
Sekilas Nelayan Gurita
Profesi sebagai nelayan yang telah di gelutinya selama 15 tahun, hingga saat ini masih aktif sebagai nelayan gurita
Home > About Us
Pemberdayaan masyarakat adalah kunci untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan
Laporan Kegiatan
The KERABAT Consortium, supported by KfW/IUCN, conducted participatory land use mapping in seven RB Wildlife Reserve (RBWR) villages to identify land use patterns and promote sustainable livelihoods. Activities included mapping training, discussion series, field surveys, consultations, and land use planning. The project revealed extensive mixed rubber forests vital for local livelihoods and identified potential communal lands for optimal use, supporting biodiversity protection and community sustainability.
The feasibility study was conducted around Rimbang Baling Wildlife Reserve and focused on five primary commodities: agarwood, durian, petai, rattan manau, and dragon blood. Recommendations include developing these NTFPs in designated blocks, using local resources, building community capacity, and strengthening market access through agreements between farmers and buyers for sustainable development.
The rubber feasibility study aims to value chains, market chains, rubber community development options, and potential rubber businesses from village to provincial levels. This study identified several key stakeholders including smallholders, middlemen, traders, and a rubber factory in Jambi. This study highlighted price fluctuations along the value chain and proposed strategies to enhance community livelihoods through several initiatives, such as facilitating potential partners and capacity building to increase rubber production.
The study aims to identify existing and potential economic activities, assess business feasibility, and formulate policies for sustainable inland fisheries development to support community livelihood in the Subayang River area (Rimbang Baling Wildlife Area). This study highlighted ‘Lubuk Larangan’, a fisheries management based on local wisdom to restrict fishing activities for a certain period of time.
A series of discussion and socioeconomic surveys was conducted to update socioeconomic information about he communities living within and around the Rimbang Baling Wildlife Reserve Landscape, Riau, Sumatra. This document includes more specific information on seven villages within and around Rimbang Baling Wildlife Reserve, which are the key villages for the Tiger Programme (ITHCP) Phase III work between 2022 and 2024.
Modul
Pemanfaatan Kawasan Konservasi Perairan oleh Masyarakat secara Berkelanjutan di Laut Sawu
Pemanfaatan Kawasan Konservasi Perairan oleh Masyarakat Secara Berkelanjutan di Laut Sawu
Pemanfaatan Kawasan Konservasi Perairan oleh Masyarakat Secara Berkelanjutan di Laut Sawu
Pemanfaatan Kawasan Konservasi Perairan oleh Masyarakat secara Berkelanjutan di Laut Sawu
Pemanfaatan Kawasan Konservasi Perairan oleh Masyarakat secara Berkelanjutan di Laut Sawu
Buku
Kumpulan Paket-Paket Kegiatan Desa yang Mendukung Pelestarian Wilayah Pesisir Laut
Kegiatan Penyuluhan ke sekolah sekolah dasar tentang perlindungan kawasan Taman Nasional Way Kambas sebagai habitat Badak Sumatra
Jurnal
By V A Wicaksono, A M Nasution, A R Putriraya, and A Digdo
By T S A Meidina, MM Kamal, F Kurniawan, H S Darusman and A Digdo
Karya Ilmiah
By Bart Martijn van Woerden
By Andronicus
Kajian mengenai sosio-ekologi, ekonomi, dan budaya serta kawasan konservasi perairan berbasis masyarakat di pesisir Kabupaten Kepulauan Sangihe ini bertujuan untuk menggali potensi ekologi, sosial, ekonomi, dan budaya wilayah tersebut. Kajian ini juga mengidentifikasi strategi efektif untuk pelestarian ekosistem dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. Pendekatan berbasis masyarakat diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap keseimbangan ekosistem serta keberlanjutan ekonomi dan sosial di Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Bersama Melindungi: YAPEKA untuk Pemberdayaan dan Konservasi Alam.

Profesi sebagai nelayan yang telah di gelutinya selama 15 tahun, hingga saat ini masih aktif sebagai nelayan gurita

Lubuk larangan merupakan cerita nyata, kearifan lokal menjaga kelestarian lingkungan hingga saat ini

Musim hujan di sertai dengan kelembaban, seringkali datang beragam penyakit penyerta seperti flu, batuk, demam berdarah dan penyakit lainnya.
Dugong (Dugong dugon) merupakan mamalia herbivora laut dilindungi yang memiliki populasi di Indonesia pada tahun 1970-an berjumlah sekitar 10.000 ekor dan diperkirakan pada tahun 1994 jumlahnya hanya sekitar 1.000 ekor. Berdasarkan Undang Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati dan Ekosistemnya, dugong dikategorikan sebagai satwa yang dilindungi.

Salah satu fungsi utama sebagai nursery Ikan atau tempat pemijahan beragam jenis ikan alami bagi nelayan, akan tetapi pemanfaatan yang berlebihan yang kurang ramah lingkungan menjadikan terumbu karang rusak juga karena faktor alam.

Indonesia merupakan negara maritim, hal ini diperkuat data luas lautan yang ada di perairan Indonesia dengan total luas 5.8 Juta km². Memiliki sumber daya alam serta keindahan yang tidak terbatas, Indonesia telah memikat wisatawan domestik hingga mancanegara. Hamparan pasir putih di sisi laut, menyuguhkan pesona yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Menikmati keindahan alam dengan beragam cara, salah satunya bersepeda dengan melalui berbagai aktivitas kehidupan di @desawisata_alamendah.

Oleh: YAPEKA Lamun Indonesia memiliki posisi yang sangat penting dalam upaya konservasi

Berlangsung sejak November 2025, YAPEKA mendorong inisiatif Blue Economy Empowerment through Sustainable
Membantu Pemberdayaan Masyarakat dan Melestarikan Alam sebagai Relawan bersama YAPEKA!
Mengenalkan alam dan keanekaragaman hayati di Indonesia melalui aktivitas kegiatan di masyarakat dan lingkungan guna membangun kesadaran akan pentingnya kelestarian dan kelangsungan hidup keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya.
Dapatkan informasi terbaru dari kami
2023 Yapeka. All rights reserved.