, wilayah ini memiliki catatan mengenai distribusi dugong di wilayah pesisirnya.

Gambar 1. Dokumentasi Penampakan Dugong di Sangihe (Foto: Faisal Umar).

Berdasarkan keterangan beberapa narasumber, mereka pernah beberapa kali melihat dugong di perairan Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Timur. Terbaru, Sabtu (3/9/2022), Jhonlihar Mamuka menyampaikan, menjumpai dugong saat menyelam di perairan Kampung Moronge, Kec. Nusa Tabukan, Kab. Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara dengan panjang 2 meter dan berjenis kelamin betina. Sebelumya, ia juga pernah menjumpai dugong di beberapa titik lokasi lainnya seperti di wilayah Tahuna di waktu yang berbeda-beda. 

Dugong juga dijumpai di wilayah perbatasan antara Desa Bahoi dan  Desa Serei, Likupang  Barat, Minahasa Utara. Dugong yang berukuran 3 meter dan berjenis kelamin betina ini dilihat sekitar pukul 17.20 WITA oleh Joandi Arendege. Perairan di Likupang Barat secara umum memang diketahui memiliki kondisi yang mendukung populasi dugong dengan kondisi padang lamun yang tergolong rapat dengan jumlah lamun yang cukup tinggi, yaitu terdapat hingga tujuh jenis lamun. Berikut, catatan perjumpaan dugong yang kami rangkum dari beberapa narasumber:

Gambar 2. Data perjumpaan Dugong di Sulawesi Utara (sumber; Jhonlihar Mamuka & Joandi Arendege).

Dugong di Nusa Tenggara Timur

Nusa Tenggara Timur, salah satu provinsi di Indonesia yang di anugerahi dengan pantai-pantai cantik di pesisirnya. Memiliki garis pantai sepanjang 5.700 Km (BPS NTT, 2019), yang terisi sebaran padang lamun, habitat utama Dugong.

Pulau Rote, yang memiliki berbagai keanekaragaman hayati dan biota laut dengan dasar perairan berpasir, lumpur berpasir, serta pasir berbatu yang ditumbuhi beberapa ekosistem lamun dan terumbu karang. Kondisi ekosistem ini, cukup mendukung adanya catatan perjumpaan Dugong di Rote.

Esau Loe, seorang tokoh adat, menyampaikan, pernah melihat Dugong melintas saat melaut di Pantai Litianak, Rote Barat, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Kamis (25/08/2022). Dugong diperkirakan mempunyai ukuran sepanjang 1,5 meter, dengan jenis kelamin jantan.

Secara umum, dokumentasi perjumpaan dugong di Indonesia masih sporadis dan terpecah-pecah. Perlu upaya penyatuan data perjumpaan Dugong (dengan berbagai kondisi), guna memperkuat data sebaran Dugong di Indonesia. YAPEKA, saat ini sedang berusaha untuk mendokumentasikan beberapa catatan-catatan perjumpaan Dugong yang ada. Harapannya, kita bisa melihat kondisi Dugong dan habitatnya, sehingga kita bisa melakukan upaya mitigasi terhadap hal-hal yang berdampak negatif terhadap kondisi Dugong di Indonesia.

Artikel oleh Bella/Ayi/Yapeka

Bagikan artikel ini
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
54321
(0 votes. Average 0 of 5)
Translate »